Home Opini Objektivisme versus Subjektivisme Politik

Objektivisme versus Subjektivisme Politik

386
0
SHARE

Oleh : Arsyul Munir, Lc, MA

Belakangan ini, jagat etalase kehidupan politik negeri nun jauh di sana semakin terasa bergairah. Suhu didih dinamikanya mendekati ratusan derajat fahrenheit. Nyaris, setara laju kendaraan lawas tahun 90-an tanpa rem pakem. Tak mengherankan, jika banyak komponen nalar anak bangsa yang aselinya sehat sentausa mendadak gegar otak.

Persis gegara itu, hubungan antar sanak kerabat turut awut-awutan. Sesama rekanan seagama, seorganisasi, sekantor, sepasar, sesekolah, senasib, seperjuangan dan sepenanggungan pun tetiba retak-retak; saling tekel, banting, tindih, hingga cakar-cakaran akut. Tak peduli soal urusan moral, itu sih norma kuno. Primitif. Hari ini, esensinya tak lebih penting dari rasa keakuan komunal yang serba subjektif. Asal situ mangkrak –semangkrak-mangkraknya, siapapun bebas tertawa –sepuas-puasnya. Rumusnya, berbahagialah di atas penderitaan orang lain setinggi-tingginya. Atas nama objektivitas, selama itu melumerkan hasrat kepuasan hewani seseorang yach baik-baik saja. Tentu, ukurannya adalah standar kepantasan dalam jihad kekuasaan. Asyik. Religius. Namun merusak.

Berpolitik secara objektiv, mungkinkah [?] Satu kata, mustahil. Finalitas jawaban ini bersifat autentik. Karena itu, undebatable. Tapi Anda boleh saja tak setuju. Bebas, asal bersyarat. Hanya paling tidak, selama proses observasi tingkat tinggi terhadap beragam model organisme politis [zoon politicon], –baik  di dunia nyata terlebih maya– ditemukan sebuah gejala sosial umum sebagai manifestasi kekerasan kata-pikiran [verbum mantis] yang diobjektivikasi secara simultan hingga menjadi sebentuk perilaku politik yang –meminjam istilah Jurgen Habermas– abnormal.

Sampai titik tersebut, semua anasir partisan, pendukung, pengekor dan penguasa esensial yang tergabung ke dalam gerombolan pencari kekuasaan [GPK] adalah abnormal. Klasemen penampakan abnormalitas paling parah –sementara ini–,  ada di dunia permedsosan; situs-situs mainstream dan marginal, blog-blog diary abal-abal, hingga wag, fb, twitter dan lain seterusnya –nyaris saban hari membombardir dan menggerus nalar pemirsa setianya dengan seabrek nilai-nilai sektarian berbau ideological insight sekaligus based on vested interested. Right or wrong, it is my idol.

Objektivitas sendiri sebetulnya barang bagus. Berasal dari kata latin, objekctivus. Bermakna objectum [objek] yang tidak bias, alias berdiri sendiri tanpa keterlibatan abnormalitas sebagai kenyataan modal subjektif. Itulah mengapa dalam konteks eskalasi politik hari ini, objektifitas menjadi barang langka yang mahal. Fenomena tawuran retorika yang bertabur prejudice nan cenderung pejorative –setidaknya, membuktikan dominasi arus subjektifisme para pendukung kontestasi politik yang urakan. Untuk sekedar saling toleran, apalagi saling mengakui kelebihan masing-masing dan akur secara aktif saja rasanya memang mental. Ibarat dunia fatamorgana. Adanya adalah ketiadaan. Ketiadaannya adalah keniscayaan. Ironi.

Dari perspektif filosofis, penyebabnya bisa banyak hal. Namun keseluruhannya berpuncak pada apa yang Sir Francis Bacon segel sebagai idola mentis [the idols of the mind]. Konsekuensinya, siapapun yang egosentrismenya masih lebih mengangkangi kemandirian, keajegan, rasionalitas dan objektivisme dalam melahirkan sikap-sikap sosio-politis yang modern, maka ke-washathiah-annya agak patut diragukan sebagai hanya simbol belaka [ikonoklasme].

Lebih spesifik, kungkungan entitas idolatry yang seringkali menghalang-halangi terwujudnya cita-cita tentang keobjektifan-terukur [res extensa], baik pada aspek perilaku, tindakan maupun pikiran seseorang, biasanya dapat dikategorisasi ke dalam 4 warna komplementaris; Pertama, idola tribus [idols of the tribe] yang berarti kekangan yang berawal dari refleksi alamiah manusia yang bersifat subjektif secara adikodrati; Kedua, idola specus [idols of the cave] yang berasal dari tendensi-tendensi pemikiran partikular yang diinisiasi oleh sebuah konstruksi masyarakat sosial tertentu [kelompok, organisasi, partai, komunitas, lembaga-lembaga nir-laba dan profesional, serta institusi setingkat negara dan lain seterusnya].

Ketiga, idola theatri [idols of the theatre] yang bermuara pada sistem nilai yang terlahir dari para tokoh sentral pemikiran kelas dunia, dan; Terakhir, idola fori [idols of the market place/idols of the forum] yang biasanya terkapitalisasi secara massiv oleh unsur media dalam kapasitasnya sebagai alat propaganda opini publik untuk kepentingan ideologi penguasa berikut kemaslahatan para kroni.

Itulah mengapa memperbincangkan etos moral dalam dunia integritas perpolitikan yang serba subjektif-transaksional seperti kenyataannya hari ini, tampaknya betul-betul hopeless. Tak lebih tak kurang.

Hadza wa Allahu Ta’ala ‘Alam.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

eleven − 1 =

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.