Home Opini YERUSALEM : Dulu, Kini dan Nanti

YERUSALEM : Dulu, Kini dan Nanti [3]

333
0
SHARE
Dr. Muchlis M. Hanafi, MA.

Oleh : Muchlis M. Hanafi

Karena menjadi bagian penting dalam kehidupan umat Islam, maka pada tahun ke 15 H, Sayyiduna Umar bin Khattab membebaskan Yerussalem dari cengkeraman kekuasaan Romawi, dan memberi jaminan keamanan dan kebebasan kepada penduduknya yang beragama Yahudi dan Nasrani. Atas dasar itu pula, Shalahuddin Al Ayyubi, pada abad ke 6 H atau 12 M, membebaskannya dari kezhaliman pasukan salib. Selama itu pula Yerussalem berada dalam kekuasaan umat Islam, sampai akhirnya pada tahun 1948 dan 1967 dikuasai oleh zionis Israel.

Maka, kini Yerussalem menjadi tanggung jawab kita umat Islam di seluruh dunia untuk membebaskannya. Oleh karenanya, persoalan Palestina bukan hanya persoalan bangsa Palestina atau bangsa Arab semata, tetapi juga persoalan umat Islam, bahkan persoalan kemanusiaan, karena di situ ada penjajahan (qadhiyyah `arabiyyah-islâmiyyah-insâniyyah).

Yerusalem di Bawah Pendudukan Israel

Sejak menduduki Palestina tahun 1948 sampai sekarang, Israel selalu berupaya memutus mata rantai sejarah dan mengubah identitas kota Yerusalem. Setiap yang berbau Arab dan Islam berusaha dihilangkan. Tidak cukup hanya dengan menghancurkan rumah-rumah dan mengusir penduduknya, tetapi mereka berusaha mengubah tempat-tempat bersejarah yang lekat dengan Arab dan Islam, sehingga Yerusalem akan berubah wajah yang tidak dikenali lagi oleh penduduk aslinya.

Dengan langkah-langkah sistematis otoritas pendudukan Israel mengusir penduduk Palestina dari kampung halaman mereka, merampas tanah dan harta benda milik mereka, menghancurkan masjid-masjid dan tempat-tempat bersejarah Islam, menguasai tanah-tanah wakaf, membuat regulasi yang tidak memungkinkan orang-orang Arab untuk membangun rumah di kota dan membatasi perpindahan penduduk dari satu wilayah ke wilayah lain.

Aktifitas di Masjidil Aqsha juga sangat dibatasi. Sejumlah aturan dibuat yang melarang shalat dan kumandang adzan di kota. Komplek Masjidil Aqsha ditutup di pagi hari saat ibadah Yahudi berlangsung. Pemuda di bawah usia 45 tahun dilarang memasuki kompleks Masjidil Aqsha untuk shalat. Selain itu, penggalian besar-besaran terus berlangsung di bawah tanah Masjidil Aqsha, dengan dalih mencari jejak haykal Sulaiman.

Padahal, tidak ada satu pun bukti arkeologi menunjukkan Temple Sulaiman ada di situ. UNESCO dan sejumlah ahli arkeologi menentang. Tapi, penggalian terus berlangsung. Bahkan, terowongan yang banyak itu sudah seperti kota di bawah tanah. Sekali guncangan gempa terjadi, Masjidil Aqsha akan runtuh.

William Dirambell, seperti dikutip Ahmad Sousah dalam bukanya Sejarah Arab dan Yahudi, mengomentari upaya penggalian otoritas Zionis dengan mengatakan, Menurut perkiraan banyak ahli, temple Sulaiman berada dekat pagar masjid qubbat al shakhrah. Penggalian pun dilakukan untuk mencari puing-puing kuil Sulaiman. Mereka sempat dikejutkan dengan temuan benda-benda bersejarah. Tetapi, tak lama kemudian terdiam. Puing-puing bangunan yang ditemukan ternyata bukan hanyalah sisa-sisa bangunan istana salah seorang penguasa dinasti Umayyah. Jadi, tidak benar kalau Yahudi punya cerita masa lalu untuk membangun masa depan di situ”.

Berdasarkan uraian di atas, dari segi kesejarahan Yerusalem adalah kota yang didirikan oleh bangsa Arab, sejak enam ribu tahun yang lalu, jauh sebelum bangsa dan ajaran Yahudi muncul. Keberadaan bangsa Yahudi di Yerusalem hanya berlangsung 415 tahun, yang puncaknya pada masa Daud dan Sulaiman, abad ke 10 sebelum Masehi. Jauh setelah Yerusalem dibangun oleh bangsa Arab. Oleh karenanya, pendudukan Israel dan upaya menghilangkan identitas kearaban Palestina bukan saja melanggar resolusi PBB dan hukum internasional, tetapi juga bertentangan dengan fakta sejarah.

Silih berganti penguasa kota datang. Masing-masing mendominasi dan memonopoli kota ketika berkuasa, kecuali Islam yang datang mengayomi semua penganut agama, seperti tercermin dalam perjanjian yang dibuat Umar bin Khattab kepada semua penduduk Palestina. Wilayah yang diduduki Israel saat ini belumlah seberapa dibanding saat pasukan salib menguasai Palestina, dan juga jauh lebih lama berkuasa. Yang selalu terjadi penodaan terhadap simbol-simbol keagamaan di kota suci tersebut.

Sejarah membuktikan, dan telah menjadi sunnatullah di wilayah tersebut, tindakan menodai kota suci tidak pernah dibiarkan terjadi dan akan terkalahkan. Benar apa yang dikatakan Grand Syeikh Al Azhar, Prof. Dr. Ahmad Thayyeb, seperti tertuang dalam watsîqat (dokumen/piagam) Al Azhar tentang Al Quds, 20 Nopember 2011, bahwa upaya aneksasi Yerusalem dan mencederai Masjidil Aqsha hanya akan mengantarkan Zionis-Israel ke liang kubur. Seperti menggali liang kubur sendiri, karena telah melanggar batas ‘garis merah’ umat Islam.

Dulu, Salahuddin Al Ayyubi pernah mengatakan kepada Raja penguasa pasukan Salib, Ritchard, Jangan pernah berpikir kami akan melepaskan Yerusalem (Al Quds) begitu saja selamanya. Tidak mungkin kami akan melepaskan hak-hak kami sebagai umat Islam. Allah tidak akan pernah memperkenankan kamu untuk meletakkan batu walau sebiji di tanah ini, selama jihad masih terus digelorakan”. Sejarah pun membuktikan ucapan Salahuddin Al Ayyubi. Saatnya tiba untuk membela dan mempertahankan kesucian kota tersebut dari tangan para penjajah. Sunnatullah dalam sejarah kemanusiaan, yang benar akan selalu unggul.

“Dan Allah berkuasa terhadap urusan-Nya, tetapi kebanyakan manusia tidak mengerti.” (QS. Yusuf [12]: 21).

“Dan orang-orang yang zalim kelak akan tahu ke tempat mana mereka akan kembali.” (QS. Asy Syu’ara [26]: 227).[]

 

*Disarikan dari makalah kajian bulanan Dr. Muchlis M. Hanafi di Masjid Istiqlal, 5 Januari 2018.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

six + five =

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.