Home Opini Ramadan Itu Mengubah

Ramadan Itu Mengubah

305
0
SHARE

Muhammad Arifin *)

Segala sesuatu di dunia ini pasti berubah. Satu-satunya yang tidak mengalami perubahan adalah perubahan itu sendiri. Seorang mukmin yang baik adalah mukmin yang terus berubah ke arah yang lebih baik. Hari ininya lebih baik daripada hari kemarinnya, dan hari esoknya lebih baik daripada hari ininya. Begitu kurang lebih pesan Nabi saw.

Bulan Ramadan merupakan momentum yang tepat untuk melakukan perubahan itu. Bukankah kita saksikan pada bulan itu beberapa aktivitas dan rutinitas kita benar-benar mengalami perubahan. Pola makan kita berubah: biasanya sarapan pagi sekitar pukul 06.00 atau pukul 07.00, pada bulan Ramadan menjadi pukul 03.00 atau pukul 04.00. Pola tidur kita berubah: biasanya bangun tidur sesaat sebelum azan subuh, atau bahkan mungkin baru bangun tidur setelah azan subuh, kini kita harus bangun sekitar pukul 03.00.

Ibadah kita juga “berubah”: biasanya sehabis salat Isya kita segera pulang ke rumah, kini kita masih perlu melaksanakan salat tambahan, salat tarawih berjamaah di musala atau masjid. Yang biasanya jarang membaca Al-Qur’an, kini lingkungan seolah memaksanya untuk membaca Al-Qur’an. Dan lain-lain.

Perubahan yang diharapkan terjadi pada diri kita selama Ramadan lebih pada perubahan rohani, bukan jasmani. Sebab, rohani itulah yang akan kekal abadi.

Ada pakar, berdasarkan pengamatan dan penelitiannya, mengatakan bahwa perilaku negatif dapat diubah menjadi baik jika dilakukan pembiasaan perilaku baik kepada orang yang bersangkutan sebanyak enam sampai dua puluh satu kali. Orang yang pemalu, misalnya, bisa menjadi tidak pemalu jika dilakukan latihan dan pembiasaan mengatasi malu antara enam sampai dua puluh satu kali. Nah, pada bulan Ramadan ini, pembiasaan itu kita lakukan bukan hanya enam atau dua puluh satu kali, tetapi dua puluh sembilan atau tiga puluh kali.

Betapa setiap saat kita berpuasa kita membiasakan diri untuk bersikap jujur, tidak bohong, tidak menggibah, dan seterusnya. Kita merasakan lapar pada siang hari, tetapi kita memilih untuk tidak makan. Bukan karena tidak ada nafsu makan, tetapi karena kita sedang berlatih untuk menahan nafsu itu. Kita merasakan haus, tetapi memilih untuk tidak minum. Juga karena alasan yang sama. Itu semua adalah bentuk-bentuk pembiasaan karakter positif.

Pada malam hari kita mungkin merasakan lelah karena bekerja di siang hari, tetapi kita tetap memilih untuk berjamaah ke masjid, mengikuti salat tarawih. Bukan karena badan kita tidak perlu istirahat, tetapi lebih karena kita sedang melatih diri melawan kemalasan. Kita sedang melatih diri untuk berlama-lama salat, seperti halnya Rasulullah saw. berlama-lama salat malam. Bahkan sampai kakinya bengkak.

Jika seorang pemalu bisa berubah menghilangkan sifat pemalunya setelah pembiasaan selama enam sampai dua puluh satu kali, maka orang berpuasa pun sangat besar kemungkinan dapat mengubah perilaku negatifnya setelah berlatih selama dua puluh sembilan atau tiga puluh hari.

Wajar saja kalau setelah berpuasa satu bulan, orang masih mau melakukan puasa lagi setidaknya selama enam hari pada bulan Syawal. Padahal, pada bulan Syawal pada umumnya tersedia aneka macam kue-kue lebaran, aneka macam jenis masakan daging dan ayam. Tapi, sebagai hasil dari pembiasaan perlikau positif selama satu bulan Ramadan, banyak orang lebih memilih berpuasa.

Puasa memang mengubah.

*) Alumni Universitas Al-Azhar Mesir dan sekarang Anggota Dewan Pakar, Manager Program di Pusat Studi Al-Quran (PSQ)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

thirteen − eight =

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.