Home Opini Krisis Iklim, Apa yang Harus Dilakukan Umat Islam Indonesia? (2)

Krisis Iklim, Apa yang Harus Dilakukan Umat Islam Indonesia? (2)

518
0
SHARE

Kedua, pada 27-29 September 2010, diselenggarakan satu konferensi internasional di Kota Amman, Jordania yang membahas mengenai Islam dan krisis ekologi. Dalam kesempatan ini sejumlah ulama dan intelektual muslim internasional, seperti Hasan Hanafi, Yusuf Qardhawi, Wahbah Zuhaili, hadir dan menyampaikan pandangan serta tawaran solusi untuk mengatasi berbagai bentuk krisis ekologi di dunia berdasarkan prinsip-prinsip Islam. Secara umum, para ulama mengajak umat Islam untuk melihat krisis ekologis sebagai persoalan peradaban dan menghidupkan pandangan ekologis dalam memahami ajaran-ajaran agama.

Ketiga, pada 17-18 agustus 2015, tokoh Islam dari berbagai negara berkumpul di Istanbul, Turki untuk mendeklarasikan Islamic Declaration on Global Climate Change. Deklarasi ini menyerukan seluruh umat Islam di Dunia untuk memainkan peran mereka di bidang masing-masing dan mengikuti tauladan Nabi Muhammad Saw. guna menghasilkan suatu pemecahan bagi tantangan-tantangan yang ditimbulkan oleh krisis iklim. Selain itu, deklarasi tersebut menyeru semua pihak untuk bergabung dan berkolaborasi, bekerja sama, dalam gerakan ini serta menyambut baik sumbangsih-sumbangsih penting dari kelompok-kelompok keagamaan lain dalam rangka mengatasi dampak buruk krisis iklim.

Berkaca kepada tiga pertemuan tersebut, para ulama dan pemikir Islam dalam konteks global telah melakukan konsolidasi serius dan memberikan pesan umat Islam di Indonesia untuk melakuan gerakan aktif penyelamatan lingkungan dan menjadi bagian penting dalam mengantisipasi dampak buruk krisis iklim. Ada sejumlah langkah strategis yang dapat dilakukan oleh Umat Islam di Indonesia, yang penulis tawarkan sebagai berikut:

Pertama, mengembangkan tafsir ekologis terhadap ajaran Islam. Yang dimaksud dengan “tafsir” dalam diskusi ini bukanlah disiplin ilmu tafsir al-Qur’an yang memiliki syarat-syarat yang ketat sebagaimana disepakati oleh para ilmuwan tafsir. Maksud tafsir disini adalah pemahaman dan penghayatan seorang individu muslim terhadap ajaran Islam. Dengan demikian, umat Islam di Indonesia sudah waktunya mengembangkan tafsir yang berwawasan lingkungan dalam memahami dan menghayati bangunan ajaran Islam.

Di dalam al-Qur’an, misalnya, banyak ditemukan ayat-ayat yang sangat jelas merujuk pada fakta-fakta keseimbangan ekologis seperti ayat-ayat tentang gunung, ayat-ayat tentang air, ayat-ayat tentang pohon, ayat-ayat tentang hewan, dan lain sebagainya. Yang lebih jauh mendasar adalah merenungkan keberadaan manusia. Al-Qur’an banyak menyebut asal-usul kejadian manusia yang berasal dari saripati tanah yang diciptakan oleh Allah Swt.

Dengan demikian, pada dasarnya manusia itu sesunguhnya adalah makhluk ekologis (homo ecologicus) setelah makhluk spiritual (spiritual being). Begitu juga dengan hadits, tak sedikit perkataan, perbuatan dan taqrir Nabi Muhammad Saw., yang mengandung pesan ekologis yang sangat kuat. Salah satu contoh yang paling nyata adalah perkataan Nabi yang maknanya sebagai berikut: “Seandainya jika esok hari kiamat akan terjadi, dan kita masih bisa menanam, maka menanamlah.” Pesan Nabi ini mengandung muatan ekologis yang sangat dalam. Menanam pohon harus dilakukan meski dalam keadaan darurat. Mafhum mukhalafah-nya, menanam adalah sebuah keharusan apalagi dalam keadaan tidak darurat.

