SHARE
www.kompasiana.com

Oleh : Delianur

Alumni Fikom Unpad, Pemerhati Komunikasi

Ketika melihat poster dan tahun film (1957), pastinya akan muncul interest yang menempatkan 12 Angry Men sebagai film tidak perlu ditonton. Apa bagusnya sebuah film produksi 61 tahun lampau ketika tekhnik sinematografi belum berkembang canggih seperti sekarang?

Ketika orang ditawarkan teknologi televisi beresolusi tinggi, film ini justru menawarkan warna hitam putih. Selain itu, mungkin bukan hanya penonton tetapi pemain film pun akan mengernyitkan dahi mendengar nama-nama Henry Fonda, E.G Marshall, John Fiedler, Lee J Cobb, Ed Bagley, Jack Warden yang membintangi film ini.

Rentetan hal di atas akan terkuatkan bila orang diberi tahu setting lokasi film. Ini adalah film yang menggambarkan perdebatan 12 Juri persidangan di ruang juri. Dari total durasi waktu 96 menit, hanya 3 menit berlangsung diluar ruangan juri. Jadi bayangkanlah menonton film hitam putih, dengan bintang tidak dikenal dalam setting satu ruangan selama 93 menit.

Tetapi bila kita mengikuti film ini detik demi detik dan dialog demi dialog, segala hal yang kita anggap akan menjemukan akan terusir. Faktanya, setengah abad setelah film ini dibuat (2007), Library Congress mendaftarkan film ini sebagai film Amerika yang mesti dilestarikan dalam United States National Film, karena dianggap “culturally, historically, or aesthetically significant”.

Internet Movie Database (IMDBs), penyedia informasi film seluruh dunia, dan Rotten Tomatoes, situs film yang dikenal sangat “sadis” bila mereview sebuah film, menempatkan film ini sebagai 100 film top dunia sepanjang masa yang sangat layak ditonton. Sejajar dengan Schinder List nya Liam Neeson atau Shawshank Redemption nya Morgan Freeman.

Sebagaimana diketahui, persidangan dalam sistem pengadilan Amerika Serikat menempatkan Juri sebagai pengambil keputusan. Cerita film yang disutradarai Sidney Lumet ini pada dasarnya sederhana saja.

Tentang seorang juri (Juri no 8) yang mempunyai argumen logis, rasional mesti berhadapan dengan 11 Juri lain yang penuh dengan keraguan, emosional, ketika akan memutus perkara. Tetapi karena Juri no 8 (Henry Fonda) konstant dan berusaha keras meyakinkan kekeliruan juri lainnya, maka kebenaran pun pelan-pelan terungkap. Juri akhirnya bisa menghindarkan diri mengambil keputusan keliru.

Juri no 8 memulai penolakan terhadap rancangan keputusan para juri lain dengan sederhana; menolak memberikan persetujuan dan meminta mereka mendengarkan pendapatnya.

Dengan pandangan yang logis ditambah simulasi meyakinkan, satu persatu Juri membenarkan pendapat Juri no 8. Setelah menghadapi berbagai penolakan, cemoohan, hujatan, kecaman akhirnya semua Juri bisa melihat runtutan peristiwa secara utuh dan dengan sangat yakin mengeluarkan keputusan tepat dan memenuhi rasa keadilan masyarakat.

Dialog demi dialog dalam film berbudget 340 ribu dollar ini, seperti mengingatkan orang tentang bagaimana seharusnya bermusyawarah, bernegosiasi, berargumentasi, mempersuasi dan dinamika yang cukup berat yang akan dihadapi dalam sebuah proses itu.

Proses musyawarah demi melahirkan keputusan tepat tidak cukup ditopang dengan kemampuan mengartikulasikan pendapat, pikiran yang jernih atau kemampuan mensimulasikan pandangan dalam bentuk yang sangat sederhana, tapi kekuatan untuk tetap konsisten melakukan semuanya.

Tetapi lebih dari itu, ketika film ini dianggap salah satu yang terbaik sepanjang masa dan perlu dilestarikan, maka ada hal menarik dari salah satu pesan utama dalam film ini dengan dinamika sosial yang terjadi sekarang.

Ketika Juri no 8 berhasil menangkis semua ilusi, keraguan dan kesalahan persepsi mayoritas Juri sehingga bisa merumuskan keputusan yang sesuai dengan kenyataan, hal ini mengingatkan kita kepada fenomena hoaks yang sedang mewabah di era digital society sekarang.

Adalah situs National Geographic Channel Indonesia, nationalgeographic.grid.id, yang baru-baru ini, 7 September 2018, mengeluarkan sebuah artikel menarik tentang hoaks. Artikel berjudul “Hindari Hoax dengan Pahami Cara Berita Palsu Mengelebui Otak” memberikan beberapa clue penting dalam menangkal hoaks yang dalam banyak hal juga sudah digambarkan dalam film ini.

Mengutip tulisan jurnalis Elizabert Kelbert dari The New Yorker, Gregorius Bhisma Adinaya, penulis artikel ini, mengingatkan tentang beberapa penelitian mengenai batasan dalam berpikir jernih.

Dimulai dari penelitian oleh Stanford disimpulkan bahwa sampai tahun 1970-an ada sekelompok akademisi yang berpendapat bahwa orang pada dasarnya tidak bisa berpikir jernih. Temuan mengherankan ini, tidak lama kemudian mendapat konfirmasi dari ribuan eksperimen setelahnya.

