Home Opini Output Shaum

Output Shaum

305
0
SHARE

Udo Yamin Majdi

“Setiap perintah dalam agama Islam itu selalu memiliki dua dimensi. Ada dimensi ukhrawy, ada dimensi duniawy.” Kata Tuan Guru Bajang (TGB), Dr. Muhammad Zainul Majdi, MA., di hadapan 1.300-an jama’ah yang hadir di masjid Hubbul Wathan Islamic Center NTB.

Doktor alumni Fakultas Ushuluddin Jurusan Tafsir dan Ilmu-Ilmu Al-Quran Universitas Al-Azhar Kairo itu melanjutkan, “Begitu juga shaum, memiliki dua dimensi. Secara ukhrawi, shaum akan mendapatkan pahala, ganjaran, ridho dan ampunan Allah SWT. Shaum juga berdampak secara duniawy, manusia berkarakter lebih baik.

Dalam bahasa saya, shaum itu memiliki output dan outcome. Output adalah hasil langsung yang dapat dirasakan dari suatu proses, sedangkan outcome adalah efek jangka panjang dari suatu proses tersebut.

Di kesempatan ini, saya hanya akan membahas output shaum, sedangkan outcomenya, insya Allah akan kita diskusikan dalam tulisan berikutnya.

Apa output dari shaum?

Kalau kita menelisik ayat shaum dalam Quran, surat al-Baqarah ayat 183-188, maka kita akan menemukan “clue” bahwa output shaum melahirkan karakter disiplin, cerdas, syukur dan benar.

1. Karakter disiplin.

Dalam surat al-Baqarah ayat 183 dan 187, ada kalimat “agar kalian/mereka bertaqwa”. (la’allakum tattaquun/la’allahum tattaquun). Taqwa adalah melaksanakan perintah Allah dan meninggalkan larangan-Nya. Dengan kata lain, ta’at aturan. Dalam kehidupan sehari-hari, taat aturan ini kita kenal dengan istilah disiplin.

Shaum hadir untuk mendisiplinkan panca indra manusia. Siapapun yang mampu mendisiplinkan mata, telinga, hidung, lidah, dan kulitnya, maka akan lahirlah manusia berkarakter baik.

Untuk mendisiplinkan panca indera itu, maka kita harus mampu mendisiplinkan hati dan otak kita.

Perilaku baik lahir dari cara berpikir baik. Cara berpikir baik lahir dari hati baik. Hati baik lahir komitmen seseorang untuk melaksanakan perintah Allah dan meninggalkan larangan-Nya.

2. Karakter cerdas.

Ada dua ayat dalam ayat shaum, mengisyaratkan tentang ilmu, yaitu surat al-Baqarah ayat 184 (in kuntum ta’lamuun) dan ayat 188 (wa antum ta’lamuun).

Kecerdasan dalam Islam, bukan sekedar kemampuan otak untuk menerima, menyimpan dan mengeluarkan informasi. Dalam Quran, kecerdasan ini disebut dengan istilah ulul albab. Secara bahasa, albab adalah jamak dari lubb. Ini sebuah isyarat, bahwa kecerdasan itu tidak tunggal, melainkan majemuk, atau ganda. Ini yang kita kenal dengan multiple intellegence.

Yang menarik adalah, saat saat kumpulkan semua ayat berkaitan ulul albab, ternyata ada 15 ayat dan 5 ayat berkaitan dengan kecerdasan otak (IQ), 5 ayat berkenaan dengan kecerdasan hati (EQ), dan 5 ayat bersangkutan dengan kecerdasan ruh (SQ).

Jumlah yang sama itu, soalah-olah ingin menegaskan bahwa karakter cerdas itu akan terbangun manakala kita mampu menyeimbangkan kecerdasan otak (intelektual), hati (emosional) dan ruh (spritual).

Shaum hadir untuk mengasah IQ, EQ, dan SQ seseorang. Shaum dengan makna “menahan” (imsak), ini merupakan esensi kecerdasan. Orang cerdas adalah orang yang mampu menahan atau mengendalikan otak supaya tidak lupa, menahan hati supaya tidak kacau, dan menahan ruhani supaya tidak malas.

