Home Opini Pergantian Tahun dan Perenungan Makna Umur

Pergantian Tahun dan Perenungan Makna Umur

800
0
SHARE

Oleh: Parid Ridwanuddin

Mari kita lupakan sejenak hiruk pikuk, kemeriahan, kemacetan di seputar perayaan momentum pergantian tahun, atau yang sering disebut oleh banyak orang sebagai tahun baru. Energi yang ada sebaiknya digunakan untuk melakukan evaluasi terhadap berbagai kekeliruan yang pernah dilakukan di masa lalu. Hal ini perlu, supaya kekeliruan itu tidak terulang untuk yang ke sekian kalinya pada masa yang akan datang.

Berbanding lurus dengan hal itu, energi yang kita miliki juga sebaiknya digunakan untuk melakukan hal-hal yang positif-produktif supaya pada tahun-tahun mendatang berbagai prestasi yang telah dicapai dapat dipertahankan bahkan ditingkatkan dengan lebih baik. Selain dari dua hal tersebut di atas, yang tidak kalah penting harus kita lakukan pada momentum pergantian tahun ini adalah melakukan perenungan kembali makna waktu dan makna umur serta relasinya dengan kehidupan manusia.

Kamus Besar Bahasa Indonesia mendefiniskan waktu sebagai “seluruh rangkaian saat yang telah berlalu, sekarang, maupun yang akan datang.” Dalam al-Qur’an, kata waktu (Arab: waqt) disebutkan sebanyak tiga kali. Hanya saja konteks penggunaan dan makna yang dikandungnya tidak sama dengan apa yang dikemukakan dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia. Kata tersebut digunakan dalam konteks pembicaraan tentang masa akhir hidup di dunia ini (silahkan renungkan surat al-A’râf [7] : 187, al-Hijr [15]: 38, dan Shâd [38] : 81).

Berdasarkan ayat-ayat tersebut, dan setelah ditelusuri bentuk lain yang berakar pada kata waqt, para mufasir akhirnya menyimpulkan bahwa waktu (waqt) adalah batas akhir dari masa yang seharusnya digunakan untuk bekerja. Demikian penjelasan sang begawan tafsir Indonesia, Muhammad Quraish Shihab.

Salah satu karakter waktu yang paling fundamental adalah berganti dan bergerak. Dalam pandangan Islam, gerak pergantian waktu merupakan Sunnatullah yang tidak bisa diubah. Bahkan dengan menggunakan berbagai perangkat teknologi yang paling canggih saat ini pun manusia tetap takkan  mampu menghalanginya. Al-Qur’an banyak menyinggung masalah pergantian waktu dan hubungannya dengan keberadaan manusia. Hal ini bertujuan untuk menyadarkan bahwa kita tidak pernah lepas dari kekuasaan Allah.

Renungkan ungkapan al-Qur’an berikut; “Perhatikanlan bulan dan malam apabila telah berlalu. Dan perhatikan pula pagi (subuh) apabila telah terang benderang. Sesungguhnya hal itu adalah peristiwa yang sangat besar. Ia adalah peringatan bagi manusia. Yaitu bagi siapa saja yang memiliki kehendak maju atau mundur. Setiap manusia bertanggungjawab terhadap apa yang diperbuatnya.” (QS. Al-Mudatstsir [74] : 32-38)

Rangkaian ayat di atas mengisyaratkan beberapa hal penting; pertama, manusia diminta untuk merenungkan dan memperhatikan setiap pergantian waktu. Tidak hanya pergantian tahun, pergantian bulan dan hari pun harus harus direnungkan dengan sangat mendalam oleh manusia; Kedua, waktu memiliki hubungan yang sangat erat dengan keberadaan manusia di alam ini. Salah satu bukti eratnya hubungan itu dapat kita lihat pada eksistensi umur manusia. Umur sesungguhnya merupakan kumpulan waktu yang ada dalam diri manusia.

