Home Opini Wasathiyyah, Apa Maksudnya?

Wasathiyyah, Apa Maksudnya?

1675
0
SHARE
Ali Jum'ah

Oleh: Prof. Dr. Ali Jum’ah  (Mantan Mufti Mesir)

Pertama, kata wasathiyyah –yang sering kita terjemahkan menjadi moderasi atau kemoderatan, penerj.– diambil dari firman Allah swt.: Wa kadzâlika ja‘alnâkum ummatan wasathan litakûnû syuhadâ’a ‘alâ n-nâs wa yakûna r-rasûlu ‘alaykum syahîdan (وَكَذَلِكَ جَعَلْنَاكُمْ أُمَّةً وَسَطًا لِّتَكُونُوا شُهَدَاءَ عَلَى النَّاسِ وَيَكُونَ الرَّسُولُ عَلَيْكُمْ شَهِيدًا) yang terdapat pada ayat 143 surah al-Baqarah. Ayat ini menjadikan posisi wasath berada di tempat yang tinggi. Orang yang berada pada posisi itu dapat dengan baik melihat orang yang berada di bawah, dan orang-orang yang di bawah pun dapat meihatnya juga. Keadaan seperti ini mengingatkan kita akan orang yang berada di bukit. Jika dari lembah ke puncak gunung kira-kira sama dengan jarak dari puncak gunung ke lembah lain di balik gunung, maka orang yang berdiri di gunung itu juga dapat dikatakan berada pada posisi wasath, yakni di tengah gunung.

Pemaknaan kata wasath seperti ini diperkuat oleh fakta bahwa penggunaan kata wasath dalam bahasa Arab memang terkadang bermakna ‘baik’ atau ‘tinggi’. Misalnya sabda Rasulullah saw. ketika menggambarkan tentang surga, “Wa l-firdaws a‘lâ l-jannah wa awsathuhâ.” (وَالفِرْدَوْس أعْلَى الجَنَّة وَأَوْسَطُها), artinya ‘surga firdaus adalah surga tertinggi dan paling baik.’ (HR at-Tirmidzi). Dalam hadis lain beliau bersabda, “Apabila kamu memohon kepada Allah swt., mohonlah surga firdaus, karena ia adalah surga paling baik (awsathu l-jannah) dan surga paling tinggi (a‘lâ l-jannah).” (Musnad Ahmad). Makna itu semakin diperkuat lagi dengan pendapat kalangan mufasir yang ketika menafsirkan ayat (مِنْ أَوْسَطِ مَا تُطْعِمُونَ أَهْلِيكُمْ)  pada surah Al-Mâ’idah: 89, di mana mereka mengartikan kata awsath pada ayat itu dengan ‘yang tertinggi’ (a‘lâ).

Kedua, kata syahîd (شَهِيد) pada ayat 143 surah Al-Baqarah itu polanya (wazn/ وَزْن) sama dengan fa‘îl (فَعِيل). Pola kata yang seperti ini digunakan oleh orang Arab untuk arti pelaku atau subjek (اسْمُ الفَاعِل) juga objek (اسْمُ المَفْعُول) sekaligus. Dengan begitu, kata syahîd pada ayat itu bisa berarti ‘orang yang menyaksikan’ (شَاهِد) bisa juga ‘orang yang disaksikan’ (مَشْهُود). Dalam contoh kita di atas, orang yang berada di atas gunung melihat dan menyaksikan orang yang berada di lembah, pada saat yang sama dia juga dapat dilihat dan disaksikan oleh orang yang berada di lembah.

Jika contoh makna inderawi ini kita tarik ke makna peradaban, maka umat Islam memiliki kewajiban untuk ikut serta mengambil bagian di dalam peradaban umat manusia. Umat Islam harus memiliki peran pelopor dan pemimpin. Umat Islam tidak boleh membatasi diri dari peradaban dunia lalu mengasingkan diri menyendiri. Dari situ, format peradaban Islam adalah peradaban yang terbuka. Dari situ juga kemudian muncul istilah ummat l-ijâbah (أُمَّة الإجَابَة) dan ummat d-da‘wah (أمَّة الدَّعْوَة) dalam pandangan Imam Ar-Râzî.

Umat Islam meyakini bahwa semua penduduk bumi adalah umat Islam, hanya saja sebagian mereka ada yang beriman kepada ajakan dan dakwah Nabi Muhammad saw. dan sebagian lain tidak beriman. Mereka yang beriman itu disebut ummat l-ijâbah (أُمَّة الإجَابَة) –yakni umat yang menerima ajakan Nabi saw., penerj.—sedangkan mereka yang tidak beriman disebut ummat d-da‘wah (أمَّة الدَّعْوَة), yakni umat yang diajak dan dikenalkan ajaran Islam. Mereka semua berada pada posisi menyaksikan dan disaksikan terus menerus. Mereka selalu saling memberi dan menerima terus menerus. Begitulah Allah menakdirkan mereka.

Ketiga, peradaban Islam yang terbuka ini mengharuskan kita, umatnya, untuk memahami hubungan antara penugasan (taklîf) di satu sisi dan pemuliaan (tasyrîf) di sisi lain. Ayat-ayat yang memuliakan umat Islam (berbicara tentang kelebihan dan keunggulan umat Islam) pada saat yang sama juga merupakan ayat penugasan atau ayat perintah. Misalnya, ayat wa anna hâdzihi ummatukum ummatun wâhidah wa ana rabbukum fa ‘budûn (وَإِنَّ هَذِهِ أُمَّتُكُمْ أُمَّةً وَاحِدَةً وَأَنَا رَبُّكُمْ فَاتَّقُونِ), pada QS al-Mu’minûn [23]: 52).

