Home Opini Tantangan dan Kebangkitan Sektor Pertanian Sebagai Tonggak Perekonomian Negara

Tantangan dan Kebangkitan Sektor Pertanian Sebagai Tonggak Perekonomian Negara

75
0
SHARE

Oleh : Fitria Puspitasari

Mahasiswi Program Studi Akuntansi, Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Mercu Buana. 

Mampukah sektor pertanian menjadi sandaran perekonomian negara?

Lebih dari 200 negara di dunia sedang menghadapi serangan Coronaviruses disease (COVID-19) yang bermula dari Wuhan, Tiongkok. Berbagai macam tindakan serta aturan diberlakukan diberbagai belahan dunia untuk menekan penyebaran Covid-19 yang secara masif terus memakan korban, tak terkecuali Indonesia.

Sebagai negara dengan jumlah penduduk terbanyak ke-4 di dunia, tentunya Indonesia memiliki ancaman baru ketika Covid-19 memasuki wilayah nusantara. Bukan hanya mengancam keselamatan dan kesehatan suatu negara, namun juga mengancam pertumbuhan ekonomi suatu negara.

Sebagai salah satu sektor inti, sektor pertanian tidak luput dari keganasan Covid-19. Berbagai permasalahan pun muncul secara beriringan, mengakibatkan melemahnya peran sektor pertanian terhadap perekonomian nasional. Terbukti pada kuartal I/2020, disaat sektor lain berperan baik terhadap perekonomian, sektor pertanian justru tumbuh stagnan, pertumbuhannya tidak bergerak sama sekali alis 0 persen.

Sektor pertanian yang digadang-gadang menjadi tiang sandar perekonomian nasional justru menunjukkan tren negatif  ketika Covid-19 memasuki Indonesia.

Babak Baru

Saat ini, Covid-19 menjadi teror yang menakutkan. Tak terelakan, sektor vital yang menjadi andalan negara pun ikut terkena imbasnya. Sektor pertanian yang menjadi tameng pertahanan pangan negara menunjukkan gejala tidak baik dari dampak Covid-19. Petani yang menjadi subjek tunggal ketahanan pangan nasional justru yang paling terkena dampaknya dari krisis ketahanan pangan.

Akibatnya, di saat pandemi ini harga komoditas pertanian terus menurun yang menyebabkan kerugian dan membahayakan kelangsungan hidup para petani. Petani tidak memiliki kemampuan untuk membeli bibit tanaman yang harganya kian melonjak sehingga dapat menambah jumlah pengangguran di Indonesia.

Sebagai contoh, berdasarkan cek harga Kementerian Pertanian (Kementan), SIHARGA, harga cabai keriting di pasar Yogyakarta yang semula Rp. 70.000/kg pada awal bulan Februari 2020 terjun bebas menjadi Rp. 17.500/kg pada bulan April 2020, sementara pada tingkat petani harga cabai keriting hanya Rp. 7.000/kg.

Menurunnya harga komoditas pertanian disebabkan oleh beberapa faktor.

Pertama, sulitnya akses transportasi dan pembatasan sosial menjadi penyebab terganggunya distibusi bahan pangan ke berbagai wilayah. Hal tersebut juga akan berimbas terhadap kualitas kesegaran bahan pokok yang berakibat menurunnya harga bahan pangan dibeberapa wilayah di Indonesia.

Kedua, terjadinya Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) secara besar-besaran akibat adanya pandemi Covid-19 yang mengakibatkan menurunnya daya beli masyarakat.

Ketiga, terhentinya berbagai aktivitas-aktivitas di luar rumah dan tutupnya perhotelan, tempat wisata, dan tempat kuliner yang menjadi alasan menurunnya permintaan bahan pangan.

Pandemi Covid-19 juga mengancam kesejahteraan dan kesehatan para petani. Menurut sumber data Badan Pusat Statistik (BPS), Nilai Tukar Petani (NTP) secara nasional pada bulan Mei 2020 sebesar 99,47 persen atau turun 0,85 persen dibanding bulan sebelumnya. Penurunan NTP dikarenakan Indeks Harga yang Diterima Petani (It) turun sebesar 0,86 persen, lebih besar dari penurunan Indeks Harga yang Dibayar Petani (Ib) turun sebesar 0,01 persen.

Penurunan NTP juga dibarengi dengan menurunnya Indeks Konsumsi Rumah Tangga (IKRT) sebesar minus 0,07 pada bulan Mei lalu yang disebabkan oleh turunnya indeks di kelompok makanan, minuman, dan tembakau.