Konsep Umur

Adanya umur adalah konsekuensi logis dari adanya waktu. Jika waktu terus bergerak, maka umur manusia pun ikut bertambah. Sebaliknya, jika waktu berhenti, maka umur manusia pun akan ikut berhenti. Kata umur (dalam bahasa Arab ditulis ‘umur) berasal dari kata kerja ‘amara (dengan menggunakan huruf ‘Ain pada awal katanya) yang berarti memakmurkan, meramaikan, atau mengisi sesuatu. Dalam al-Qur’an, kata ini dalam bentuk tunggalnya disebut sebanyak empat kali. Pada hakikatnya umur adalah rentang waktu yang dimiliki oleh manusia untuk melaksanakan tugas dan tanggungjawabnya di dunia ini. Dalam rentang waktu itulah seluruh manusia diharuskan untuk melakukan banyak kebaikan dan bergerak menuju sebuah titik yang disebut dengan kebahagiaan.

Dalam konteks demikian,  al-Qur’an mengingatkan kita bahwa: “Sesungguhnya manusia tidak akan mendapatkan apa-apa kecuali apa yang telah ia kerjakan. Dan sesungguhnya hasil kerjanya itu akan diperlihatkan kepadanya. Kemudian manusia akan diberi balasan yang sempurna sesuai dengan pekerjaannya. Sesungguhnya hanya kepada Allah lah segala sesuatu dikembalikan.” (QS. Al-Najm [53] : 39-42)

Berkaitan dengan hal ini, ada sebuah dialog yang sangat menarik yang terjadi antara seorang kakek dengan seorang penguasa dari dinasti Bani Abbasiyah. Petikan dialog itu adalah sebagai berikut: “Berapa umur kakek sekarang?” Tanya sang penguasa. “Sepuluh tahun,” jawab sang kakek. “jangan berolok-olok!,” sergah sang penguasa. “Benar tuan, umurku baru sepuluh tahun. Enam puluh tahun dari umurku kuhabiskan dalam dosa dan pelanggaran. Baru sepuluh tahun terakhir ini aku mengisi hidupku dengan hal-hal yang bermanfaat dan memakmurkannya,” jawab kakek itu. Penjelasan sang kakek itu sungguh tepat dan sejalan dengan hakikat pertanyaan sang penguasa, karena kata umur (‘umur) diambil dari kata yang sama dengan kata makmur (ma’mûr), sehingga keduanya harus menggambarkan kemakmuran serta kebahagiaan jasmani dan ruhani.

Dari sini terlihat jelas bahwa aktifitas manusia mempunyai hubungan erat dengan umurnya. Umur Nabi Muhammad di antara ciptaan Allah yang menakjubkan, yang dijadikan objek sumpah dalam al-Qur’an adalah umur Nabi Muhammad Saw. Dalam surat al-Hijr [15] : 72, Allah menyatakan; “Demi umurmu wahai Muhammad, sesungguhnya mereka berada dalam kesesatan.” Mengapa umur manusia agung itu dijadikan objek sumpah dalam al-Qur’an?

Dalam buku Jalan Rahmat disebutkan dua penjelasan sebagai berikut: pertama, umur Nabi adalah umur yang pendek, hanya 63 tahun. Tetapi dalam umur yang singkat itu beliau senantiasa mengisinya dengan berbagai macam kebaikan dan amal saleh; Kedua, dalam umur yang singkat itu beliau berhasil melakukan perubahan dan mengguncang dunia. Sepeninggal Nabi, umat Islam dalam kurun waktu yang tidak lebih dari usia beliau mampu menguasai lebih dari setengah dunia. Umur Nabi Muhammad Saw. adalah umur yang berkah. Oleh karena itu, seluruh umat manusia –apalagi umat Islam- diperintahkan untuk meneladani beliau dalam hal bagaimana seharusnya umur itu digunakan dengan penuh kebaikan.

