Home Opini Lapar di Sekitar Kita

Lapar di Sekitar Kita

336
0
SHARE

Oleh : Syamsu Alam Darwis, Pemerhati Sosial Keagamaan

Wasathiyyah.com — LAPAR adalah perasaan dan keinginan untuk makan, kelanjutannya berarti kelemahan dan rasa sakit di tubuh yang membuat seseorang berhenti bergerak. Sudah menjadi naluri dan kodrat kemanusiaan, penuh harap agar persoalan lapar ini tidak datang menghampiri dapur rumah kita, semua menghendaki perut kenyang, kebutuhan primer terpenuhi, anak istri terbebas dari lapar.

Akibat pandemi Covid-19, berdampak pada hilangnya pendapatan di berbagai sektor, baik itu yang berkecimpung di sektor pariwisata, moda transportasi, restoran, terhentinya remittance, kiriman keluarga dan anak yang bekerja di perantauan, hilangnya pendapatan dari bisnis properti dan proyek pengembangan, serta beberapa bisnis sektor offline.

Badan Pangan Dunia (WFP) menyatakan bencana non alam ini dapat mengakibatkan sekitar 135 juta orang mengalami kelaparan akut di tahun 2020 ini. WFP memperingatkan jumlah orang yang menghadapi kerawanan pangan akut dapat meningkat dua kali lipat tahun ini hingga menyentuh angka 265 juta akibat Covid-19 yang berdampak pada krisis ekonomi.

Di Indonesia, sejak 2020, angka kemiskinan terus naik imbas dari adanya Pandemi Covid-19. Sebanyak 1,1 juta orang berpotensi menjadi miskin, bahkan, angka itu bisa naik diatas 3,78 juta orang jika kondisi kian memburuk. Miskin Lama belum terpenuhi hajat kebutuhannya, Miskin Baru telah datang bergelombang, deras dan bertubi-tubi.

Kerawanan pangan akut tampaknya akan berlabuh di berbagai daerah di Nusantara, dan hal ini mengancam ketahanan pangan kita, selain masalah sosial-ekonomi, kini tindakan PHK merebak di berbagai sektor perdagangan umum, terjadinya gelombang pengangguran, belasan juta pelaku usaha informal bangkrut kehilangan konsumen, lilitan hutang mengiringi ribuan perusahaan yang gulung tikar,  juga berkurangnya lahan pertanian memberi kontribusi pada penurunan produksi. Hal ini perlu menjadi perhatian bersama.

Persoalan Lapar dan sifat kelaparan ini sudah dibahas dalam kisah Adam AS dan sang Istrinya, Hawa AS dalam Al Quran. Tuhan Sang Pencipta telah menunjukkan kepada Nabi Adam AS, jika dia mengikuti aturannya dan tidak makan dari pohon terlarang, maka dia tidak akan kelaparan dan juga tidak akan menderita sesuai firman Allah SWT, “Sungguh telah ada jaminan dari Allah bagimu di dalam Surga ini, engkau tidak akan kelaparan, dan Dia memberimu pakaian sehingga engkau tidak akan telanjang,” (QS: Thaha: 118).

Allah SWT juga menyebut dengan jelas tentang jaminan Allah SWT bagi suku Quraisy, yang diabadikan dalam al Quran ; “Dialah Tuhan yang memberi mereka penghidupan, menyelamatkan mereka dari kelaparan, dan mengamankan mereka dari ketakuta.,” (QS: Quraisy ayat 4).

Qatadah bin Di’amah, Ulama tabiin (lahir 60H) Mufassir di zamannya, menyatakan, perjalanan yang dilakukan Kabilah Quraisy adalah nikmat yang Allah berikan, mereka mampu melakukan perjalanan jauh dengan nyaman dan tidak merasa berat. Bahkan ketika kelaparan, Allah menyediakan hidangan makanan yang lezat.

Islam memandang kelaparan, salah satu dari buah kemiskinan menjadi problem yang harus secara bersama kita tuntaskan. “Maka hendaklah manusia itu memperhatikan makanannya.” (QS. ‘Abasa : 24). Allah SWT telah memerintahkan kita, disini termasuk pemerintah, para cendekia, para pengambil kebijakan baik pusat maupun di daerah untuk memikirkan nasib kaumnya, nasib bangsanya, nasib tentang apa yang akan dimakan oleh rakyat esok pagi, lusa, bulan depan dan tahun depan.

