Home Opini Puasa, Puisi dan Ruang Batin

Puasa, Puisi dan Ruang Batin

398
0
SHARE

Oleh: Aguk Irawan MN*

“Agama dimulai dari momen puitik, Budha di bawah sebatang pohon di Bodh Gaya, Musa di puncak Sinai, Muhammad di Gua Hira. Karena itu, menulis puisi itu situasi terpuncak dalam momen penghayatan atau pengalaman bagi seorang yang beragama. Jadi tak cukup, hanya sepasang mata penyair saja yang jatuh cinta pada kertas, tapi juga jiwanya. Ya, jiwa penyair harus jatuh cinta kepada Tuhan.” Demikian ungkap penyair senior KH. D Zawawi Imron, ketika memberi tausyiyah budaya, dalam rangka menyongsong Ramadhan di gubuk baca Baitul Kilmah, 22 Mei 2017 malam, yang lalu.

Lebih dari itu, penyair Celurit Emas itu menambahkan, “Ketika kita sedang berpuasa, tidak saja ruang batin kita yang dipuisikan, tetapi lambung kita dipuisikan, nafas kita dipuisikan, mata kita dipuisikan, telinga kita dipuisikan, hidung kita dipuisikan, lidah dan kata-kata kita dipuisikan dan seterusnya. Sebagai situasi hening dan senyap yang dahsyat. Momen yang tak lazim dalam hari-hari kita. Puasa dan puisi memang menghadirkan seseorang mengalami sesuatu yang Maha Lain, yang numinous, sebagaimana digambarkan Rumi; memukau, tentang yang indah mempesona.”

Tampaknya apa yang dikatakan Zawawi itu tidak berlebihan, William James, Sang Sosiolog-agama itu, pernah berpendapat, “Pengalaman religius seseorang, selalu saja dicoba abadikan dengan sesuatu yang kukuh –yang sebenarnya fantasi tentang yang kekal dan tak terjangkau, dan hanya kata-katalah (puisi) yang paling efektif menampung ketergenangan pangalaman batin itu.”

Maka berangkat dari sini, puisi seharusnya adalah jejak religius sang Penyair. Ia mempertegas sebuah subyek yang muncul sebagai si penghayat kehidupan. Puisi juga pengganti hal yang tak terjangkau oleh tangan, tak terpeluk oleh raga– seperti sebuah “hayalan” yang menggantikan Rupa yang jauh.

Puisi sendiri dalam beragam makna, diartikan sebagai rasa dan suasana batin yang tercipta dalam bentuk kata-kata. Penyair mengekstrak batinnya menjadi serat halus kata-kata, sehingga menurut Zawawi’, “Puisi yang ditulis penyair dengan sepenuh getar, dari kedalaman hatinya akan sampai kepada pembaca dengan getaran, dan kedalaman yang sama.”

Ketika Nabi Saw. bersabda, “Berpuasalah, niscaya kalian sehat.” (HR. Ibnu as-Sunni dan Abu Nu’aim). As-Suyuthi menegaskan, terutama adalah sehat batiniyah. Mungkin disinilah puasa menyerupai puisi, atau sebaliknya. Karena disana ada titik temu; suasana batin dan rasa, yang didalamnya ada karsa yang ditujukan khusus hanya untuk sang pencipta.

Namun sayangnya, tidak banyak penyair yang punya laku demikian. Untuk  itu, 14 abad yang lampau, Tuhan pernah berfirman: “Dan para penyair  diikuti oleh orang-orang yang sesat.” (QS. As-Syu’ara [26], 24-27). Bahkan dalam Al Quran sebutan penyair dinyatakan secara bersama-sama dengan sebutan penyihir. Al Quran, menyebutkan kata penyair secara khusus dan sangat terang sebanyak 10 kali, dan dengan bentuk  derivasinya (sinonimnya) sekitar 60 kali dan secara istimewa, bahkan menyebut satu surahnya, dengan nama as-Syuaara (penyair) [26]. Tentu  ini punya maksud tersendiri.

At-Tahawani, Sang Mufassir ulung, dengan mengutip pendapat al-Baidhawi berpendapat, kenyataannya, terutama pada mereka yang sering disebut “penyair besar” itu, laku kehidupannya  sangat tidak puitis, bahkan cenderung glamor. Mereka mengumbar syahwatnya, cumbu rayu, menyebut lekuk tubuh perempuan secara erotis, janji dusta, dan bangga dengan sesuatu yang omong-kosong, juga hinaan kepada sesamanya. Kemudian ia menjelaskan Firman Allah selanjutnya: “Kecuali penyair-penyair yang beriman”, sebagai pengecualian penyair mukmin yang baik, sebagai  teladan untuk mengingat Allah, dan acuan kebudayaan-kemanusian.  Singkatnya, tentu penyair jenis ini adalah, mereka yang ahli puasa.

Syauqi Dlaif, dalam Tarikh al-Adab al-Arabi, menyebutkan, perbedaan yang mencolok pada penyair yang sejati dan penyair palsu terletak pada laku kehidupannya; Dalam arti lain, apakah mereka berpuasa atau berbuka sepanjang tahun. Untuk membuktikan perkataan Syauqi Dlaif ini  kita bisa menggeledah pada biografi penyair-penyair sufi, yang puisi-puisiya abadi dan jadi rujukan ummat manusia; antara lain Muizzi, Abu A’la Alma’ari,  Hathim At Thai, Abu Nuwas Al Hani, Abu Faraj al Asfahani, Syauqi Bey, Rumi, Hafiz, Attar, Al Hallaj, Rabiah al Adawiyah, Abu Yazid al- Bustami, dan masa-masa subur para p]enyair sufi Islam pada abad ke 10 -14. Mereka tentu, selain ahli ilmu, juga ahli puasa. Bahkan sebagain dari mereka diriwayatkan puasa sepanjang tahun.

Dahulu orang-orang “linuwih”, para penghayat kehidupan, semisal empu dan para calon guru spiritual, dari agama apapun juga sudah terbiasa melakukan puasa, jauh hari sebelum adanya perintah puasa di bulan Ramdhan, karena itu redaksi dalam Al-Quran; “Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.” (QS 2: 83).

Ibnu Qutaibah berpendapat, sendainya ayat itu tidak pernah turun (wajib), orang seharusnya mewajibkan dirinya sendiri untuk berpuasa, agar mereka punya pengalaman puitik, saat berkomunikasi secara langsung dengan sang pencipta. Wallahu’alam Bishawab.

Yogyakarta,  25 Mei 2017

*Penjaga Gubuk Baca Baitul Kilmah, Bantul.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

10 + ten =

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.