Home Opini Mencegah Hoax dengan al-Jarh wa at-Ta’dil

Mencegah Hoax dengan al-Jarh wa at-Ta’dil

386
0
SHARE

Oleh : Mu’tashim El Mandiri

Kandidat Doktor Hadith di Omdurman Univ. Sudan

Kalimat al-jarh wa at-ta’dil merupakan sebuah istilah yang unik dan khas dalam materi pembahasan disiplin Ilmu Hadith. Secara etimologi kalimat ini merupakan satu dari kesatuan pengertian yang terdiri dari dua kata, al jarh yaitu luka pada tubuh orang lain dengan ditandai mengalirnya darah dari luka itu. Attajrih berarti menyifati seseorang dengan sifat-sifat yang membawa konsekwensi rendahnya kualitas orang tersebut. Sedangkan at-ta’dil diambil dari kata al-‘adl yang berarti sesuatu yang terdapat dalam jiwa yang bersih, lurus atau merupakan lawan dari jiwa yang hancur dan salah. Maka at-ta’dil berarti menilai positif pada diri orang lain sehingga setiap apa yang disampaikannya adalah kebenaran.

Dalam konteks displin ilmu Hadith, kombinasi dari dua kata ini melahirkan terminologi yang syarat akan makna dan fungsi. ilmu al-jarh wa at-ta’dil ialah suatu cabang ilmu pengetahuan yang fokus membahas tentang penilaian lemah (dhu’f) atau baiknya (‘adl) seorang rawi dari sisi keagamaannya dan kualitas keperawiannya, sehingga hal itu akan berdampak positif maupun negatif atas apa yang akan disampaikannya dari pesan-pesan sakral Agama (Hadith) kepada orang lain. Maka al-jarh wa at-ta’dil dapat diposisikan sebagai alat kontrol bagi para perawi hadith dalam menerima maupun menolak hadith yang didapatinya.

Demikian pula hoax (dibaca: hoks) yang bersumber dari bahasa Inggris yang berarti tipuan, menipu, berita bohong/palsu, kabar burung. Atau secara umum hoax diartikan sebagai sebuah pemberitaan palsu untuk menipu atau mengakali orang lain dengan tujuan membuat opini publik, menggiring opini, membentuk persepsi atau sekedar berkelakar mencari sensasi.

Hoax seperti halnya jarh (luka) atau kekurangan. Seseorang yang menyebarkan hoax adalah mereka yang ingin menggiring opini dengan maksud membuat kekacauan pada kondisi tertentu atau menyerang diri seseorang yang dibencinya atau bermaksud menjatuhkan harga dirinya.

Kasus hoax Ratna Sarumpaet (RS) yang ramai diperbincangkan akhir-akhir ini mulai dari elite politikus hingga kelompok grass root di seantero negeri menjadi sangat heboh bahkan menduduki trending topik di media sosial (medsos). Tentu ini bukan pertama kali hoax yang diperbincangkan banyak khalayak umum, karena begitu banyak konten-konten negatif yang bermuatan hoax tersebar luas di masyarakat melalui medsos seiring dengan kemajuan teknologi, tingkat pendidikan masyarakat, kurangnya edukasi literasi digital hingga ragam kepentingan/interest terlubung, hal itu mendorong mereka giat menyebarkan informasi yang mengandung konten negatif hampir dalam hitungan menit hingga jam.

Terlepas dari dampak elektoral pada masing-masing pihak yang berkepentingan dalam pilpres, kasus hoax yang diciptakan oleh Ratna Sarumpaet ini juga mengakibatkan kerusuhan sosial di tengah masyarakat, terutama umat Islam. Sosok RS yang dianggap sebagai tokoh publik karena posisinya sebagai aktivis dan juga seorang muslimah yang baru masuk Islam, tentu membuat banyak orang kecewa serta mengutuk keras perbuatan ini. Maka, sebagai umat Islam yang anti dengan pemberitaan bohong seperti ini perlu mengantisipasinya dengan pendekatan ajaran Islam.

Apa hubungan antara al-jarh wa at-ta’dil dalam ilmu Hadith untuk mencegah dari penyebaran berita hoax di masyarakat? Metode ini diharapakan sebagai alat kontrol sosial dalam mencegah penyebaran konten-konten negatif yang mengandung hoax. Pada tataran praktek, jika di dalam penelitian keshahihan sebuah hadith tidak bisa terlepas dari penelitian terhadap pembawa hadith itu sendiri dalam hal ini seorang perawi, terutama terkait integritas, kredibilitas (‘adalah), maka untuk mencegah penyebaran berita-berita hoax pun demikian, perlu memperhatikan sosok siapa yang menyebarkan berita hoax tersebut.

Hal ini menjadi penting, karena kebenaran sebuah berita tergantung pada siapa yang membawanya. Berita yang benar bisa menjadi salah jika pembawa berita telah menyelewengkan konten berita dan menyebarkannya. Sebaliknya, berita yang salah bisa benar jika pembawa berita telah mengubah isi berita dan diterima mentah-mentah oleh masyarakat. Jadilah hoax itu berada dalam persimpangan antara benar dan salah.

Oleh karenanya, para Ulama salaf dahulu telah mengantisipasi penyebaran hadith-hadith lemah (dha’if) atau palsu (maudhu’) melalui identifikasi profil para perawi hadith (rawi) melalui metode al-jarh wa at-ta’dil dengan melabeli sifat-sifat yang khas (lafadz) kepada mereka, diantaranya dalam ta’dil: أوثق الناس، أضبط الناس، ليس له نظير، ثقة، ثبت، عدل ظابط، صدوق. Atau dalam jarh misalnya: ليس بحجة، فيه مقال، فيه ضعف، مضطرب، لا يحتاج به، ضعيف. Sifat-sifat ini memiliki konsekwensi terhadap otentisitas dan orisinitas setiap berita yang dibawa pembawa berita tersebut. Melalui karangan para ulama hadith dalam al-jarh wa at-ta’dil, maka dapat dengan mudah mengidentifikasi siapa sosok pembawa hadith tersebut.

Di antara karangan ulama yang paling populer ialah: Tahzib al-Kamal oleh Al-Mizzi, Tahzib at-Tahzib atau ringkasannya Taqrib at-Tahzib keduanya oleh al-Hafidz Ibn Hajar, atau kitab Tahzib Tahzib al-Kamal oleh Imam az-Zahabi dan masih banyak lagi karangan mereka dalam al-jarh wa at-ta’dil.

Tidaknya hanya dalam kajian ilmu Hadith, tentang al-jarh wa at-ta’dil pun al-Quran telah memperingatkan pentingnya memperhatikan siapa pembawa berita dan memeranginya yang gemar membawa berita hoax. Allah Ta’ala berfirman, “Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepada kalian orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti, agar kalian tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kalian menyesal dengan perbuatan itu.” (QS. Al-Hujurat [49]: 6)

Di era digital ini, akses komunikasi melalui medsos begitu mudah diterima oleh masyarakat, dari tingkat lapisan masyarakat paling tinggi hingga rendah dapat dengan mudah mengakses berita yang dibaca. Seorang muslim yang cerdas tentu bersikap yang cakap, maka tidak ada salahnya sebelum membaca berita yang diterima, perlu juga mengetahui sosok siapa yang menulis berita tersebut dan menyebarkannya.[]

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

5 × 5 =

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.