Home Opini YERUSALEM : Dulu, Kini dan Nanti

YERUSALEM : Dulu, Kini dan Nanti [2]

330
0
SHARE
Dr. Muchlis M. Hanafi

Oleh : Muchlis M. Hanafi

Sepanjang sejarah lebih dari enam ribu tahun Yerusalem berada di bawah kekuasaan Yahudi hanya selama 73 tahun, yaitu setelah Nabi Daud (King David) menaklukkannya pada tahun 977 atau 1000 SM. Daud berkuasa selama kurang lebih 33 tahun dan digantikan oleh putranya Nabi Sulaiman yang berkuasa selama 40 tahun. Pada masanya dibangun kuil (haykal) Sulaiman. Itulah puncak masa kejayaan Yahudi di Palestina.

Setelah mereka tercerai berai sampai akhirnya pada tahun 587 M, Raja Babilonia, Nebukhadnezar, berhasil menaklukkan Yerusalem (kerajaan Yahudza) dan menghancurkan kuil Sulaiman, serta menumpas habis bangsa Yahudi. Dengan demikian, wujud bangsa Yahudi di Palestina hanya berlangsung selama kurang lebih 415 tahun.

Berdasarkan fakta sejarah, kepemilikan bangsa Arab terhadap Palestina sudah berlangsung sejak 6000 tahun lalu. Dibangun oleh Arab Yabus empat ribu tahun sebelum Masehi, atau 2100 tahun sebelum datang Nabi Ibrahim, dan 2700 tahun sebelum kedatangan nabi Musa yang membawa ajaran Taurat yang menjadi sumber ajaran Yahudi.

Kedudukan Yerusalem

Meski berada nun jauh di sana, kita tidak bisa berkata soal Palestina, tempat Masjidil Aqsha berada, adalah hanya urusan warga Palestina semata. Masjidil Aqsha dan wilayah sekitarnya yang disebut negeri Syam adalah bagian yang tidak terpisahkan dari akidah keyakinan umat Islam.

Di dalam Al Qur`an tidak ditemukan penyebutan kata Yerusalem atau Al Quds, sehingga ada yang berkata umat Islam tidak berhak memiliki Yerusalem atau Al Quds Al Syarif. Pandangan tersebut tidaklah benar, sebab meski tidak disebut secara tegas, terdapat tidak kurang dari sembilan ayat menyebutnya sifatnya (QS. Al Maidah: 21, Al A`raf: 137, Al Isra: 1, Al Anbiya: 71, Shad: 36, Saba: 18, Al Qashash: 30, Al Mu`imun: 5). Al Qur`an tidak menyebut nama secara tegas, karena sepanjang sejarahnya ditemukan puluhan nama untuk Yerusalem, yang selalu berganti setiap kali ada bangsa yang menaklukkannya.

Penyebutan Yerusalem dan wilayah sekitarnya dalam Al Qur`an selalu  disertai sifat suci dan berkah seperti pada firman Allah: “Wahai kaumku! Masuklah ke tanah suci (Palestina) yang telah ditentukan Allah bagimu, dan janganlah kamu berbalik ke belakang (karena takut kepada musuh), nanti kamu menjadi orang yang rugi.” (QS. Al Maidah [5] : 21).

Dalam ayat yang lain Allah Swt. berfirman, “Mahasuci (Allah), yang telah memperjalankan hamba-Nya (Muhammad) pada malam hari dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar, Maha Melihat.” (QS. Al Isra [17] : 1)

Masjidil Aqsha adalah kiblat pertama umat Islam. Sejak ditetapkan kewajiban salat lima waktu, pada tahun kesepuluh kenabian, bahkan menurut sejumlah riwayat selama 13 tahun berdakwah di Mekkah, dan 17 bulan setelah hijrah ke Madinah, umat Islam melaksanakan shalat dengan menghadap ke Masjidil Aqsha, sampai akhirnya turun ayat Alquran surah Al Baqarah 144.

Dalam  sejarah kemanusiaan, Masjidil Aqsha adalah rumah ibadah kedua yang dibangun di muka bumi setelah Masjidil Haram. Dalam riwayat Abu Dzar Al Gifari, ketika ditanya tentang masjid yang pertama dibangun di muka bumi, Rasulullah menjawab, Masjidil Haram. Setelah itu Masjidil Aqsha. Jarak waktu antara keduanya, seperti dijelaskan Rasulullah adalah 40 tahun.

