Home Opini Krisis Regenerasi Petani dan Arah Tujuan Generasi Milenial

Krisis Regenerasi Petani dan Arah Tujuan Generasi Milenial

89
0
SHARE

Oleh : Fitria Puspitasari

Mahasiswi Program Studi Akuntansi, Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Mercu Buana. 

Mampukah Indonesia menjadi lumbung pangan dunia tahun 2045?

Indonesia memiliki predikat sebagai negara agraris karena mayoritas penduduknya bekerja pada sektor pertanian. Pada tahun 1984, Indonesia berhasil mewujudkan swasembada beras dengan produksi 25,8 ton. Pencapaian tersebut mendapatkan apresiasi berupa penghargaan dari Organisasi Pangan dan Pertanian Dunia (FAO atau Food and Agriculture Organization) pada tahun 1985.

Berdasarkan ketentuan FAO, suatu negara dikatakan mencapai swasembada apabila dapat memenuhi 90 persen dari kebutuhan nasional dan maksimal 10 persen melakukan impor.

Pada dasarnya, sektor pertanian adalah sektor kunci bagi ketahanan pangan nasional karena pangan merupakan kebutuhan mendasar manusia untuk bertahan hidup. Tidak diragukan lagi, sektor pertanian menjadi tumpuan hidup sekitar 27,33 persen penduduk usia kerja yang menjadikan pertanian sebagai sumber penghasilan mereka.

Namun, bekerja sebagai petani rupanya tidak menjadi minat utama lagi saat ini. Petani dikenal sebagai kaum miskin dan tidak memiliki prospek masa depan. Penyusutan tenaga kerja pertanian terus terjadi setiap tahunnya yang jika tidak dihentikan maka Indonesia dipastikan krisis tenaga tani dimasa mendatang.

Darurat Tenaga Pertanian

Dalam 10 tahun terakhir sektor pertanian terus mengalami penyusutan jumlah tenaga kerja. Berdasarkan data Statistik Ketenagakerjaan Sektor Pertanian, pada bulan Februari tahun 2020 jumlah tenaga kerja pertanian mencapai 35,00 juta orang atau 20,70 persen dari jumlah angkatan kerja secara keseluruhan. Dibandingkan dengan bulan Februari tahun 2019 sebesar 35,42 juta orang, maka jumlah tersebut mengalami penyusutan sebesar 1,17 persen. 

Generasi tenaga kerja pertanian terus terancam dan kian menyusut jumlahnya. Beberapa faktor menjadi alasan terus berkurangnya tenaga kerja sektor pertanian.

Pertama, terus menyusutnya lahan pertanian di Indonesia. Hal tersebut terjadi akibat mahalnya harga benih atau bibit komoditas pertanian dan terus meningkatnya harga pupuk, sedangkan para petani memiliki keterbatasan modal untuk meningkatkan produktivitasnya.

Karena tuntutan untuk menghidupi keluarganya yang bergantung dengan bertani mau tidak mau mereka harus mencari alternatif lain seperti menjual lahannya untuk kepentingan jalan tol atau beralih ke pekerjaan lain untuk terus menyambung hidup. Berkurangnya lahan juga akan mempengaruhi jumlah produksi pangan yang bisa mengancam kedaulatan pangan nasional karena akan bergantung terhadap impor negara lain.

Kedua, kesejahteraan petani yang masih senjang. Petani Indonesia memang masih rawan terhadap kesejateraan sehingga petani dikenal dengan kaum miskin. Meskipun data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan bahwa upah buruh tani pada bulan Juni tahun 2020 sebesar Rp 55.503 per hari naik 0,19 persen dibanding bulan Mei tahun 2020 sebesar Rp 55.396, namun di beberapa daerah upah buruh tani masih di bawah upah minimum yang artinya kenaikan upah belum dirasakan secara merata dan belum terealisasikan secara menyeluruh.

Ketiga, urbanisasi yang kian meningkat. Banyaknya masyarakat desa yang bepikir bahwa kota lebih baik menjadi alasan mereka melakukan urbanisasi untuk mengadu nasib yang lebih baik. Keadaan ini akan menyebabkan jumlah penduduk desa berkurang yang juga mengakibatkan regenerasi tenaga pertanian semakin sulit untuk dilakukan.

