Home Opini Indoor Farming Sebagai Salah Satu Solusi Bagi Pertanian Indonesia

Indoor Farming Sebagai Salah Satu Solusi Bagi Pertanian Indonesia

98
0
SHARE

Riski Amalia

Mahasiswi Program Studi Akuntansi, Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Mercu Buana

Perencanaan Pembangunan Nasional memiliki struktur yang berperan penting dalam pembangunan perekonomian nasional, salah satunya yaitu sektor pertanian. Namun sektor ini tidak mendapatkan perhatian serius dari pemerintah. Kendati demikian sektor ini merupakan sektor yang banyak menampung tenaga kerja dan sebagian besar penduduk tergantung pada sektor ini.

Pembangunan pertanian di Indonesia seharusnya menjadi suatu hal yang penting dari keseluruhan pembangunan nasional. Mengingat potensi pertanian Indonesia yang besar namun pada kenyataannya sampai saat ini sebagian besar dari petani kita masih banyak yang termasuk dalam golongan miskin.

Terdapat beberapa hal yang mendasari  mengapa pembangunan pertanian di Indonesia mempunyai peranan penting, antara lain potensi SDA yang besar, pangsa terhadap pendapatan nasional yang cukup besar, besarnya pangsa terhadap ekspor nasional dan besarnya penduduk yang menggantungkan hidupnya pada sektor pertanian.

Menurut data bank dunia pada 2017 yang menyebutkan hanya 31,5 % atau 570.000 kilometer persegi lahan di Indonesia yang digunakan untuk pertanian. 

Jadi, perbandingan rasio penduduk dengan lahan di Indonesia adalah 1 orang : 0,22 hektar. Jumlah penduduk yang bekerja di bidang pertanian menurut Badan Pusat Statistik sekitar 35,7 juta orang atau 28,79%  pada tahun 2018.

Untuk prospek masa depan Indonesia, sebagai langkah aplikatif dan prospek masa depan, yang harus diaplikasikan dalam sistem produksi beras di Indonesia diantaranya memaksimalkan produksi beras, setidaknya untuk swasembada pangan karena beras merupakan makanan pokok untuk Indonesia. Dengan menambah perluasan lahan sawah yang berada di daerah berpotensi dan didukung oleh asas konservasi.

Pembangunan pertanian pada masa lalu mempunyai banyak kelemahan, salah satunya hanya terfokus pada usaha tani. Sistem seperti ini juga mendominasi dikalangan para petani. Terbatasnya modal dan penggunaan teknologi yg masih sederhana juga menjadi salah satu contoh dari banyaknya kendala dalam pembangunan di bidang pertanian.

Sifat dari pasar komoditi yaitu oligopsoni yg dikuasai pedagang besar sehingga seringkali terjadi eksploitasi harga yang merugikan petani juga harus segera diatasi dengan solusi yang bisa membuat persaingan harga secara adil. Ditambah lagi dengan permasalahan yang menghambat pembangunan pertanian di Indonesia seperti pembaruan agraria yaitu konversi lahan pertanian menjadi lahan non pertanian.

Kendala-kendala tersebut harus menjadi acuan dan tolak ukur bagi segala pihak yang berperan dalam pembangunan pertanian agar dapat segera mendapatkan jalan keluar atas banyak permasalahan yang terjadi. Diimbanginya pengembangan teknologi terpadu yang konsisten, dibukanya akses perlindungan terhadap petani dalam aspek-aspek manajemen, ketersediaan alat,dan subsidi yang berimbang dengan adanya UU yang berlaku bisa saja menjadi contoh solusi dan terobosan baru bagi pembangunan pertanian nasional.

Pertanian di Indonesia dituntut untuk terus meningkatkan hasil pertaniannya agar dapat mencapai swasembada pangan. Namun, lahan di Indonesia semakin hari semakin berkurang jumlahnya karena alih fungsi lahan. Lahan-lahan produktif dialih fungsikan sehingga produksi pertanian terus berkurang.

Ketua Umum Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI), Moeldoko menyebut bahwa salah satu tantangan besar pertanian saat ini adalah menyangkut masalah ketersediaan lahan. Hal itu disampaikannya saat pembukaan Asian Agriculture and Food Forum (ASAFF) 2020 di Jakarta.

“Lahan pertanian menyusut hingga 44 %. Kondisi ini mengancam produksi pangan Asia,” tutur Moeldoko melalui keterangannya, Kamis (12/3/2020).

Perhitungan tersebut diperoleh berdasarkan data Rural Development and Food Security Forum 2019 yang digelar Asian Development Bank (ADB) di Manila, Filipina, Oktober 2019 lalu. Kondisi tersebut turut menjadi perhatian kepada Indonesia. Penyusutan lahan pertanian terjadi secara signifikan setiap tahunnya. Menurut Moeldoko, hampir 120 ribu hektar lahan berubah fungsi setiap tahunnya.