Dalam hadits lain, saat berada dalam kondisi peperangan, Nabi Muhammad Saw., melarang seorang muslim untuk menebang pohon tanpa kecuali. Nabi juga melarang membunuh binatang tanpa alasan yang jelas. Larangan ini juga berlaku pada kondisi damai atau bukan dalam kondisi berperang. Pesan-pesan ini menjelaskan betapa Islam sangat memperhatikan keberlanjutan lingkungan dan keadilan ekologis jauh sebelum Eropa mengenal wawasan lingkungan hidup dan pandangan hak asasi binatang atau hak asasi alam.

Lebih jauh, umat Islam harus memiliki kemauan untuk menggali khazanah keilmuan yang telah ditulis oleh para ulama mengenai isu ini. Diantara yang patut disebut dalam konteks ini adalah Badiuzzaman Said Nursi (1877-1960 M), seorang ulama dan pejuang asal Turki yang telah menulis karya agungnya, Risalah al-Nur. Di dalam Risalah al-Nur, Said Nursi banyak mengelaborasi isu-isu ekologis yang sangat penting di penghujung abad ke-19 dan permulaan abad ke-20 Masehi. Persoalan ini telah diulas secara detail dalam riset master Penulis mengenai gagasan ekoteologi atau teologi lingkungan dalam gagasan Badiuzzaman Said Nursi.

Selain Said Nursi, Seyyed Hossein Nasr, juru bicara tasawuf dan filsafat Islam yang pernah mendalami ilmu fisika, penting disebut. Nasr menulis banyak karya penting tentang Agama dan Lingkungan Hidup, diantaranya adalah Man and Nature, Religion and the Order of Nature, dan Islam and the Plight of Modern Man. Di dalam tiga buku penting tersebut, Nasr mengelaborasi krisis ekologis global dan menelusuri akarnya, yaitu paradigma barat modern yang menafikan kesadaran spiritualitas manusia.

Kedua, mengembangkan kurikulum ekologis dalam pendidikan. Almarhum Fazlur Rahman, seorang pemikir muslim berdarah Pakistan yang menjadi guru besar Studi Islam di Universitas Chicago, menyatakan bahwa gagasan pembaharuan Islam harus dimulai dan diimplementasikan dalam pendidikan. Gagasan almarhum Fazlur Rahman itu relevan dalam diskusi ini. Edukasi tentang agama dan keadilan iklim atau keadilan ekologis serta keberlanjutan lingkungan harus dilembagakan dalam institusi pendidikan. Belakangan, telah banyak lahir pesantren yang mengajarkan ilmu-ilmu agama sekaligus dengan menanamkan wawasan serta praktik keberlanjutan lingkungan hidup. Sejumlah pesantren yang dapat disebut disini adalah Pesantren Nurul Haramain di Lombok Barat, NTB; Pesantren Ath-Thoriq di Garut, Jawa Barat; Pesantren al-Ittifaq di Bandung, Jawa Barat, dan lain sebagainya.

Pendidikan agama yang dibarengi dengan penanaman nilai-nilai ekologis menjadi penting dan relevan dengan kondisi sekarang dimana krisis iklim yang diakibatkan oleh krisis ekologis menjadi persoalan terbesar manusia modern. Krisis ini lahir karena manusia modern menjauhi agama, memusuhi spiritualitas dan melihat segala sesuatu secara instrumental. Pesantren-pesantren yang disebutkan di atas penting dicontoh dan dipelajari oleh lembaga pendidikan agama atau pendidikan umum, yang ingin mempelajari dan mengembangkan kurikulum, wawasan serta praktik-praktik keberlanjutan lingkungan dalam dunia pendidikan.

