Home Opini Style TGB dalam Menghadirkan Politik Islam

Style TGB dalam Menghadirkan Politik Islam

332
0
SHARE

Oleh: Zainurrofieq, M.Hum

TGB –Tuan Guru Bajang, panggilan Dr. Muhammad Zainul Majdi, MA—menerima penghargaan Satyalancana Karya Bhakti Praja Nugraha dari Presiden Jokowi.  Apa yang diterima oleh mantan Gubernur Nusa Tenggara Barat (NTB) di Balai Sidang JCC kemaren ( 17/7/2019) itu, bukan hanya kebahagiaan bagi TGB secara pribadi, keluarga, Nahdhatul Wathan, dan warga NTB saja, melainkan juga kesyukuran bagi kaum muslimin, minimal kaum santri, diantaranya saya.

Selama ini, saya melihat style TGB dalam menghadirkan Islam dalam percaturan dunia politik, memang berbeda dengan para politisi yang lainnya. Sebagai doktor tafsir alumnus Universitas Al-Azhar Mesir, TGB telah menyajikan politik Islam berdasarkan prinsip Quran: membangun, mendamaikan, menginspirasi, bekerja keras, ketulusan dan pengabdian dalam membanguan kemaslahatan ‘aammah (umum).

Banyak politisi Islam yang tutup mata dengan karir nyata pribadinya dalam membangun bangsa yang sangat majemuk ini. Kebanyakan hanya menarasikan teori dan keyakinan subjektifnya dalam memerjuangkan pengejawantahan Islam di tatanan lokal pengabdian kenegaraannya. Jika hanya tipe politisi seperti itu yang muncul, maka citra baik dan nilai universalitas Islam akan tereduksi. Alih-alih membangun citra baik Islam, sebaliknya justru sebagai pembunuhan karakter terhadap Islam dan kaum muslimin.

Muhammad Iqbal, seorang filsuf dan penyair pernah menggambarkan dengan sebuah bait syairnya, “Sebuah bangsa dibangun dengan hati penyair. Namun hancur di tangan politikus”.

Iqbal adalah juga seorang aktivis politik. Berdirinya Pakistan tak lepas dari upaya-upaya kerja keras perjuangan politik dan curahan pemikiran filosofis Iqbal. Dengan bait puisi ini Iqbal secara jernih membedakan antara “Politik Islam” dengan “Islam Politik“.

Politik Islam adalah bagaimana nilai-nilai Islam dapat ditegakkan dalam kehidupan dengan berporos pada keadilan. Ini artinya perjuangan Politik Islam tidak selalu harus berbentuk partai politik. Karena upaya mewujudkan terciptanya nilai-nilai Islam dalam konteks kehidupan berbangsa, dapat dilakukan di segenap lini kehidupan.

Dengan konsepsi seperti yang diajukan Iqbal, maka kita menjadi lebih bisa memahami saat seorang pemikir muslim, Muhammad Abduh yang pernah menjadi Syeikh Al Azhar mengatakan, “saya melihat Islam di Barat, namun tidak melihat musliminnya. Sedangkan di Timur saya melihat muslim, tapi tidak melihat Islamnya.”

Artinya Islam sebagai sebuah nilai seperti keadilan, pembelaan kepada kaum tertindas, menghargai akal-keberpikiran dan mendorong berkembangnya ilmu pengetahuan, sebagaimana banyak dinyatakan oleh Al-Quran, belum tentu dapat terlihat pada sebuah komunitas muslim, dan demikian pula sebaliknya, komunitas muslim juga tidak serta merta merupakan manifestasi ideal dari nilai-nilai Islam. Butuh upaya serius dan komitmen kuat dari kaum muslim untuk menerapkan segenap nilai-nilai dari agamanya. Dengan kata lain, Islam secara normatif dimana nilai-nilainya begitu ideal, belum tentu sama dan selaras dengan Islam secara historis-sosiologis yang mewujud dalam kehidupan nyata secara sosial budaya dalam sebuah komunitas bangsa muslim.

Adapun Islam Politik yang mengidealkan terciptanya nilai-nilai Islam dalam kehidupan. Menurut Iqbal, Islam Politik adalah upaya sekelompok orang dengan menggunakan simbol-simbol Islam untuk memperjuangkan kepentingannya dalam meraih kekuasaan an sich. Iqbal dengan tegas mengkritik mereka yang menggunakan simbol agama demi kepentingan kekuasaan semata. Karena hal ini akan sangat merugikam kepentingan umat secara keseluruhan dan jangka panjang. Dan seringkali aksi-aksi Islam Politik bersifat sangat pragmatis dan cenderung terkesan sekedar memuaskan hasrat dan ambisi untuk berkuasa.

Dalam konteks kehidupan nyata kita tidak mudah membedakan antara Politik Islam dengan Islam Politik. Salah satunya dikarenakan mereka yang sesungguhnya Islam Politik tak mau mengaku demikian. Sebaliknya, mereka mengklaim diri dan kelompoknya sebagai perwujudan par excellence dari Politik Islam.

Namun secara mudahnya, untuk membedakan Politik Islam dan Islam Politik kita dapat melihat pada orientasi akhir dari arah perjuangan gerakan mereka. Mana gerakan Islam yang ujung-ujungnya hanya ingin memuaskan hasrat kekuasaan dan mana gerakan yang berorientasi pada terciptanya nilai-nilai keadilan, pembelaan kaum tertindas-terpinggirkan, meski mereka tak meraih kekuasaan politik dan jabatan publik.

Perbedaan  antara Politik Islam dan Islam Politik, salah satunya dapat dilacak pada bagaimana cara mendefinisikan arti sebuah kemenangan. Sebuah kemenangan seringkali hanya diukur dari satu aspek empiris saja: berupa dominasi dalam pemilu, dan juga dominasi dalam berbagai jabatan publik.

Akibat dari definisi yang tunggal atas kemenangan ini menyebabkan umat menjadi gelap mata untuk dapat meraih dan menguasainya. Ber-Islam secara kaffah disempitkan menjadi arena balap pacu untuk meraih kekuasaan publik sebanyak-banyaknya.

Kita harus mulai menyadari bahwa fisik kenegaraan, ibarat tubuh manusia, manusia bukan sekedar makhluk darah dan daging semata. Namun juga meliputi akal, ruh dan jiwa. Manusia merupakan makhluk mikrokosmos, tetapi di dalamnya terkandung makrokosmos, seluruh alam semesta.

Menurut pengamatan saya selama ini, TGB sedang membangun akal, ruh, dan jiwa politik Islam dengan wasathiyatul Islam. Moderasi Islam dalam dunia politik ini, sedang dibangun TGB. Beliau menyuguhkan style “memersatukan, bukan memecah”, keseimbangan antara idealisme dan realitas, dan berusaha menyuguh Islam secara proporsional.

Dalam berbagai kesempatan, TGB sering mengatakan, bahwa pilihan politiknya tidak terlepas dari kemaslahatan umat, keutuhan bangsa dan akal sehat. Ini semua terwujud dalam kebijakannya dalam memerintah Negeri Seribu Masjid, sehingga Tata Kelola Pelayana Publik dalam Penyelenggarakan Urusan Pemerintah di NTB sangat baik, dan akhirnya beliau mendapatkan penghargaan dari presiden Republik Indonesia.

Ciwalk, 18719

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

eighteen + 4 =

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.