Home Puisi Papyrus

Papyrus

472
0
SHARE
Kertas Papyrus

Oleh : Fatin Hamama

Di Khan Khalili
aku mencari sebentuk hadiah
sebagai kenangan bahwa aku pernah singgah di kotamu,
Musa

Tapi tidak kutemui selain kerdip lampu Mesjid Husein

yang menandai hari berangkat malam,
bau syisya merebak diantara ahwaji di pinggir jalan
besok lusa aku meninggalkan tepian tempatmu berlabuh di pangkuan Ramsis 

Bayang-bayang itu masih lekat dalam ingatan
setelah aku menyaksikan fragmen masa lalumu di Ragab Pharaoh Nil
kemaren sore diantara jazirah dari perahu yang membelah sungai Nil
dan bungkusan mummi yang membuat aku mual setelah bertandang di museum Tahrir.

Aku inginkan sebentuk kenangan
bukan sekeping nostalgia diantara imarah berdebu dari ringkikan keledai
dan kereta barang yang bergerak membelah kota bersama mobil yang berpacu membelah jalan.
Bukan,
bukan pula wajah masam madam sabah yang menagih kontrakan sya’ah
setiap habis bulan.

Aku inginkan kenangan yang manis
semanis anggur banati atau anggur rubbi mandanillu ataupun asab
di pinggir hadikah dauliyah, tempatku biasa minum
atau seperti rasa bar’uq sukkari yang senantiasa kusuka meski asam ada manis-manisnya.

Tapi apakah lagi kenangan itu
di benteng Shalahudin al Ayubi, ketika musim panas tiba aku lihat penjaja hummus.
di puncak muqattam pun aku temui, terasa waktu dalam kurun yang purba
dengan jagung bakar di tangan lebih membuat aku tertarik menikmati matahari tenggelam bersama hamparan pasir di lembah kota

suara deram turummoi membawaku sampai ke sayyidah zeinab, mesjid tua itu
senantiasa membuat aku ingin singgah setiap saat.
Keinginan yang tidak pernah kesampaian

menuju Manial melewati Imbaba, selokan air yang menggantung tinggi membatasi penglihatan dari sedikit kuburan penduduk yang tertutupi tengah kota, mengalah pada bangunan baru funduq penampung turis berbintang lima sepanjang cornice.

Kahirah yang usang di waktu siang berubah jelita di waktu malam,
bertabur lampu mercuri dan gemerlap bintang-bintang malam.

Kusinggahi Uyun Musa di tepi laut merah dan terusan Suez
airnya membuat aku menggigil dan gemetar
sementara tanpa pepohonan matahari bebas memanggang kulitku
dan hembusan angin yang liar sepanjang jalan ke Fayyum
ketika kudatangi tunggul ketamakan Qarun di danaunya
serasa kudengar gemerincing kunci gudang hartanya
dihela beberapa kuda.

Apalagikah kenangan itu
lorong kecil di dalam pyramid dengan sedikit oksigen
membuat aku sesak hanya unutk melihat tempat peristirahatan para Firaun
kenapa begitu jauh kau gali tanah untuk menaruh sekerat ragamu
apa karena kau ingin keangkuhanmu abadi
dan dikenang sepanjang zaman.

Katakan padaku,
apa yang dapat kubawa pulang selain kenangan silam dari kota tua,
kota seribu menara ini.

Lonceng dan adzan bergema bergantian kadang bersamaan
penggembala domba bebas memasuki jalan
berjalan bergerombolan pergi pagi hari dan pulang jika matahari terbenam ke sebelah sahara.
Jauh dari penglihatan pasha-pasha yang butuh air susunya.

Alir-alir Nil di sela-sela kota
tepian yang menyimpan bunga air dan rumput-rumput
papyrus yang merebak tanpa kata
kupikir, biar kukemas saja
pada satu catatan di kertas lama
seperti pada purbanya ingatan
yang terlukis pada zaman yang kau lalui,
Musa.

 

Cairo, 1995

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.