Kegagalan berfikir secara jernih, menjadi pangkal menyerap berita keliru yang kerap menyebar seperti virus dan menginfeksi pemahaman orang tentang apa yang benar dan tidak benar atau yang nyata dan tidak nyata. Merujuk kepada disiplin Ilmu Psikologi, menurut Adinaya keadaan ini relevan dengan konsep Psikologi “Motivated Reasoning” dari Adam Waytz. Profesor Manajemen dan Organisasi dari Nortwestern’s Kellogg School.

Motivated reasoning mengajarkan bahwa orang akan termotivasi untuk percaya pada apapun yang sesuai dan sejalan dengan pendapatnya. Dalam konteks politik, Waytz yang orang Amerika ini menyentil bahwa orang jika termotivasi untuk mempercayai hal-hal negatif mengenai Haillary Clinton atau Trump, maka orang akan cenderung mempercayai berita buruk mengenai mereka berdua. Hal yang kritis dari kondisi ini adalah, bahwa kondisi ini seiring waktu akan menjadi konsensus sosial yang keliru.

Hal ini juga diperkuat dengan fenomena “naive realism”. Sebuah kondisi dimana orang selalu menganggap bahwa pandangannya adalah satu-satunya yang akurat. Dalam polarisasi politik, orang kita bukan tidak menyetujui orang lain, orang malah menolak pandangannya.

Orang akan cepat mempercayai apa yang telah memotivasinya untuk percaya, dan seringkali menyebut suatu berita sebagai hoaks hanya karena berita tersebut tidak mendukung pandangannya akan suatu realitas.

Hal yang juga cukup menarik berkenaan dengan hal ini adalah hasil riset Steve Sloman yang berpendapat bahwasannya pikiran itu menular dan dia tuangkan dalam bukunya berjudul The Knowledge Illusion: Why We Never Think Alone. Dalam eskperimen berbasis web yang menguji 700 relawan, Sloman bersama koleganya membuat berita tentang fenomena hujan Helium yang ditemukan para ilmuwan.

Sebelum menanyakan pendapat para relawan terhadap fenomena ini, Sloman dkk lebih dahulu mengatakan bahwa para ilmuwan penemu hujan Helium pada dasarnya tidak terlalu mengerti fenomena tersebut. Lalu ketika ditanyakan pendapat relawan tentang temuan ilmuwan itu, para relawan juga mengaku tidak memahami fenomena tersebut.

Berkebalikan dengan eksperimen pertama, pada eksperimen kedua Sloman mengatakan sebaliknya. Kepada para relawan dikatakan bahwa para ilmuwan yang terlibat dalam fenomena hujan Helium, sangat mengetahui apa yang terjadi sehingga bisa menjelaskan kejadian tersebut dengan sangat baik.

Lalu ketika para relawan ditanya mengenai pemahaman mereka terhadap hujan Helium, para relawan ini mengungkap jawaban berbeda dengan penelitian sebelumya. Pemahaman para relawan pada eksperimen kedua meningkat satu angka dibanding sebelumnya. Pemahaman para ilmuwan, membantu mereka merasa paham juga.

Menurut Sloman bila fenomena ini diterjemahkan dalam dunia politik, maka pemahaman itu pada dasarnya sesuatu yang menular, “Jika semua orang di sekitar Anda mengatakan bahwa mereka mengerti mengapa seorang politisi korup, hanya dengan menonton sebuah video dari You Tube, Anda akan berpikir bahwa Anda memahami hal tersebut juga”

Begitu kira-kira faktor kenapa orang begitu rentan menyerap informasi palsu. Pertanyaanya, bagaimanakah cara mempertahankan diri dari berita palsu tersebut?

Menurut Sloman, kuncinya adalah verifikasi. Karena pada dasarnya ada potensi dalam diri masyarakat untuk peduli dengan proses verifikasi. Perlu dikembangkan sebuah norma dalam masyarakat bahwa kita harus meninjau ulang sesuatu sebelum menelannya mentah-mentah.

Untuk melakukan itu, hanya dibutuhkan satu orang untuk berkomentar mengenai satu hal dengan pandangan yang berbeda. Karena pandangan itu menular, maka satu pandangan berbeda ini lambat laun akan menular dan menjadi konsensus sosial.

Bila kembali ke film di atas, itulah yang dilakukan Juri no 8. Ketika semua juri berfikir bahwa tersangka bersalah namun beralas informasi minor dan keliru, Juri no 8 mempunyai pandangan berbeda dengan alasan sangat logis dan faktual.

Dia mengungkapkan dan mensimulasikan dengan cara yang sangat mudah difahami. Sampai pada akhirnya hoaks yang menyelimuti kepala seluruh Juri hilang dan menghasilkan keputusan yang tepat.

Bila fenomena ini kita terjemahkan dalam dunia politik sekarang adalah, dari puluhan media yang menyebar hoaks atau dari ratusan account media sosial yang memproduksi hoaks, hanya dibutuhkan satu media dan satu account media sosial yang konstan memverifikasi dan menyangkal.

Seperti yang ditunjukan Henry Fonda, pasti akan banyak hal menyakitkan dan membingungkan yang mesti dihadapi. Misalnya, dalam dinamika sosial politik Indonesia saat sekarang ini, mestinya yang bisa berfikir jernih dan lurus untuk memverifikasi segala macam hoaks adalah para pimpinan ormas, intelektual, akademisi, media dan lembaga survei.

Tetapi seperti yang kita ketahui bersama, semua komponen yang disebutkan di atas sudah terlibat begitu jauh dalam kontestasi politik. Alih-alih memverifikasi hoaks, malah sering menyebarkan dan memproduksi hoaks untuk memperkuat pilihan politiknya.[]

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

12 + 16 =

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.