Karena Nabi berhasil melakukan berbagai kebaikan dan perubahan dalam umurnya yang singkat itu (63 tahun), beliau dinilai oleh banyak ahli dari berbagai disiplin ilmu dan dengan beraneka macam tolak ukur sebagai manusia terbesar sepanjang sejarah kemanusiaan. Thomas Carlyle (sejarawan asal Skotlandia yang beragama Kristen Kalvinis) dalam On Heroes, Hero Worship, and the Heroic History, dengan menggunakan tolak ukur “kepahlawanan”, Marcus Dods (teolog Kristen yang pernah menjabat menteri di Skotlandia) dalam Muhammad, Budha and Christ dengan “keberanian Moral”, Nazmi Luke (pendeta berkebangsaan Mesir) dalam Muhammad Ar-Rasul wa Ar-Risalah dengan “Metode Pembuktian Ajaran”, Will Durant (filosof dan sejarawan berkebangsaan Amerika) dalam The Story of Civilization in the World dengan “Hasil Karya”, dan Michael H Hart (seorang ahli astrofisika dan penulis sejarah berkebangsaan Amerika) dalam Seratus Tokoh Paling Berpengaruh Dunia dengan “Pengaruh yang ditinggalkannnya”. Semua ahli yang non Muslim ini –dan masih banyak lagi yang lainnya walaupun dengan tolak ukur yang berbeda-beda – berkesimpulan bahwa Nabi Muhammad adalah manusia luar biasa yang pernah hadir dalam sejarah manusia.

Dengan demikian, tidak ada lagi alasan untuk “membuang-buang” umur yang telah dianugrahkan Allah ini dengan cara menunda-nunda kebaikan. Dalam sebuah hadits yang cukup populer, Nabi Muhammad Saw., yang agung pernah mengingatkan supaya manusia memperhatikan lima perkara, dengan cara melakukan kebaikan di dalamnya, sebelum datangnya lima perkara yang lain, yaitu : “hidup sebelum datangnya kematian, waktu luang sebelum datangnya waktu sibuk, waktu sehat sebelum datangnya sakit, saat memiliki kecukupan sebelum datangnya saat yang penuh dengan kekurangan, dan waktu muda sebelum datangnya masa tua.”

Kembali kepada persoalan pergantian tahun. Momentum yang baik ini janganlah kita lalui hanya dengan menghabiskan waktu dan menghamburkan uang di tempat-tempat wisata atau di pusat-pusat perbelanjaan dan keramaian saja. Manusia yang bijak dan berpikiran sehat akan menjadikan momen ini untuk melakukan evaluasi terhadap berbagai pencapaian kebaikan sekaligus terhadap aneka kekeliruan yang pernah dilakukannya. Pertanyaan-pertanyaan eksistensial seperti “Dari mana kita”, “ Untuk apa kita berada di dunia ini”, dan “Akan ke mana setelah ini kita menuju” harus dijadikan kesadaran yang paling mendasar dalam mengarungi samudra waktu ini.

Islam menyatakan bahwa manusia itu berasal dari Allah dan akan kembali kepada-Nya (Inna Lillâhi Wa Inna Ilaihi Râji’ûn). Imam al-Ghazali pernah menyatakan bahwa ada sesuatu yang paling jauh dan paling dekat dengan manusia. Hal yang paling jauh adalah waktu yang telah berlalu karena ia tidak akan pernah kembali, sementara hal yang paling dekat dengan manusia adalah kematian karena ia bisa datang secara tiba-tiba, kapan saja dan di mana saja. Terkait dengan kesadaran me-waktu yang bersifat eksistensial ini, para sufi dan filosof muslim, yang merupakan para penekun kebijaksanaan itu, mengatakan bahwa “akhir dari segala siklus adalah kembalinya ke permulaan.” Apabila waktu kehidupan sudah sampai pada ujungnya, itu artinya kita kembali ke awal, kembali kepada Allah. Wallâhu A’lam bish Shawâb.

 

*Penulis adalah Dosen Program Studi Falsafah dan Agama Universitas Paramadina

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

19 − 10 =

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.