Home Opini YERUSALEM : Dulu, Kini dan Nanti

YERUSALEM : Dulu, Kini dan Nanti [1]

523
0
SHARE
Dr. Muchlis M. Hanafi

Oleh : Muchlis M. Hanafi

Rabu siang (7/12/2017) waktu setempat, atau hari kamis waktu Indonesia Barat (8/12/2017),  dunia dikejutkan oleh pengumuman Presiden Amerika Donald Trump yang memberikan pengakuan secara sepihak tentang Jerusalem sebagai ibu kota Israel. Sebuah pengakuan yang menjadi pukulan telak bagi perjuangan rakyat Palestina selama hampir tujuh puluh tahun, sejak tahun 1948 tanah kelahiran mereka diduduki oleh Zionisme Israel.

Jika pada tahun 1948 Yerusalem Barat yang dikuasai Israel dengan Tel Aviv sebagai ibukotanya, dan pada tahun 1967 Yerusalem Timur (Al Quds Al Syarqiyyah) diduduki secara ilegal, kini tempat Masjidil Aqsha berada tersebut akan menjadi ibukota Israel. Lengkap sudah pendudukan Israel terhadap bumi rakyat Palestina.

Dunia internasional pun beraksi keras menolak tindakan tersebut. Pengakuan sepihak itu menunjukkan arogansi dan kesewenang-wenangan yang kuat terhadap yang lemah, apalagi dengan melanggar sejumlah kesepakatan internasional. Sebuah tindakan yang bukan hanya meruntuhkan berbagai upaya damai sebelumnya dalam menyelesaikan persoalan Palestina, tetapi juga berpotensi menimbulkan gangguan stabilitas keamanan dunia di masa mendatang. Keamanan dan kedamaian sulit terwujud di tengah ketidakadilan dan dominasi serta hegemoni yang kuat terhadap yang lemah. Kampanye memerangi terorisme global tidak akan membuahkan hasil jika dunia tetap membiarkan terjadinya teror oleh sebuah negara terhadap penduduk pemilik sebuah wilayah yang sah.

Pengakuan AS tersebut menyempurnakan perjalanan satu abad sejarah pendudukan Israel terhadap Yerusalem. Pendudukan bermula dari Deklarasi atau Perjanjian Balfour yang disepakati saat perang Dunia 1 (1914-1918), tepatnya Nopember 1917, antara Pemerintah Inggris dan tokoh gerakan zionisme, Theodore Hertzel, yang ditandatangani oleh Menlu Inggris saat itu, Arthur Balfour.

Perjanjian itu merupakan bagian dari kerangka mandat pemerintah Inggris untuk Palestina yang direbut secara penuh dari Kekaisaran Ottoman. Mandat tersebut mewajibkan negara yang kalah dalam perang (Jerman, Austria-Hungaria dan Kekaisaran Ottoman) memberikan seluruh kekuasaan wilayahnya kepada para pemenang, yakni Inggris dan sejumlah negara sekutu lainnya, seperti Prancis dan Italia. Berdasarkan deklarasi Balfour Inggris memfasilitasi perpindahan kaum Yahudi Eropa ke Palestina sampai terbentuknya negara Israel tahun 1948. Sejak itu pendudukan Israel terhadap Palestina meluas hingga Yarusalem yang diduduki setelah perang Arab-Israel selama enam hari tahun 1967. Kini Israel hanya menyisakan Tepi barat dan Jalur Gaza bagi warga Palestina.

Jika menengok sejarah ke belakang, konflik di tanah Palestina telah berlangsung lama. Sejumlah peradaban dan kekuatan besar pernah singgah di situ, mulai dari bangsa Arab Kan`an (Yabus), Babilonia, Mesir Kuno, Persia, Yunani, Romawi, Yahudi sampai kepada Islam. Palestina selalu menjadi pusaran konflik di kawasan.

