Home Opini Berempati Kepada Pahlawan Demokrasi

Berempati Kepada Pahlawan Demokrasi

297
0
SHARE

Oleh: Nanang Firdaus, Lc. *)

“Tanpa ada dendam kepada siapapun, dengan beramal kepada semua orang, dengan keteguhan pada kepada kebenaran yang Tuhan tunjukan kepada kita,” kata Abraham Lincoln dalam pidato pelantikan keduanya, “marilah kita berjuang untuk menyelesaikan pekerjaan yang sedang kita lakukan, membalut luka negara ini.”

Pidato luar biasa yang muncul dari mulut presiden Amerika Serikat yang ke-16 itu, bermula ketika Lincoln dan teman-temannya melihat seorang pemabuk kota, pada suatu malam di musim dingin, tidur di jalan di atas muntahannya sendiri.

Ucapan Lincoln itu adalah empati. Istilah ini berasal dari Bahasa Latin, Pati dan Cum, lalu disatukan menjadi “compassion”. Dalam Bahasa Indonesia bisa kita artikan dengan welas asih, atau ‘menderita bersama’.

Kemampuan kita ikut “merasakan” kehidupan-kehidupan lain yang tidak ada hubungan dengan kehidupan kita ini, sangat dibutuhkan dalam menyikapi petugas KPPS yang banyak meninggal. Sampai hari ini (Jumat, 26/04/2019) berdasarkan laporan  komisioner KPU Viryan Aziz berjumlah 225 orang.

Kita sangat berbelasungkawa dengan jatuhnya korban jiwa yang demikian besar. Jumlah 225,  bukanlah angka yang sedikit. Saya juga berharap agar pemerintah menyematkan mereka sebagai pahlawan demokrasi.

Bukan hanya itu, sebagai tulang punggung keluarga, selayaknya pemerintah memberikan asuransi pendidikan, jaminan hidup dan uang pensiun bagi keluarga yang ditinggalkan. Jika angka yang diberikan itu diakumulasi secara total, niscaya angka tersebut masih tidak sebanding dengan perjuangan mereka untuk menegakkan demokrasi di tanah ini.

Jika kita runut sedari awal, kita bisa deteksi titik-titik yang kemudian luput dari perhatian sehingga menyebabkan korban jiwa. Misalnya, salah satu dasar pemikiran dilakukannya Pemilu Serentak adalah  asas simplifikasi pesta pemilu dan menekan biaya pemilu yang tinggi menjadi hemat.

Para perancang undang-undang mungkin berpikir ketika itu, dengan dilakukannya Pemilu Serentak akan lebih simpel dan berbiaya lebih murah. Tapi ternyata ada yang luput dari jangkauan mereka, yaitu endurence, kemampuan ambang batas daya tahan tubuh manusia. Mereka lupa mungkin untuk melibatkan para psikolog dan dokter kejiwaan ketika akan ketok palu. Sehingga peristiwa ini luput dari prediksi mereka.

Pada titik itulah kita sadar, ternyata setiap keputusan manusia selalu tidak pernah sempurna. Yang jelas, pasca peristiwa ini banyak pihak yang menyuarakan untuk evaluasi secara menyeluruh setiap tahapan pemilu.

Satu lagi, tahapan kampanye pemilu ini dinilai terlalu panjang. Melelahkan. Membosankan. Membuat orang dalam tekanan. Dan mungkin dalam beberapa kasus menurunkan produktivitas.

Di luar masih compang-campingnya urusan hulu dan hilir pesta demokrasi ini, saya melihat di lapangan, dua hal krusial yang menyebabkan banyaknya korban jiwa petugas KPPS. Pertama tekanan mental/jiwa. Kedua, kelelahan fisik. Dari kedua aspek tadi, yang saya lihat paling dominan adalah tekanan mental yang berimplifikasi kepada rontoknya daya tahan tubuh.

Dari petugas TPS di beberapa tempat yang saya kunjungi sebagai sampling, saya melihat para petugas ini seperti terkena Anxiety Disorder. Sebuah istilah dalam psikologi yang berarti adanya angguan kesehatan mental yang ditandai dengan perasaan kekhawatiran, cemas, atau takut yang cukup kuat untuk mengganggu aktivitas sehari-hari.

Munculnya Anxiety Disorder ini tidak berdiri sendiri. Masa kampanye yang panjang, massifnya industri hoax yang sudah melebihi batas nalar. Terfragmentasinya publik. Narasi agitatif yang dikeluarkan para calon dan pendukungnya. Segregasi antar pendukung. Bahkan berita-berita di berbagai media yang melulu seputar pilpres dan seterusnya. Bahkan pendukung kedua belah pihak sudah masuk kategori echo chamber effect menjadi manusia-manusia militan. Fenomena-fenomena tersebut kemudian terakumulasi dan masuk ke alam bawah sadar setiap warga Indonesia, terlebih lagi para petugas PPS.

Lalu siapa yang salah? Yang jelas, ini salah kita semua. Para elit mempertontonkan keangkuhannya, para ustadz menjadikan mimbar mesjid sebagai corong mencela dan mencaci. Pranata sosial masyarakat menjadi rusak.

Semua sudah terjadi. Lalu bagaimana memperbaikinya?

Ibarat kata pepatah, di setiap krisis selalu terdapat peluang. Inilah sebenarnya peluang bagi kaum muslimin, terutama Azhariyyin –Alumni Universitas al-Azhar Mesir– untuk menyebarkaan washatiyyah. Menebarkan ketenangan. Narasi-narasi tersebut sebenarnya sudah dicontohkan oleh lokomotif kita,Tuan Guru dengan narasi-narasi besar tentang keislaman, kemanusiaan dan sebagainya.

Semoga ke depan, demokrasi kita semakin dewasa dan menghargai setiap nyawa. Sebagaimana kata Lincoln bahwa marilah kita berjuang untuk menyelesaikan pekerjaan yang sedang kita lakukan, membalut luka negara ini. Salah satu pekerjaan kita adalah berempati kepada pahlawan demokrasi.

Wallaahu a’laam.

*) Alumnus Universitas al-Azhar Mesir dan Managing Director of Syafana Islamic School Tangerang.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

twenty + nine =

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.