Home Opini Toleransi Bermasyarakat

Toleransi Bermasyarakat

255
0
SHARE

Muhammad Arifin

Ketika mendengar kata “toleransi”, orang pada umumnya terbawa pada hubungan interaksi (pergaulan) antarumat beragama, antara penganut Islam dan penganut agama-agama lain. Tetapi sesungguhnya toleransi juga berlaku dalam hubungan antarsesama umat dalam satu agama tertentu, antarsesama pemeluk agama Islam. Dan kalau kita mau memperluas cakupannya, toleransi juga berkaitan dengan budaya, dengan pemikiran, dengan wawasan, dengan akhlak,  dengan budi pekerti, dan sebagainya.

Prinsip dasar yang membuahkan sikap toleransi adalah rasa cinta kebaikan untuk sesama manusia. Jika seseorang suka, senang, dan cinta kebaikan untuk orang lain, maka bisa dipastikan orang itu akan memiliki sikap toleransi yang tinggi. Jika kita menginginkan kebaikan untuk orang lain, misalnya, maka kita akan cenderung menganggap kecil kesalahan yang mereka lakukan kepada kita dan, karena itu, kita akan segera memaafkannya jika ia berbuat salah. Dan karakter kepribadian yang seperti itu telah dicontohkan oleh pribadi Rasulullah saw. yang memang memiliki akhlak dan budi pekerti yang sangat tinggi. Sungguh, engkau benar-benar berada di atas akhlak yang sangat agung (QS Al-Qalam [68]: 4).

Toleransi yang menjadi pembahasan kita kali ini adalah ini toleransi yang lebih berkaitan dengan lingkup masyarakat, toleransi dalam hidup bermasyarakat. Dalam lingkup masyarakat yang paling kecil, yakni lingkup keluarga, prinsip toleransi itu sudah harus kita bangun. Prinsip tenggang rasa itu sudah harus kita tegakkan, terutama dalam relasi antara suami dan istri, antara ayah dan ibu dalam sebuah keluarga. Jika pasangan kita memiliki suatu keterbatasan, kita tidak perlu menuntutnya untuk melakukan hal-hal di luar batas kemampuannya itu. Dan untuk mencapai toleransi atau tenggang rasa antara suami dan istri ini sejatinya tidak terlalu sulit, sebab pada dasaranya Allah swt. telah menanamkan rasa cinta dan kasih sayang pada diri masing-masing kita. Allah berfirman: … dan Dia menjadikan di antara kamu rasa cinta (mawaddah) dan kasih sayang (wa rahmah). (QS Ar-Rûm [30]: 21). Mawaddah dan rahmah inilah yang menjadi bekal bagi pasangan suami istri untuk selalu menenggang kekurangan, kesalahan, dan kekeliruan yang terjadi pada pasangannya.

Jika toleransi antara suami-istri atau ayah-ibu dalam keluarga ini terbangun, maka anak-anak pun akan tumbuh dan berkembang dalam suasana yang damai bahagia. Pada gilirannya, suasana seperti itu akan berpengaruh sangat besar pada kepribadian anak-anak kita di kemudian hari. Keluarga yang semacam ini juga biasanya akan memiliki ikatan emosiaonal lebih kuat daripada keluarga yang masing-masing menunjukkan sikap egonya. Karena ikatan emosionalnya tinggi dan kuat, maka jika keluarga itu menghadapi tantangan dari luar, semua anggota keluarga akan bahu membahu melawan tantangan itu sebagai musuh bersama.

Itulah sebabnya mengapa Rasulullah saw. pernah berkata kepada seorang sahabat, “Apakah kamu ingin masuk surga?” Sahabat itu menjawab, “Ya. Tentu, wahai Rasulallah.” Rasulullah kemudian berkata, “Cintailah sesuatu terjadi dan berlaku pada saudaramu sebagaimana kamu mencintai sesuatu itu terjadi dan berlaku pada dirimu.” Jika kita ingin hidup selamat, maka berilah keselamatan kepada orang lain, selamatkan orang lain. Jika kita ingin bahagia, berikan kebahagiaan kepada orang lain. Dan begitu seterusnya.

