Home Puisi Blow On

Blow On

328
0
SHARE

Anwar Musthofa Shiddiq *)

Saya bukan orang Prabowo,
saya juga bukan penyuka Joko Widodo
hanya saja saya merasa
komentar dan kata-kata anda semakin sembrono

Menulis status itu wajar
berpendapat juga, melatih nalar
hanya saja terkadang kita lupa
bahwa kata gambaran isi kepala

biarkan politisi berperang kata
toh di tivi; depan meja mereka berjama’ah tertawa
menyaksikan jelata berbeda pendapat
saling caci-maki dan saling umpat

Katanya, kita cinta bhineka
kenapa tak suka beraneka
apa semua mesti sama
dengan isi kepala anda?

tentang fiksi itu sebatas kata,
kenapa mesti ditanya-tanya
kalau memang kita jenius
tinggal buka sendiri di dalam kamus

dulu, anda membela penista agama
dengan dalih toleran dan bhineka
sementara ayat suci dibiarkan
hanya demi otak dan pemikiran

katanya kita intelek
tetapi mengapa berwatak jelek
katanya kita bukan pendendam,
kenapa nista kepada sesama tetap dipendam

Rasul (Shallalahu ‘Alaihi Wasalam) membela musuh
tetapi saudara seiman dijaga utuh
buat apa menjaga toleransi
kalau seakidah saja dikhianati

Membela kafir “Dzimmi” itu dianjurkan,
tetapi sesama muslim diutamakan
betapa jahat membela penghina adzan
Kalau bukan temannya setan

terkadang kita bisa idealis
tetapi tidak berarti sinis
bila kesombongan maksimalis
artinya intelektual dan iman minimalis

apakah tak sebaiknya kita tepekur
supaya kata, karya dan karsa teratur
supaya kerja menjadi terukur
sebelum jasad ditelan kubur

*) Alumni Universitas Al-Azhar Mesir, pengasuh Rumah Singgah Al Qur’an Nuzhatul Muttaqin dan kepala sekolah MI Banjar 2.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.