Home Resensi Buku Muqorror Ayat-Ayat Cinta

Muqorror Ayat-Ayat Cinta

425
0
SHARE
muqorror ayat-ayat cinta

Oleh: Resa Amelia Utami *)

Judul Buku : Menuju Kiblat Ilmu; Panduan Studi di Universitas Al-Azhar
Penulis : Cecep Taufikurrohman S.Ag., M.A.
Dimensi Buku : 13 x 19.5 cm, 246 halaman
Penerbit : Institut Penulis, Jakarta Pusat
Tahun Terbit : 2017, Cetakan I
ISBN : 978-602-60730-3-7
Harga Buku : Rp. 75.000,00,- / LE 100,00,-

Al-Azhar telah menjadi primadona sejak berabad-abad lamanya. Pusat keilmuan yang telah melahirkan banyak tokoh-tokoh besar yang berpengaruh di dunia. Hingga saat ini pesonanya tidak pudar, banyak para penuntut ilmu dari penjuru dunia memimpikan untuk melanjutkan studinya di universitas ini.

Minat pelajar asal Indonesia untuk menuntut ilmu di Al-Azhar semakin meningkat setiap tahunnya. Terlebih pasca Habiburrahman El Shirazi menelurkan novel bertajuk “Ayat-Ayat Cinta” yang sangat fenomenal, romantisme yang disajikan dalam buku itu menstimulasi para pelajar untuk turut menjadi bagian dari Al-Azhar.

Hadirnya buku “Menuju Kiblat Ilmu” karya Cecep Taufikurrohman ini, melengkapi novel AAC itu, bahkan menjadi sumbu yang senantiasa menjaga api semangat para pelajar agar terus berkobar melalui proses panjang sampai digelari mahasiswa al-azhar; memandu para calon mahasiswa dalam mengikuti jejak “Fahri” sesuai prosedur yang diberlakukan.

***

Buku ini terdiri dari enam bab dengan sistematika yang rapi dan strategis. Penulis membuka pembahasan dengan Bab “Mengapa Memilih Studi Di Al-Azhar?”. Bab ini mengidentifikasi empat faktor seorang camaba (calon mahasiswa baru) dalam mencari ilmu di Al-azhar. Hanya saja novel atau film AAC tidak termasuk ke dalamnya. Padahal menurut saya, kepopuleran karya sastra itu sedikit banyak menjadi fakor pendorong pelajar Indonesia untuk mengambil peran hidup menuju kiblat ilmu; Al-azhar, Mesir. Faktanya, sebagai camaba 2017 saya merasakan faktor x ini begitu kuat mendorong rihlah ilmiyyah ke Mesir, selain nama Al-Azhar yang memang memiliki konotasi positif karena kekunoan dan keotentikan ilmunya. Akibatnya, banyak camaba yang awam mengenai informasi lengkap seputar Al-Azhar.

Kabar baiknya, penulis melanjutkan fase buku ini dengan bab “Lebih Dekat Dengan Al-Azhar”. Ringkasan periodisasi sejarah Al-azhar dapat dimanfaatkan secara maksimal oleh camaba yang masih awam. Sejak dalam buaian Dinasti Fathimiyyah hingga pendudukan Grand Syaikh oleh Prof. Dr. Ahmad Muhammad el-Thayyeb dijelaskan penulis dengan singkat, padat, dan lugas sehingga tidak membosankan saaat di baca. Saya merasa banyak informasi luar biasa yang baru didapat dari buku ini mengenai hubungan Al-Azhar dengan Indonesia. Salah satunya, fakta mengenai perkuliahan khusus perempuan yang diampu Universitas Al-Azhar, ternyata terinspirasi dari sistem pendidikan yang pernah digagas oleh seorang perempuan Indonesia.

“…Melakukan perjalanan studi ke luar negeri bukanlah hal sederhana sebab memakan waktu lama, menempuh jarak yang sangat jauh, dan memerlukan berbagai persiapan memadai…”-hlm. 64.