Keempat, generasi milenial yang enggan terjun menjadi petani menjadi penyebab utama dari sulitnya regenerasi tenaga kerja pertanian. Anak muda zaman sekarang lebih tertarik menjadi karyawan kantoran yang berangkat pagi dan pulang sore, duduk di bangku nyaman, dan menerima gaji rutin setiap bulan dibanding harus bekerja di ladang, membawa cangkul, bermain dengan lumpur, dan bersenda gurau dengan alam. 

Upaya Regenerasi

Regenerasi tenaga pertanian terus digaungkan agar sektor pertanian dapat terus diandalkan dan tidak menghilangkan gelar Indonesia sebagai negara agraris. Zaman sudah semakin moderen, maka pertanian Indonesia dituntut untuk selalu berinovasi dan melakukan suatu gebrakan agar pertanian Indonesia terus tumbuh dan bergerak maju.

Belum lagi cita-cita besar Indonesia yang ingin menjadi lumbung pangan dunia tahun 2045 yang tentu saja jika berhasil diwujudkan akan menjadi suatu kebanggaan yang tak ternilai dan menjadi sejarah bagi pertanian Indonesia. Untuk mencapai itu semua tentunya dibutuhkan berbagai upaya nyata agar keinginan tersebut bukan hanya sekedar menjadi mimpi belaka.

Pertama, modernisasi pertanian (alistan). Saat ini tidak ada yang tidak bisa dilakukan dengan teknologi. Teknologi memiliki peran penting untuk meningkatan produktivitas pertanian dan dapat memangkas biaya produksi sampai 30 persen. Teknologi juga dapat menjadi alternatif dari menyusutnya jumlah tenaga kerja pertanian.

Kedua, meningkatkan kesejahteraan petani. Pemerintah dapat melakukan pembinaan terhadap petani untuk melakukan diversifikasi komoditas pertanian yang memiliki profit tinggi sehingga dapat meningkatkan pendapatan petani.

Ketiga, ekspansi lahan. Hingga saat ini, sentra produksi pertanian masih berpusat di Pulau Jawa yang kenyataannya kian menyempit. Oleh karena itu, membuka lahan pertanian di luar pulau Jawa dapat menjadi salah satu solusi tepat memperluas lahan pertanian.

Keempat, investasi sektor pertanian. Sektor pertanian merupakan sektor yang memiliki prospek baik apabila diberikan suntikan dana yang cukup. Bukan hanya produktivitasnya yang meningkat, tapi juga dapat mengurangi jumlah pengangguran karena pertanian menjadi sumber penyerap tenaga kerja terbanyak di Indonesia.

Kelima, pembangunan sarana penunjang seperti waduk, irigasi, dan jalan menuju lahan pertanian. Keenam, sosialisasi tentang pertanian moderen untuk menarik kaum milenial.

Ketujuh, peran orang tua sangat penting untuk menentukan nasib anaknya dimasa depan. Orang tua diharapkan dapat menanamkan minat bertani kepada anaknya sebagai salah satu pekerjaan yang layak dan menjanjikan. Belum lagi kaum milenial yang lebih melek teknologi sehingga semakin mempermudah mereka dalam mensukseskan dan memoderenisasikan sektor pertanian.

Sumber utama regenerasi tenaga kerja sektor pertanian adalah generasi milenial karena generasi tersebutlah yang mendominasi jumlah penduduk di Indonesia. Untuk menarik minat kaum milenial menjadi petani, tentunya harus dimulai dengan mengubah persfektif mereka terhadap pertanian. Jadikan pertanian adalah suatu pekerjaan yang elit layaknya bekerja di kantor, bukan sektor rendahan, dan dapat memiliki masa depan cemerlang.

Dukungan berbagai pihak seperti pemerintah, swasta, universitas, dan juga masyarakatnya sendiri sangat penting untuk terus melakukan inovasi dan memajukan teknologi sektor pertanian. Sebagai contoh, Indonesia dapat terus mensosialisasikan Indoor Farming dan Urban Farming sebagai solusi menyempitnya lahan pertanian di perkotaan.

Tepat ditahun ke-100, Indonesia ingin mewujudkan cita-cita besarnya menjadi lumbung pangan dunia. Hal tersebut sedikit tidak realistis karena Indonesia yang menjadi negara agraris saja masih mengimpor bahan pangan dari negara yang notabenya tidak sekaya Indonesia.

Namun, apabila Indonesia dapat memaksimalkan upaya regenerasi dan terus bertekad melakukan pembaruan terhadap sektor pertanian, maka cita-cita menjadi lumbung pangan dunia bukan hal yang mustahil. Ibu pertiwi, semoga mimpimu segera terwujud![]

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

nineteen − 1 =

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.