Home Opini Merawat Persaudaraan Kemanusiaan

Merawat Persaudaraan Kemanusiaan

567
0
SHARE
Dr. Muchlis M. Hanafi

Oleh : Muchlis M. Hanafi

Paling tidak ada dua peristiwa penting di tahun 2019 yang bisa dicatat dalam konteks membangun kehidupan dunia yang damai. Pertama, Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menetapkan tahun 2019 sebagai “Tahun Moderasi Internasional” (The International Year of Moderation). Keputusan ini ditetapkan dalam sidang pleno ke-68 Majelis Umum PBB pada 8 Desember 2017. Saat itu, dua resolusi dikeluarkan, pertama menetapkan 16 Mei sebagai “Hari Hidup Bersama dalam Damai Internasional” (International Day of Living Together in Peace), yang diselenggarakan pertama kali tahun 2018, dan kedua menetapkan tahun 2019 sebagai “Tahun Moderasi Internasional”.

Peristiwa kedua, baru saja berlangsung di Abu Dhabi. Yaitu, penandatangan dokumen bersejarah “Persaudaraan Manusia untuk Perdamaian Dunia dan Hidup Berdampingan” oleh Paus Fransiskus, pemimpin tertinggi Katholik dan Grand Syeikh Al Azhar, Dr. Ahmed At Tayyeb. Dokumen tersebut berupaya mendorong hubungan yang lebih kuat antara umat manusia. Selain itu juga mempromosikan hidup berdampingan antara umat beragama.

Dua peristiwa tersebut mencerminkan keinginan masyarakat dunia, terlepas dari perbedaan yang ada, untuk menciptakan kehidupan yang damai dan lebih berkeadilan. Di era modern saat ini, ilmu pengetahuan dan teknologi telah mengantarkan manusia kepada kemajuan di berbagai bidang. Tetapi, peradaban Barat yang materialistis-individualistik telah meminggirkan peran manusia dan kemanusiaan dari pentas kehidupan. Dunia pun mengalami krisis; ketidakadilan dalam distribusi kekayaan alam, diskiriminasi, kemerosotan moral, pengangguran, keserakahan, permusuhan dan konflik tak berkesudahan dan sebagainya.

Dalam situasi seperti ini, agama sebagai sumber nilai yang luhur harus tampil di muka. Namun sayangnya, di tangan sebagian pemeluknya agama telah berubah menjadi bagian, bahkan menjadi salah satu pemicu, konflik manusia modern. Atas nama agama mereka saling membunuh. Atas nama agama mereka saling mencaci. Atas nama Tuhan mereka bermusuhan, menebar ujaran kebencian dan kekerasan.  Masih melekat dalam ingatan kita, apa yang dikatakan para pembunuh Khalifah usman dan Amirul Mu`minin Sayyiduna Ali, “Ya Allah, terimalah jihadku untuk-Mu, jihadku di jalan-Mu, dan pembelaanku terhadap agama-Mu.” Atas nama Tuhan dan agama mereka halalkan segala cara, meski dengan kebencian dan kekerasan.

Piagam persaudaraan kemanusiaan untuk hidup berdampingan mengingatkan kita akan Piagam Madinah. Sebuah dokumen yang merajut kebersamaan seluruh komponen warga masyarakat Madinah dengan segala keragaman yang ada. Semua warga Madinah, tanpa terkecuali, terlepas dari perbedaan agama dan kabilah, memiliki hak dan kewajiban yang sama.

Sejak awal membangun masyarakat Madinah Nabi membangun hubungan antara sesame warga masyarakat tanpa ada pembedaan, atau diskriminasi. Dalam pandangan Islam, semua manusia setara bagaikan gigi-gigi sisir. Semua berasal dari satu unsur. Semua berasal dari Adam. Dan, Adam tercipta dari tanah. Tidak ada seorang pun yang memiliki keistimewaan atas orang lain dari segi kemanusiaan. Hanya ketakwaan yang membedakannya di mata Tuhan. Agama mengajarkan kepada kita untuk mencintai saudara kita atau orang lain sebagaimana kita mencintai diri sendiri.

Dalam konteks ini patut direnungkan kembali ungkapan Sayyiduna Ali yang menyatakan bahwa manusia itu ada dua kategori; saudara denganmu seagama, atau setara denganmu dalam kemanusiaan. Ungkapan yang disampaikan kepada Gubernur Mesir pada masa kekuasaannya itu memberi pesan kuat tentang agama dan kemanusiaan yang diposisikan berdampingan. Ikatan atau identitas keagamaan tidak sepatutnya memutus tali hubungan kemanusiaan. Agama dan kemanusiaan bukan untuk dihadap-hadapkan. Apalagi dibeda-bedakan. Agama justru datang untuk kemanusiaan. Agama datang untuk memanusiakan manusia, dengan cara memelihara agamanya, jiwanya, akalnya, kehormatannya dan hartanya.