Ayat itu berbicara tentang kelebihan dan keunggulan umat Islam (tasyrîf) sekaligus ayat yang menugaskan umat Islam untuk menjadi seperti itu. Begitu juga dengan ayat kuntum khayra ummatin ukhrijat li n-nâs ta’murûna bi l-ma‘rûf wa tanhawna ‘ani l-munkar wa tu’minûna billâh walaw âmana ahlu l-kitâbi lakâna khayran lahum minhumu l-mu’minûn wa aktsaruhumu l-fâsiqûn(كُنتُمْ خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ تَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ المُنكَرِ وَتُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَلَوْ آمَنَ أَهْلُ الكِتَابِ لَكَانَ خَيْرًا لَّهُم مِّنْهُمُ المُؤْمِنُونَ وَأَكْثَرُهُمُ الفَاسِقُونَ)  pada QS Al Imran [3]: 110). Ini ayat tasyrîf sekaligus ayat taklîf.

Ayat 143 surah Al-Baqarah yang berbicara tentang ummatan wasathan, juga ayat tasyrîf sekaligus ayat taklîf. Ayat tentang sujudnya malaikat kepada Nabi Adam juga ayat tasyrîf sekaligus ayat taklîf di mana Allah menugaskan Adam untuk mencari tahu, mencari ilmu, dan kemudian memakmurkan bumi dengan dasar ketakwaan kepada Allah.

Pertanyaannya sekarang: bagaimana cara kita melaksanakan tugas-tugas itu supaya kita bisa mencapai kemuliaan dan keunggulan itu?

Baca juga: Moderasi dalam Angka dan Pilar Moderasi Islam

Keempat, tanda wasathiyyah dalam ayat-ayat Al-Qur’an sebagai ayat taklîf (ayat yang menuntut kita untuk melakukan) dapat kita lihat pada kedudukan (a) ilmu pengetahuan (العِلْم), (b) kedudukan berbuat/ berkarya (العَمَل), (c) persatuan, dan (d) saling mengenal dan bekerja sama. Kesemuanya begitu penting. Ini kita pahami dari, antara lain, ayat-ayat yang maknanya sebagai berikut:

Terkait pentingnya ilmu:

– Di antara hamba-hamba Allah yang takut kepada-Nya, hanyalah para ulama. Sungguh, Allah Mahaperkasa, Maha Pengampun. (QS Fâthir [35]: 28).

– Bacalah dengan nama Tuhanmu yang telah menciptakan (QS al-‘Alaq [96]: 1).

– Katakanlah, “Ya Tuhanku. Tambahkanlah aku ilmu.” (QS Thâhâ [20]: 114).

– Kami angkat derajat orang yang Kami kehendaki; dan di atas setiap orang yang berpengetahuan ada yang lebih mengetahui.(QS Yûsuf [12]: 76).

– Dan tidak sepatutnya orang-orang mukmin itu semuanya pergi (ke medan perang). Mengapa sebagian dari setiap golongan di antara mereka tidak pergi untuk memperdalam pengetahuan agama mereka dan untuk memberi peringatan kepada kaumnya apabila mereka telah kembali, agar mereka dapat menjaga dirinya. (QS at-Tawbah [9]: 122).

– Katakanlah, “Apakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?” Sebenarnya hanya orang yang berakal sehat yang dapat menerima pelajaran. (QS az-Zumar [39]: 9).

– … maka bertanyalah kepada orang yang mempunyai pengetahuan jika kamu tidak mengetahui (QS an-Nahl [16]: 43).

Terkait pentingnya amal (berbuat, berkarya):

– Dan katakanlah, “Bekerjalah kamu, maka Allah akan melihat pekerjaanmu, begitu juga Rasul-Nya dan orang-orang mukmin, dan kamu akan dikembalikan kepada (Allah) Yang Mengetahui yang gaib dan yang nyata, lalu diberitakan-Nya kepada kamu apa yang telah kamu kerjakan.” (QS at-Tawbah [9]: 105).

– Dia telah menciptakanmu dari bumi (tanah) dan menjadikanmu pemakmurnya, karena itu mohonlah ampunan kepada-Nya, kemudian bertobatlah kepada-Nya. Sesungguhnya Tuhanku sangat dekat (rahmat-Nya) dan memperkenankan (doa hamba-Nya).” (QS Hûd [11]: 61). Ayat ini menunjukkan bahwa Tuhan meminta kamu untuk memakmurkan bumi.

Dan masih banyak lagi ayat serupa.

Terkait persatuan:

– Taatilah Allah dan Rasul-Nya dan janganlah kamu berselisih, yang menyebabkan kamu menjadi gentar dan kekuatanmu hilang dan bersabarlah. Sungguh, Allah beserta orang-orang sabar. (QS al-Anfâl [8]: 46).

– Dan berpegangteguhlah kamu semuanya pada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai, dan ingatlah nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa jahiliah) bermusuhan, lalu Allah mempersatukan hatimu, sehingga dengan karunia-Nya kamu menjadi bersaudara, sedangkan (ketika itu) kamu berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu dari sana. Demikianlah, Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu agar kamu mendapat petunjuk. (QS Ali Imran [3]: 103).

– Sungguh, (agama tauhid) inilah agama kamu, agama yang satu, dan Aku adalah Tuhanmu, maka sembahlah Aku. (QS al-Anbiyâ’ [21]: 92).

Terkait saling mengenal dan bekerja sama antarsesama makhluk:

Wahai manusia! Sungguh, Kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, kemudian Kami jadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal. Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa. Sungguh, Allah Maha Mengetahui, Mahateliti. (QS al-Hujurât [49]: 13).(*)

Sumber: nikmatislam.com

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

4 × two =

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.