Lebih luas dari hubungan keluarga itu adalah toleransi dalam hubungan, pergaulan, atau interaksi antarsesama anggota masyarakat. Dan ini amat sangat luas cakupannya. Ada hubungan jual-beli, ada hubungan kerja, ada hubungan hukum, dan sebagainya.

Dalam hubungan jual beli, agama kita telah memberikan tuntunan yang sangat baik terkait sikap toleransi. Rasulullah saw. pernah bersabda, “Allah menyayangi (menurunkan rahmat-Nya kepada) orang yang toleran dalam menjual, toleran dalam membeli, toleran dalam beperkara hukum.” Maksudnya kurang lebih adalah jika kita berperan sebagai penjual, janganlah kita menjual barang atau jasa kita dengan harga terlalu tinggi sehingga menyulitkan pembeli. Jika kita berperan sebagai pembeli, jangan pula menawar harga terlalu rendah sehingga tidak menguntungkan penjual. Jika kita sedang terlibat perkara dengan saudara kita, jangan menuntutnya dengan tuntutan yang berlebihan. Itulah bentuk-bentuk toleransi dalam bermasyarakat.

Hadis di atas merupakan doa dari Rasulullah saw. untuk umatnya. Artinya, pedagang yang memiliki sikap toleransi dalam berdagang, pasti dagangannya akan diberkahi oleh Allah berkat doa Rasulullah saw. ini. Pembeli yang memiliki toleransi ketika membeli, transaksinya itu pun akan diberkahi oleh Allah berkat doa Rasulullah saw. ini. Karena itu, jika kita ingin keberkahan dalam usaha dagang kita, berdaganglah dengan penuh toleransi dan tenggang rasa terhadap penjual. Itulah sebabnya mengapa Rasulullah saw bersabda pula pada kesempatan lain, “Toleransilah kepada orang, maka orang akan bertoleransi kepadamu.”

Bentuk lain dari sikap toleransi dalam bermasyarakat adalah menghormati orang lain, memandang terhormat orang lain, memandang mulia orang lain, tidak melihat aib atau cela pada orang lain, lebih mengedepankan prasangka baik daripada prasangka buruk, dan sebagainya. Untuk mewujudkan sikap seperti ini pun sejatinya tidak sulit, karena Allah swt. telah menanamkan modal pokok di dalam diri kita masing-masing dari kita. Modal dasar itu adalah kasih sayang. Allah swt. berfirman: Maka berkat rahmat Allah engkau (Muhammad) berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya engkau bersikap keras dan berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekitarmu. (QS Ali Imran [3]: 159).

Dengan modal rahmat dan kasih sayang yang ditanamkan oleh Allah ke dalam diri Rasulullah saw., beliau tidak membalas keburukan dan kejahatan yang dilakukan oleh orang kepadanya. Beliau justru mendoakan dan memaafkan mereka sambil berkata, “Ya Tuhan. Mereka itu orang-orang yang tidak mengerti.”

Maksud dari ungkapan Rasulullah saw. itu dapat kita mengerti. Ucapan itu kurang lebih berarti demikian: “Jangan Engkau murkai mereka, jangan Engkau siksa mereka karena telah menyiksaku, sebab sesungguhnya sikap mereka itu lahir dari ketidaktahuan mereka.” Sungguh ini merupakan cermin dari kasih sayang dan toleransi sangat tinggi.

Allah pun mengabulkan doa sang Rasul, dan terus memerintahkan dan membimbing beliau untuk memaafkan orang-orang yang menyakitinya. Fa’fu ‘anhum washfah. Dalam ayat lain disebutkan Fashfah ‘anhum wa qul salam, fasawfa ya’lamun. Berlapang dadalah kepada mereka, dan ucapkanlah kata-kata yang baik, mudah-mudahan kelak mereka akan mengerti.