Kutipan di atas mewakili tajuk “Tahapan Menjadi Mahasiswa Al-Azhar”. Penulis menekankan bahwa suatu tujuan besar tidak bisa didapat secara instan. Karena sejatinya dalam kehidupan membutuhkan proses dengan tahapan-tahapan yang tidak mudah. Meskipun informasi seputar ini banyak kita dapati di jejaring sosial.

Bab keempat berkisah mengenai “Mahasiswa Indonesia di Al-Azhar”. Presentase yang disajikan penulis cukup lengkap menginformasikan bahwa camaba yang hendak belajar di Mesir khususnya Al-azhar tidak sendiri. Tapi mereka akan mendapati Persatuan Pelajar dan Mahasiswa Indonesia (PPMI) Mesir membentuk miniatur Indonesia dengan julukan Masisir.

“…tangga-tangga kesuksesan hakiki yang diajarkan Al-Quran adalah bagaimana membuat Allah SWT. “jatuh cinta” dan meridhai kita…”

Setelah camaba melalui proses legalisasi untuk tinggal di Mesir dan menjadi pelajar Al-Azhar, perjuangan yang sebenarnya baru dimulai. Perlu disusun strategi agar tercapai kesuksesan studi di Al-azhar. Penulis menitikberatkan pada penguasaan bahasa Arab serta relasi internasional agar dapat menunjang studi di Al-Azhar secara maksimal. Meskipun faktanya tolok ukur sukses seseorang berbeda-beda.

Bagai oase di hamparan sahara, “Sebuah Kisah Perjuangan Untuk Sukses di Al-azhar” menjadi bagian penutup yang hampir sempurna. Terlebih bagi pembaca yang cenderung lebih meminati sastra tinimbang naskah non-fiksi, bagian ini dapat memuaskan saya. Sebab tidak dapat dipungkiri, bacaan serius diperlukan untuk memperluas wawasan, sedangkan sastra perlu untuk mengasah linguistik. Maka buku ini adalah paket lengkap yang dapat dimanfaatkan sebaik mungkin oleh camaba. Bagaimana awal liku perjuangan penulis dalam menempuh program pascasarjana Universitas Al-azhar hingga mendapat gelar “Sibawaih Indonesia” dapat kita cermati di bab terakhir sekaligus terpanjang diantara 5 bab sebelumnya.

* * *

Buku ini dapat merangkul seluruh ranah camaba yang hendak melanjutkan studinya di Universitas Al-azhar. Baik S1,S2 ataupun S3. Karena di dalamnya memuat tutorial mendasar yang pasti dilewati seorang camaba. Meskipun kisah inspiratif yang disajikan buku ini bersal dari pengalaman penulis yang notabene mahasiswa S2 saat itu, tapi teladannya dapat mudah diidentifikasi dan diteladani oleh camaba S1. Begitupun bagi camaba S1 yang terpapar “virus” AAC dan awam mengenai keazharan, buku ini saja sudah cukup menjadi panduan, baik sebelum dinyatakan lulus sebagai camaba atau pun sesudahnya.

Kertas yang digunakan dalam pencetakkan buku ini pun memberi efek positif, seakan-akan pembaca sedang menikmati karya sastra. Sebab buku tutorial serupa lazimnya menggunakan kertas HVS putih yang cenderung membosankan.

Hanya saja, terdapat beberapa ketidaksesuaian diksi dengan EYD (Ejaan Yang Disempurnakan). Diantanya, kata “Talaki” tidak saya temukan dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI). Itu berarti “Talaqqi” belum dibakukan menjadi bahsa serapan. Dan seharusnya ditulis ejaan Arabnya dengan tanda miring.

Beberapa bab dalam buku ini membosankan. Sehingga dari awal membaca sampai akhir, rasa penasan saya sebagai pembaca fluktuatif. Jika pembaca tidak sabar, maka mungkin saja ia akan berhenti di bab yang membosankan itu. Padahal bab setelahnya sangat bagus.

* * *

Alumni Pesantren Persatuan Islam 31 Banjaran Bandung dan sekarang sedang menuntut ilmu di Daarul Lughah Cairo

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.