Misi kemanusiaan ditegaskan sejak awal oleh Rasulullah Saw. Ketika ditanya oleh seseorang, pesan-pesan apa yang kau bawa dari Tuhanmu? Nabi Muhammad menjawab, Aku diperintahkan untuk menyambung hubungan kekerabatan (silaturahmi), menghentikan pertumpahan darah, mengamankan jalan, menghancurkan berhala, sehingga hanya Allah semata yang disembah dan tidak ada sekutu bagi-Nya”. Mendengar penjelasan itu, orang tersebut berkata, Alangkah indahnya ajaran yang kau bawa. Saksikanlah, aku beriman kepadamu dan aku membenarkan apa yang kau bawa itu.” (HR. Ahmad)

Kita tahu, pokok ajaran agama yang dibawa oleh Nabi Muhammad, bahkan juga seluruh nabi dan rasul, adalah mengajak kepada tauhid. Qul innamâ ana basyarun mitslukum  yûhâ ilayya annamâ ilâhukum ilâhun wâhid. Meski demikian, sebelum bicara tauhid, dalam memperkenalkan ajarannya Nabi mendahulukan tiga hal, yaitu: 1) menyambung hubungan silaturahmi, sehingga tercipta kekeluargaan dan kekerabatan yang harmonis, yang menjadi cikal masyarakat yang aman dan damai; 2) menghentikan pertumpahan darah, atau dengan kata lain, memberikan jaminan hidup dan kehidupan, dan; 3) mengamankan jalan, atau menjaga ketertiban umum. Baru setelah itu Nabi menyebut “menghancurkan berhala” dan “menyembah Allah semata”.

Ikatan kebersamaan dalam agama dan ikatan hubungan kemanusiaan sangat diperlukan dalam upaya membangun dunia yang penuh dengan kerukunan dan kedamaian, meski berbeda agama dan suku bangsa. Allah berfiman, “Hai manusia, Sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa – bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu disisi Allah ialah orang yang paling taqwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.” (QS. Al Hujurat [49] : 13)

Dari saling mengenal (ta`aruf) akan lahir pengakuan dan kerjasama (ta`awun), dan dengan saling mengenal akan lahir sikap saling menghormati (tasâmuh). Menghormati tidak selamanya identik dengan menerima pandangan orang lain, apalagi merestui, menyukai dan mengikutinya. Menghormati orang lain berarti menerima orang lain untuk hidup berdampingan dalam suasana damai untuk kemaslahatan bersama tanpa mengusik, apalagi mengganggu agama dan keyakinan masing-masing.

Sebagai bangsa Indonesia kita patut bersyukur. Dengan negara kepulauan yang terbentang luas dari sabang sampai merauke, terdiri dari 17.500 pulau, 714 suku bangsa, dan 652 bahasa daerah, kita dapat menjaga persatuan dan kesatuannya selama hampir 74 tahun. Luas daratan dan lautannya hampir sebanding dengan daratan Barat, tetapi Eropa terbagi menjadi 46 negara. Atau bandingkan dengan Timur Tengah yang berjumlah 16 negara, dengan wilayah yang lebih kecil dari Indonesia. Tetapi Kawasan tersebut tidak pernah sepi dari konflik etnis, sekte dan yang bernuansa agama.

Cara terbaik untuk mensyukurinya adalah dengan menjaga keutuhannya dengan merawat persaudaraan kebangsaan (ukhuwwah wathaniyyah) dan persaudaraan kemanusiaan (ukhuwwah insaniyyah).

Allah Swt. berfirman di dalam Al Quran, “Dan janganlah kamu seperti seorang perempuan, yang menguraikan benangnya yang sudah dipintal dengan kuat, menjadi cerai berai kembali, kamu menjadikan sumpah (perjanjian)mu sebagai alat penipu di antaramu, disebabkan adanya satu golongan yang lebih banyak jumlahnya dari golongan yang lain. Sesungguhnya, Allah hanya menguji kamu dengan hal itu. Dan sesungguhnya, di hari kiamat, akan dijelaskan-Nya kepadamu apa yang dahulu kamu perselisihkan itu.” (QS. An Nahl [16] : 92)

Sesama umat Islam kita perlu menjaga ukhuwwah dîniyyah (persaudaraan seagama). Dan sesama anak bangsa lainnya, di atas perbedaan agama, sekte, golongan, suku dan bahasa ada semangat kebangsaan dan rasa kemanusiaan yang harus dijunjung tinggi. Atribut atau identitas apa pun boleh berbeda, tetapi sesama anak bangsa, dan sesama manusia, kita harus saling menghormati.[]

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

four × 3 =

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.