Sikap toleransi dalam bentuk menghormati orang lain, tanpa melihat latar belakang suku, etnis, bahasa, atau agamanya ini didasarkan pada satu prinsip yang sangat mendasar, yaitu bahwa kita semua adalah satu keturunan dari satu bapak: Adam a.s. Dan Allah sendiri telah memuliakan anak-anak keturunan Adam melalui firman-Nya yang artinya: Sungguh Kami telah memuliakan anak keturunan Adam. (QS Al-Isrâ’ [17]: 70). Karena Allah sendiri telah memuliakan anak keturunan Adam, maka kita pun, sesama anak keturunan Adam sejatinya harus saling menghormati dan saling memuliakan.

Ada lagi bentuk toleransi yang lebih tinggi, bahkan boleh jadi paling tinggi di antara bentuk-bentuk toleransi yang lain, yaitu toleransi dalam hal memeluk agama dan keyakinan. Pada satu sisi, Islam menegaskan kepada umatnya bahwa agama yang diridai di sisi Allah adalah agama Islam yang mengajarkan sikap berserah diri kepada Allah (QS Ali Imran [3]: 10). Pada ayat lain Allah berfirman yang artinya: Barangsiapa mencari agama selain Islam, dia tidak akan diterima, dan di akhirat dia termasuk orang yang rugi. (QS Ali Imran [3]: 85).

Kendati begitu, Allah swt. melalui ayat-ayat Al-Qur’an juga menoleransi manusia-manusia yang memilih agama lain di luar Islam. Ada ayat yang artinya “bagimu agamamu, dan bagiku agamaku” (QS Al-Kâfirûm [109]:  6). Ayat lain lagi menyebutkan “tidak ada paksaan dalam memeluk agama,” termasuk memeluk agama Islam. (QS Al-Baqarah [2]: 256).

Bahkan untuk menjadi mukmin atau menjadi kafir pun, seseorang diberi kebebasan oleh Allah. Dan katakanlah (Muhammad), “Kebenaran itu datangnya dari Tuhanmu; barangsiapa menghendaki (beriman) hendaklah dia beriman, dan barangsiapa menghendaki (kafir) biarlah dia kafir.” (QS Al-Kahf [18]:

Namun perlu kita catat, tentu saja, bahwa kebebasan di sini bukan kebebasan dalam arti liberal, bebas sebebas-bebasnya, tetapi kebebasan yang bertanggung jawab dan ada konsekuensinya. Tanggaung jawab inilah yang akan diminta dari setiap orang kelak pada hari Kiamat atas dasar pilihannya tersebut. Ini dijelaskan oleh ayat yang sama pada bagian akhir: Sungguh Kami telah menyediakan neraka bagi orang zalim, yang gejolaknya mengepung mereka.

Atas dasar sikap toleransi yang tinggi itulah, umat Islam dahulu berhasil mencapai peradaban yang tinggi. Ketika umat Islam menguasai Andalusia, kurang lebih wilayah Spanyol sekarang, banyak penduduk setempat yang tidak beragama Islam bekerja pada pemerintahan Islam dengan penuh kebebasan. Mereka tidak dipaksa untuk memeluk Islam. Karena suasana yang bebas itu, banyak di antara mereka yang bukan muslim itu kemudian menerjemahkan literatur-literatur filsafat Barat ke dalam bahasa Arab, yang semakin memperkaya khazanah pemikiran dan keilmuan Dunia Islam untuk jangka waktu yang cukup lama.

Namun sayang, belakangan ini tampaknya sikap toleransi itu sudah semakin jauh dari kita, atau tepatnya dari sebagian dari umat Islam. Semoga pada hari-hari dan masa-masa mendatang, Allah menguatkan sikap toleransi itu di dalam diri kita. []

Wallahu a’lam.

*) Diolah dari khutbah Jumat di Masjid Bayt Al-Qur’an, Kawasan SouthCity, Pondok Cabe, Tangerang Selatan, pada 22 Februari 2019.

SHARE
Previous articleMengaji Hujan
Next articleAgar Shalat Khusyu

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

fifteen − one =

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.