Sejarah Kota Yerusalem

Yerusalem adalah salah satu kota terbesar di Palestina, baik dari segi luas wilayah maupun penduduknya. Dari segi agama dan nilai ekonomi kota ini juga menempati posisi yang sangat penting.

Kota ini memiliki banyak nama. Yerusalem berasal dari bahasa Ibrani yang berarti kota perdamaian, atau kota dewa/tuhan yang bernama Salom, atau Salim. Dalam bahasa Arab dikenal dengan nama Baytul Maqdis atau Al Quds Al Syarif, dan dalam bahasa Yunani dinamakan Elia (Aelia), yang berarti rumah tuhan. Ketika Islam menguasai Yerusalem saat itu namanya Elia, dan tercantum dalam piagam jaminan keamanan bagi penduduk setempat yang dibuat Khalifah Umar (Al `Uhdah Al `Umariyyah). Sebutan Baytul Maqdis atau Al Quds sah populer di kalangan para sahabat seperti tercatat dalam beberapa hadits Nabi yang sahih.

Sejarah kota Yerusalem bermula sejak lebih dari enam ribu tahun yang lalu. Wajar bila dikatakan sebagai salah satu kota tertua di dunia. Menurut sejarawan, yang membangun pertama kali adalah suku Al Yabus, salah satu suku dari kabilah Arab Kan`an, pada sekitar 4000 tahun SM, sehingga kota itu pada mulanya disebut Yabus. Sejak itu kabilah bangsa Arab seperti Kan`an dan Amoria (Aramin) berdatangan dan tinggal di situ, jauh sebelum kedatangan Bani Israel. Fakta ini diakui oleh Perjanjian Lama dalam Yosua: 12 yang menyatakan; “Inilah raja negeri yang dikalahkan oleh Yosua dan oleh orang Israel di sebelah barat sungai Yordan  …… yang di negeri orang Het, orang Amori, orang Kanaan, orang Feris, orang Hewi dan orang Yebus” (Al Kitab: h.249). Amori, Kanaan dan Yebus adalah bangsa Arab yang telah tinggal di bumi Palestina sebelum bangsa Israel datang.

Kedatangan bangsa Israel ke tanah Palestina bermula dari Nabi Yakub, yaitu pada sekitar abad ke 16 SM. Israel adalah gelar dari Nabi Yakub yang berarti ‘hamba Allah’. Yakub adalah putra Nabi Ishak dan cucu Nabi Ibrahim. Mereka tinggal di Hebron (madînat al khalîl). Di masa mudanya Nabi Yakub pernah berhijrah ke Iraq, lalu kembali lagi ke Palestina dan menerima wahyu di tengah perjalanan. Diperkirakan saat itu ia berusia 40 tahun. Bersama dua belas orang anaknya yang dikenal dengan Banû Isrâ`il Nabi Yakub tinggal di Palestina. Setelah peristiwa yang dialami putra kesayangannya, Nabi Yusuf dan Bunyamin, Nabi Yakub hijrah ke Mesir pada tahun 1656 (abad ke-17) SM. Mereka baru kembali lagi ke Palestina pada sekitar abad 13 SM.

Dalam sejarah, setelah dibangun oleh kabilah Arab Yebus, Yerusalem tercatat pernah berada di bawah kekuasaan Firaun (abad 16-14 SM), Yahudi selama sekitar 73 tahun (977 – 586 SM), Babilonia (586 – 537 SM), Persia (537 – 333 SM), Yunani (333 – 63 SM), Romawi (63 SM – 636 M), kekuasaan Islam I (636 – 1072 M) dipimpin Umar bin Khattab pada tahun ke 15 H, Kristen (1099 – 1187 M), kekuasaan Islam II oleh Salahuddin Al Ayyubi (1187), kemudian Ottoman pada 1615 sampai jatuh ke tangan Inggris tahun 1917, dan pada tahun 1948 berdiri negara Israel.

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

4 × 4 =

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.