Keberadaan satu manusia dengan lainnya sebagai makhluk sosial, sejatinya dapat saling mendukung, saling menutupi celah kekurangan, menghilangkan rasa lapar, saling menjaga suplai makanan,  demi keberlanjutan hidup bersama. Islam berpendapat bahwa kelaparan bukan sepenuhnya disebabkan oleh kelangkaan sumber daya produksi, melainkan adanya ketamakan nafsu manusia itu sendiri. Dan Allah Yang Mahakuasa berfirman: “Allah-lah yang telah menciptakan langit dan bumi dan menurunkan air hujan dari langit, kemudian Dia mengeluarkan dengan air hujan itu berbagai buah-buahan menjadi rezeki untukmu; dan Dia telah menundukkan bahtera bagimu supaya bahtera itu, berlayar di lautan dengan kehendak-Nya, dan Dia telah menundukkan (pula) bagimu sungai-sungai,” (QS. Ibrahim :32).

Wahbah Az Zuhaili, dalam Tafsir Al Wajiznya menjelaskan hamparan rezeki Allah berikan agar sesama manusia dapat memanfaatkannya dengan sebaik-baiknya, melakukan perniagaan dengan cara-cara yang makruf, “Dan Dia telah menundukkan (pula) bagimu sungai-sungai”, untuk mengairi sawah pertanian, perkebunan dan sawah ladang, memakmurkan bumi.

Islam memandang harta yang kita miliki adalah titipan, bukan sepenuhnya milik kita. Allah SWT  membagi-bagi rezeki diantara para hamba-Nya agar tegak maslahat dan kepentingan bersama. Bila semua hamba-Nya kaya, tentu banyak di antara mereka yang akan bertindak melampaui batas, sebaliknya bila semua hamba-Nya dijadikan miskin, akan banyak urusan yang terbengkalai, karena banyak urusan kebangsaan yang memerlukan harta dalam jumlah yang banyak. Sebagaimana firman Allah SWT “Apakah mereka yang membagi-bagi rahmat Tuhanmu? Kami telah menentukan antara mereka penghidupan mereka dalam kehidupan dunia, dan Kami telah meninggikan sebahagian mereka atas sebagian yang lain beberapa derajat, agar sebagian mereka dapat memanfa’atkan sebagian yang lain. Dan rahmat Tuhanmu lebih baik dari apa yang mereka kumpulkan” (QS. Az-Zukhruf:32).

Kehadiran orang miskin adalah ujian sekaligus rahmat bagi orang kaya, si kaya mendermakan sebagian harta kekayaannya sebagai wujud syukur kepda Sang Khalik, si miskin senantiasa berlaku sabar atas ujian kehidupan ini sembari tetap berusaha memuliakan dan menjaga kehormatannya. Syaikh Sudani Abdul Baqi Al-Mukasyifi, seorang Waliyullah dalam khutbahnya beliau menasehati,“Satu suapan di perut seorang yang kelaparan itu lebih baik daripada membangun 1000 masjid jami”. Memberi suapan bagi yang lapar, menguatkan jiwa raganya, pemberi mulia di sisi Langit.

Dalam pengajian Gus Baha’, saat membaca Kitab Al-Hikam, karya Ibnu Atha’illah As-Sakandari halaman 60-64, disebutkan, “Tidak akan subur cabang-cabang kehinaan, kecuali karena adanya bibit ketamakan”. Apa itu?” “Jika ingin duniamu tidak habis, sedekahkan.” Hartamu itu hanya tiga; yang kamu makan jadi tinja, yang engkau belikan pakaian jadi usang dan rusak, dan yang engkau sedekahkan jadi abadi.

Hal ini dipertegas lagi oleh Badiuzzaman Said Nursi, Ulama Terkemuka Turki, Zakat merupakan pintu keberkahan bagi setiap manusia serta cara untuk menangkal bala dan musibah. Ia adalah pilar penting dalam membangun kehidupan yang bahagia dan sejahtera bagi umat manusia. (Misteri Puasa, Hemat & Syukur h. 47).

Semoga hari-hari ke depan kita makin tergerak lagi mengulurkan tangan dan pikiran membantu sesama, Ramadhan bulan latihan ‘jiwa-raga’ untuk mengarungi sebelas bulan ke depan, agar angka kemiskinan di negeri kita bisa semakin menurun, orang-orang lapar di sekitar kita terpenuhi hajat hidupnya. Saat bencana dan cobaan datang perbanyaknya harapan-harapan hidup (roja’), bangun optimisme dengan usaha dan kerja keras. Saat limpahan nikmat menggapai langit-langit rumahmu, perkuat rasa kehati-hatian (khauf), agar waspada dan tidak lupa diri. (WST/YNF)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

three × three =

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.