Pekerjaan petani yang mengharuskan mereka bekerja di luar rumah ditambah lagi mayoritas (lebih dari 50 persen) tenaga tani di Indonesia berusia 45 tahun ke atas menjadi penyebab terancamnya kesehatan mereka. Banyak penelitian menyebutkan bahwa usia senja menjadi subjek yang paling rentan terpapar Covid-19.

Jurus Jitu yang Perlu Dilakukan

Berbagai strategi perlu dilakukan agar sektor pertanian dapat segera bangkit dan dapat menjaga ketahanan pangan selama pandemi.

Pertama, pemerintah dan lembaga-lembaga daerah harus membantu dan mendorong agar para petani dapat bekerjasama dengan e-commerce dan membentuk koperasi tani sebagai bentuk strategi untuk mendorong kecepatan distribusi dan menstabilkan harga jual hasi pertanian serta menghindari ketergantungan pada tengkulak.

Kedua, pemerintah sebagai pemberi kebijakan harus membantu rakyatnya, terkhusus dalam kondisi seperti ini adalah para petani yang terganggu usahanya. Langkah yang harus diambil oleh pemerintah adalah dengan mengalokasikan anggaran yang lebih besar terhadap sektor pertanian seperti bantuan benih atau bibit supaya petani dapat terus bekerja dan memperoleh penghasilan.

Ketiga, Pulau Jawa adalah sentra penghasil produk pangan, namun Pulau Jawa lah yang terus menerus mengalami penurunan harga komoditas pangan sedangkan wilayah lain terjadi pelonjakan harga yang cukup tinggi. Oleh karena itu, pemetaan ulang dapat bertujuan untuk menjaga ketersediaan pangan dan menjaga stabilitas harga bahan pangan di seluruh wilayah Indonesia khususnya daerah rawan pangan supaya tidak terjadi kelangkaan.  Dengan stabilnya harga pangan, kesejahteraan petani pun akan terjamin dan dapat memenuhi kebutuhan hidupnya dengan baik sehingga dapat meningkatkan kesehatan para petani.

Titik Terang

Sektor pertanian pun mulai menunjukkan taringnya dan bersiap bangkit. Disaat sektor lain terpuruk, sektor pertanian menjadi satu-satunya yang cemerlang dalam hal ekspor. Setiap bulannya selalu konsisten menampilkan grafik menanjak.

Pada bulan Juni 2020, sektor pertanian kembali menjadi primadona. Berdasarkan sektornya, tercatat nilai ekpor sektor pertanian tumbuh sebesar 18,9 persen dibanding bulan Mei 2020. Bahkan pertumbuhan ekspor bulan Juni 2020 jauh lebih tinggi daripada bulan Juni 2019.

Komoditas pertanian yang berperan besar dalam ekspor bulan Juni 2020 diantaranya komoditas kopi, tanaman obat aromatik dan rempah, biji kakao, dan sarang burung walet.

Bukan hanya nilai ekspor, namun juga Nilai Tukar Petani (NTP)  dan upah Upah Harian Buruh Tani Nasional pun ikut menanjak. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) NTP bulan Juni 2020 sebesar 99,60 persen atau naik 0,13 persen dibanding bulan sebelumnya.

Sedangkan Upah Harian Buruh Tani bulan Juni 2020 naik sebesar 0,19 persen dibanding bulan sebelumnya, dari Rp55.396,00 menjadi Rp55.503,00 per hari. Sementara itu, upah riil buruh tani mengalami kenaikan sebesar 0,11 persen. 

Tren positif tersebut tidak terlepas dari upaya semua pihak termasuk para petani. Para petani perlu diapresiasi sebagai hasil nyata kerja keras mereka dalam memenuhi kebutuhan pangan selama masa pandemi.

Namun perlu diingat juga, bahwa para petani adalah subjek yang rentan terhadap paparan Covid-19. Pemerintah harus memperhatikan kesehatan para petani seperti pengecekan kondisi kesehatan gratis secara berkala dan penyuluhan bagaimana mematuhi protokol kesehatan serta pencegahan terhadap penyebaran Covid-19.

Selain itu, upah buru tani dibeberapa daerah masih di bawah upah minimun yang seharusnya. Hal tersebut menunjukkan bahwa kenaikan upah belum dapat dirasakan secara merata. Kesejahteraan petani masih belum berada pada titik aman, mereka yang berjuang untuk nasional dihargai sebesar harga daerah.

Kalau seperti ini terus, para petani akan menyerah dan memilih untuk gantung cangkul dibanding harus terus merasakan kemiskinan yang tidak ada ujungnya.[]

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

5 + six =

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.