Ketiga, melakukan konsolidasi guna melawan berbagai bentuk ekstraksi dan ekploitasi sumber daya alam. Umat Islam di Indonesia sesungguhnya memiliki potensi yang luar biasa. Potensi itu bisa dilihat dalam jumlah umat Islam yang merupakan mayoritas di negeri ini. Namun, sangat disayangkan, jumlah ini masih belum memberikan dampak positif bagi pengembangan praktik-praktik keadilan iklim, keadilan ekologis, dan keberlanjutan lingkungan. Salah satu persoalan serius saat ini adalah krisis ekologis yang ditandai dengan tingkat deforestasi yang sangat massif dan eksesif, pencemaran sungai dan laut, serta krisis air. Hal ini mestinya mendorong umat Islam terlibat aktif dalam rangka melakukan aksi-aksi penyelamatan bumi.

Selain itu, kerusakan lingkungan yang terjadi juga diakibatkan oleh ekstraksi sumber daya alam yang dilakukan oleh berbagai korporasi atau perusahaan yang tidak bertanggungjawab. Persoalan ini seharusnya mendorong umat Islam memiliki kesadaran untuk melakukan konsolidasi guna melakukan perlawanan terhadap berbagai bentuk eksploitasi yang menghancurkan alam. Konsolidasi dan perlawanan ini harus diletakkan dalam rangka mengaktualisasi spirit “al-amru bil ma’ruf wa nahyu ‘anil munkar”.

Penutup

Di atas semua itu, berbagai organisasi massa seperti Muhammadiyyah, Persatuan Islam, Nahdatul Ulama, dll., sebenarnya memiliki kepedulian terhadap persoalan agama dan lingkungan hidup dan perubahan iklim. Ormas-ormas Islam ini mempunyai karya-karya yang sangat layak dipelajari oleh umat Islam di Indonesia. Muhammadiyah, misalnya, telah menerbitkan dua buku penting mengenai tema ini, yaitu: Teologi Lingkungan dan Fikih Air. Mantan Ketua Persatuan Islam, juga telah menerbitkan sejumlah publikasi mengenai isu ini, diantaranya adalah Islam dan Lingkungan Hidup.

Tak lupa, Majelis Ulama Indonesia telah mengeluarkan fatwa terkait dengan lingkungan, yaitu:  Fatwa MUI No. 22/2011 tentang Pertambangan Ramah Lingkungan; Fatwa MUI No. 47/2014 tentang Pengelolaan Sampah untuk Pencegahan Kerusakan Lingkungan; Fatwa No. 4/2014 tentang Pelestarian Satwa Langka untuk Keseimbangan Ekosistem. Ketiga fatwa ini tak banyak diketahui dan dipahami oleh umat Islam di Indonesia. Fatwa-fatwa ini layak untuk dibahas dalam berbagai forum keagamaan, seperti khutbah jumat dan forum-forum lainnya.

Dalam menghadapi krisis iklim yang semakin parah, pendekatan-pendekatan legal seperti pendekatan hukum dan pendekatan policy saja tidak cukup untuk mendorong perubahan dan keteribatan masyarakat lebih luas. Di sinilah peran dan posisi agama menjadi relevan untuk didorong masuk menjadi bagian penting dari solusi penyelesaian krisis iklim dan krisis ekologis.

Agama memiliki sejumlah modal penting, diantaranya: memiliki ajaran, memiliki jumlah pengikut, adanya institusi keagamaan. Jika ketiga modal ini didorong untuk menjadi solusi, maka persoalan krisis iklim dan krisis ekologis dapat diselesaikan secara gradual dan bertahap pada masa yang akan datang.  Lebih jauh, umat Islam harus membuktikan dirinya dalam sejarah sebagai aktor penting penyelamat bumi. Dengan demikian, gelar khairu ummah layak disematkan.[]

 

*Penulis adalah dosen pada program studi Falsafah dan Agama Universitas Paramadina serta aktivis lingkungan pada lembaga non pemerintah: Koalisi Rakyat untuk Keadilan Perikanan (KIARA)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

14 + ten =

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.