Oleh karenanya, seperti diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim, Rasulullah sangat menganjurkan untuk bepergian mengunjungi tiga masjid, yaitu Masjidil Haram, Masjidil Aqsha dan masjid Nabawi. Beribadah di tempat-tempat itu juga memiliki keutamaan yang berlipat dibanding ibadah di tempat lain, antara 500 sampai 100 ribu kali lipat.

Bahkan, keutamaan Masjidil Aqsha sudah ada sejak Nabi Sulaiman. Dalam hadits yang diriwayatkan oleh An Nasai dan Ibnu Majah, setelah selesai membangun kembali Baitul Maqdis, Nabi Sulaiman mengajukan tiga permohonan kepada Allah. Dua di antaranya telah dikabulkan oleh Allah untuk dirinya, yaitu diberi ketepatan dalam memutus perkara dan kekuasaan/kerajaan yang tidak dimiliki oleh seorang pun setelah dia. Satu lagi, Nabi Sulaiman memohon agar siapa pun yang mengunjungi Baitul Maqdis (Yerussalem) untuk melaksanakan shalat, maka dia akan kembali darinya seperti bayi yang baru terlahir dari kandungan.

Jadi, Masjidil Aqsa adalah kiblat pertama umat Islam, masjid kedua yang tertua dibangun, dan masjid yang ketiga paling utama dibanding Masjidil Haram dan masjid Nabawi. Masjidil Aqsha adalah bagian dari kota-kota suci dan simbol keagamaan umat Islam yang harus dijaga dan dipertahankan.

Dalam sejarah agama-agama, Yerussalem Palestina adalah bumi para nabi dan rasul. Di tempat itu Nabi Ibrahim, Nabi Ishaq, Nabi Ya`qub, Nabi Yusuf, Nabi Luth, Nabi Sulaiman, Nabi Shaleh, Nabi Zakaria, Nabi Yahya dan Nabi Isa serta banyak nabi lainnya pernah tinggal. Di tempat itu, para Nabi dan rasul dikumpulkan dan memberi kesaksian bahwa Nabi Muhammad adalah Nabi yang terakhir. Di situ Nabi Muhammad mengimami para nabi saat Isra dan Mi’raj, sebagai pertanda dukungan dan pengakuan mereka terhadap kenabian Rasulullah Saw.

Allah Swt. berfirman, “Dan (ingatlah), ketika Allah mengambil perjanjian dari para nabi, “Manakala Aku memberikan kitab dan hikmah kepadamu lalu datang kepada kamu seorang Rasul yang membenarkan apa yang ada pada kamu, niscaya kamu akan sungguh-sungguh beriman kepadanya dan menolongnya.” Allah berfirman, “Apakah kamu setuju dan menerima perjanjian dengan-Ku atas yang demikian itu?” Mereka menjawab, “Kami setuju.” Allah berfirman,  ”Kalau begitu bersaksilah kamu (para nabi) dan Aku menjadi saksi bersama kamu.” (QS. Ali Imran [3] : 81)

Masjidil Aqsha tidak bisa dilepaskan dari bagian penting sejarah kehidupan Rasulullah Saw. Ke tempat itu beliau diperjalankan dari Masjidil Haram, dan dari tempat itu beliau diangkat naik ke langit sampai Sidratul Muntaha, dalam peristiwa Isra Mi’raj. Oleh karenanya, kecintaan kita kepada Rasulullah belum dapat dinyatakan sempurna tanpa perhatian dan kepedulian terhadap Masjidil Aqsha.

Banyak peristiwa penting terkait keyakinan umat Islam, baik di masa lalu maupun di masa mendatang, yang terjadi di wilayah sekitar Masjidil Aqsha. Menurut banyak ahli tafsir, di Baitul Maqdis lah nanti Malaikat akan memanggil seluruh makhluk untuk dibangkitkan kembali sebagaimana firman Allah, wastami` yawma yunaadil munaadi min makaanin ba’iid (QS. Qaf [50]: 41).

Dalam beberapa hadits juga diceritakan, di akhir zaman nanti, di wilayah itu pula, di sebuah tempat yang bernama Bab Al Ludd, Nabi Isa dan Imam Mahdi akan membunuh Dajjal, sumber kerusakan dan malapetaka di muka bumi.

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

5 × 5 =

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.