Untuk mengatasi masalah yang dihadapi seperti penyusutan lahan, dapat dilakukan upaya-upaya salah satunya dengan indoor farming. Indoor farming merupakan cara bertani yang bisa dilakukan di ruangan tertutup sehingga tidak mengharuskan para petani untuk turun dan panas-panasan di ladang yang berlumpur.

Pertanian dengan cara ini sangat modern dengan didukung oleh berbagai macam perangkat teknologi. Dengan adanya indoor farming ini, kini bertanipun dapat dilakukan ditengah perkotaan. Selain itu teknik indoor farming memiliki banyak keunggulan.

Bukan hanya meningkatkan produktivitas, teknik ini juga menghasilkan sumber makanan yang hijau dan bebas dari hama, serta kegiatan pertaniannya bisa dilakukan di gedung-gedung tinggi. Keunggulan inilah yang seharusnya menjadi pertimbangan dan perhatian khusus agar dapat segera disosialisasikan kepada para petani untuk mengatasi permasalah di sektor pertanian khususnya masalah berkurangnya lahan pertanian.

Sayangnya selain memiliki banyak keunggulan, teknik indoor farming juga tetap memiliki kelemahan. Untuk bisa menjalankan sistem indoor farming ini, biaya yang harus dikeluarkan sangat tinggi. Alasannya tentu saja dikarenakan seluruh sistemnya menggunakan teknologi canggih.

Dalam rencana pengembangan teknik indoor farming, pemerintah dituntut untuk dapat berperan aktif seperti memperkenalkan teknologi yang canggih guna melaksanakan sistem pertanian yang lebih modern. Selain memperkenalkan teknologi yang akan digunakan pada sistem indoor farming, pemerintah juga seharusnya mulai gencar mensosialisasikan teknik ini kepada para petani mengingat sistem pertanian yang digunakan masih sangat tradisional.

Ketika dunia mulai belajar untuk menangani masalah pertanian khususnya krisis pangan dan krisis air, usaha yang dilakukan mirai dan aerofarm bisa menjadi solusi yang sangat layak dikembangkan di seluruh dunia termasuk Indonesia. Selain perhatian terhadap teknologi, krisis pangan dan air, pemerintah pun harus mulai mempersiapkan lembaga yang nantinya bisa membantu pengembangan teknik pertanian yang lebih modern.

Pemerintah dapat berkaca pada keberhasilan Jepang. Jepang adalah contoh nyata dari negara yang menerapkan sistem indoor farming. Pada tahun 2011 Jepang memulai perencanaan pendirian pertanian indoor. Pada ruangan 2.325 m² bekas pabrik Mirai yang memproduksi semikonduktor, Shigeharu sebagai pemiliknya mampu menghasilkan hingga 10.000 lettuce bulat berkualitas tinggi. Ini berarti 100 kali lebih banyak dibandingkan metode tradisional. Artinya dalam satu tahun selada berkualitas yang diproduksi sebanyak 3.65 juta buah.

Dengan perencanaan yang matang, pastinya akan membawa dampak baik untuk seluruh kalangan, bukan hanya petani yang berperan langsung tetapi juga pada pemerintah, pedagang dan masyarakat. Bagaimanapun segala masalah yang ada di sekitar pertanian harus diselesaikan sesegera mungkin dan tepat sasaran supaya kebutuhan pangan dapat terpenuhi secara maksimal yang dihasilkan di dalam negeri sendiri.

Kebiasaan petani dalam mengolah lahan secara tradisional semakin lama  harus semakin diubah, dengan cara yang lebih modern dan mengikuti kemajuan teknologi di bidang pertanian. Sosialisasi dibutuhkan untuk mengenal dua point tersebut, cara pengolahan lahan yang lebih modern dan kecanggihan teknologi di bidang pertanian guna memaksimalkan produksi pangan atau hasil pertanian lainnya.

Konsistensi para petani dalam mempelajari ilmu pertanian yang lebih modern juga dibutuhkan dalam pengaplikasian sistem indoor farming. Dalam hal ini petani juga harus menitikberatkan pada kuantitas sambil diiringi kualitas secara bertahap agar nantinya bisa memiliki daya saing guna menekan banyaknya jumlah bahan pangan impor untuk memenuhi kebutuhan masyarakat lokal.

Dengan sistem indoor farming, petani akan mendapatkan keuntungan yang lebih banyak, tetapi kembali lagi pada pola pikir yang harus diubah pada kebiasaan petani kita yang kemudian harus diatasi secara perlahan. Petani harus diberikan edukasi secara menyeluruh tentang sistem ini, diberikan kesempatan yang sama untuk mengaplikasikan sistem ini.[]

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

eleven + 14 =

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.