Dikisahkan dari Ibnu Umar radhiyallaahu ‘anhuma berkata, “Suatu hari aku duduk bersama Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam, tiba-tiba datang seorang lelaki dari kalangan Anshar, kemudian ia mengucapkan salam kepada Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam dan bertanya, ‘Wahai Rasulullah, siapakah orang mukmin yang paling utama?’ Rasulullah menjawab, ‘Yang paling baik akhlaqnya’. Kemudian ia bertanya lagi, ‘Siapakah orang mukmin yang paling cerdas?’. Beliau menjawab, ‘Yang paling banyak mengingat mati, kemudian yang paling baik dalam mempersiapkan kematian tersebut, itulah orang yang paling cerdas.’ “(HR. Ibnu Majah, Thabrani, dan Al Haitsamiy:419).

Nah, kita shaum, karena kita ingat dengan akhirat dan kematian.

3. Karakter syukur.

Berdasarkan penelitian lebih 25 tahun Institute for Research on Unlimited Love, Why Good Things Happen to Good People, profesor bioetika, Stephen Post dan jurnalis, Jill Neimark, bahwa ada 10 pedoman praktis hidup lebih sehat, lebih bahagia, dan lebih sejahtera, salah satunya adalah dengan bersyukur.

Dalam buku setebal 412 terbitan Kaifa itu, diungkap rasa syukur meningkatkan antibodi kekebalan tubuh (sektori lgA). Saya tidak akan panjang lebar membahas isi buku ini, saya hanya ingin mengatakan kepada Anda bahwa ketika Allah menyebutkan kata “la ‘allakum tasykurun” (agar kalian bersyukur) dalam rangkaian ayat shaum, al-Baqarah ayat 184, seolah-olah Allah ingin menegaskan bahwa karakter syukur akan terbangun lewat aktivitas shaum.

Secara sederhana, biasanya kita akan bersyukur, manakala sesuatu yang hilang tiba-tiba datang, atau sesuatu bermasalah, lalu normal. Misalnya, kita akan sangat bersyukur, setelah kita sembuh dari sakit gigi. Namun ketika gigi kita tidak pernah bermasalah, keberadaan gigi kita sering terlupakan.

Begitulah kita saat shaum. Kita dilatih menghilangkan makan, minum dan jimak, sejak terbit fajar hingga terbenarnya matahari, dan saat kita berbuka, maka rasa syukur itu hadir dalam relung hati kita.

4. Karakter benar dan matang.

“Berdo’alah kepada Allah disertai dengan keyakinan penuh bahwa Allah akan memperkenankan. Itu semua agar kamu selalu berada dalam kebenaran.” Tulis Prof. Dr. Quraish Shihab MA. dalam Tafsir Al-Mishbah saat menjelaskan surat al-Baqarah ayat 186.

Dalam “Ensiklopedia Al-Quran, Kajian Kosataka”, tim penyusun yang dipimpin oleh Prof. Dr. Quraish Shihab MA., bahwa kata “rasyid” bermakna ketepatan dan kelurusan jalan.

Dari sanalah lahir kata rusyd yang bagi bagi manusia adalah kesempurnaan akal dan jiwa, yang menjadikannya mampu bersikap dan bertindak setepat mungkin. Inilah yang kita sebut dengan matang.

Lantas, apa hubungannya antara do’a dan karakter matang ini?

Dalam bulan suci Ramadhan, Allah memberikan kesempatan kepada manusia untuk mengajukan proposal hidup kepada-Nya. Momenrum inilah yang kita sebut dengan lailatul qadar, salah satu maknanya adalah malam untuk mengubah taqdir seseorang satu tahun berikutnya.

Allah hadirkan lailatul qadar itu ketika kita sedang shaum, sebab orang yang sedang shaum, jiwanya bersih dan suci. Kesucian batin inilah menjadi faktor terkabulnya doa. Puncak dari keterkabulan doa itu adalah Allah membimbing seseorang senantiasa berbuat benar, dan inilah kematangan dalam beragama.

Jadi, kalau kita melaksanakan shaum dengan baik dan benar, maka outputnya akan melahirkan manusia yang memiliki empat karakter tersebut: disiplin, cerdas, bersyukur dan matang.

Apa program yang harus kita lakukan agar output shaum itu tercapai?

Temukan jawabannya di tulisan serial saya selama bulan suci Ramadhan ini.

Wallahu a’lam bish shawab.

Garut, 23.19 WIB, 16/05/2018

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.