Home Opini DEKONTRUKSI

DEKONTRUKSI

133
0
SHARE

Oleh: Aguk Irawan

Kata, di balik maknanya yang cenderung satu arah itu, terkadang bisa berlawanan. Ia punya elemen yang disebut Jacques Derrida sebagai “relatif”, “terbalik” dari “makna sentral” atau dari sifatnya yang “clousure” ke “central meaning.”

Penegasan Derrida terkait pengambilan makna dari kata itu, setidaknya didasarkan pada dua alasan pokok. Pertama, makna adalah hak dan ruang privat bagi pembaca (reader-centered). Kedua, bahasa tak bisa dilepaskan dasi aspek simbol, psikologi dan ruang. Karenanya, mencari makna yang orisinal itu omong kosong.

Dengan dua langkah itu. Maka tiap kata itu berpotensi menunjukkan sebuah aksi; pluralistik dan subyektif, bukan sebaliknya, tertutup, searah dan satu kesimpulan. Bahkan, boleh jadi disana ada proses “permainan” dari sistem tanda (sign-system). Pemahaman ini lalu disebut sebagai dekontruksi.

Dengan mengikuti nalar Derrida ini, boleh saja, misalnya seorang memahami bahwa deklarasi klaim “kemenangan” pihak 02 belakangan ini, sebenarnya makna yang ditangkap dari audians, justru sebaliknya. Yaitu “kekalahan.” Disana seperti ada proses “menjebol” makna yang searah itu menjadi berbalik, sekaligus mematahkan pandangan, bahwa makna dari kata itu akan terus tetap dan tertutup.

Lalu, jika itu bermakna kekalahan. Pertanyaan selanjutnya adalah, kenapa mesti “sujud syukur” dan “dirayakan?” Ini jika kita pakai pandangan Badiou, adalah tiap sebuah “kejadian” tak pernah terlepas dari dunia simbol dan tekanan psikologis: tiap ikatannya tak pernah utuh, maka “kejadian” itu seakan-akan memberi sinyal positif, bahwa kuasa dan tahta itu adalah ujian berat, bagi yang punya super kehati-hatian, terhindar darinya patut disyukuri.

Tetapi di luar makna dekontruksi itu, memang mayoritas ahli bahasa meyakini, makna itu bersifat obyektif. Antara kata dan makna, punya hubungan yang harmonis, searah dan lurus. Tapi, setidaknya dengan pendekatan makna obyektif dan subyektif ini, nalar kita bisa terbuka menerima segala kemungkinan, tanpa harus menabur aroma kebencian dan fanatisme buta. Wallahu’alam.

Kasongan, 20 April 2019.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.