Home Opini Narasi JMTC: 9 Langkah “Membangun” Masjid Berdaya

Narasi JMTC: 9 Langkah “Membangun” Masjid Berdaya

893
0
SHARE

Judul di atas ada tanda petik dalam kata ‘membangun’. Sengaja diberi tanda petik, karena konsep membangun masjid seharusnya sudah tidak lagi berhenti pada visi membangun masjid megah secara fisik, tapi kemudian harus bergerak menuju masjid yang BERDAYA. Berdaya melayani ummat, berdaya menolong ummat, berdaya menyejahterakan ummat.

Imajinasi kita harus bergerak ke masjid berbasis manfaat. Bagaimana membangun program pelayanan masjid yang tidak hanya berhenti pada pelayanan ibadah mahdhoh saja, tetapi juga bergerak ke pelayanan jamaah dalam segala dimensi : pendidikan, ekonomi bahkan kesehatan.

Kesadaran ini membawa para pemerhati masjid kemudian bertanya lebih jauh. Bagaimana langkahnya? Apa yang seharusnya dilakukan terlebih dahulu? Apa aksi konkretnya?

Walau pastilah tidak sempurna, setidaknya berikut rangkuman 9 langkah membangun masjid berdaya.

* * *

1. Memasang Niat

Memilih jalan menjadi aktivis masjid bukanlah kerja eksistensi. Ia adalah kerja pelayanan. Jalannya sepi. Ia bukan jalan yang bertabur puji dan apresiasi. Jikapun ada, ia bukanlah tujuan dari kita membangun masjid.

Membangun masjid penuh mashlahat adalah sebaik-baik ibadah. Maka kerja membangun masjid hanyalah urusan kita dengan Allah Subhanahuwata’ala.

Jika masjid infrastrukturnya baik, nyaman untuk ibadah, maka mudah-mudahan akan banyak hamba Allah yang makin khusyuk beribadah.

Jika masjid banyak menyediakan layanan ta’lim, belajar Qur’an, maka mudah-mudahan jamaah makin dekat dengan Allah.

Jika masjid dapat menjawab permasalahan sosial, memudahkan mencari pekerjaan, memudahkan seseorang mendapatkan jodoh, menjembatani potensi ekonomi sehingga terjadi pemberdayaan, maka mudah-mudahan makin banyak yang ke masjid.

Lalu, siap-siap mendapatkan janji Rasulullah, barangsiapa menjadi jalan kebaikan, baginya pahala yang sama ketika kebaikan itu dilakukan. Bayangkan saja pahala yang didapat para aktivis masjid. Inilah tujuan kita : keridhoan Allah semata.

Niat membangun masjid harus lurus selurus-lurusnya. Dilakukan hanya untuk ridho Allah. Dikerjakan untuk menghapus dosa dan salah di masa lalu. Diniatkan untuk menjadi kebaikan yang mengalir untuk kedua orang tua kita.

Niat lurus para pengurus masjid akan memudahkan proses dan langkah masjid dalam pembangunan kedepannya. Baik pembangunan fisik maupun non-fisik.

* * *

2. Menyiapkan Organisasi

Setiap saya berkeliling menyampaikan narasi manajemen masjid, pada sesi obrolan ringan, para pengurus masjid selalu berkomentar hampir sama:

“Sebenarnya kami sudah berfikir seperti yang akang utarakan. Kami sebenarnya sudah mengerti harus seperti itu, tetapi bingung siapa yang mau mengeksekusi.”

Di sinilah titik strategisnya. Sebelum banyak berbicara tentang konsep dan gagasan. Para aktivis masjid yang memang meniatkan diri membangun masjid seyogyanya menyiapkan ORGANISASI yang siap mengeksekusi program secara profesional.

Hampir di setiap masjid, morfologi para pengurus DKM adalah karyawan atau pengusaha yang juga pasti punya kesibukan. Ada pun yang bisa fokus penuh waktu adalah para pensiunan yang juga pada akhirnya terbatas pada energi dan daya eksekusi gerak. Akhirnya masjid dijalankan dengan waktu sisa. Alakadarnya. Mengandalkan waktu-watu luang para DKM.

Hal itulah yang membuat semua gagasan berhenti di titik wacana. Akhirnya setiap niat baik hanya berada diatas kertas. Guna menghindari hal ini, para penggiat masjid sejatinya harus menyiapkan jajaran eksekutif yang siap menjalankan program masjid secara penuh waktu.

Maka masjid sebaiknya memiliki CEO, membangun direktorat pelayanan, menyiapkan para manager untuk setiap mengelola setiap proyek dakwah, menyediakan staff sebagai ujung tombak pelaksanaan.

Seminimalnya adalah general manager yang bertanggung jawab menjalankan program masjid secara profesional. Bekerja penuh waktu di masjid. Mendedikasikan diri untuk masjid. Bukan waktu sisa, bukan energi sisa.

* * *

3. Membangun Infrastruktur

Setelah organisasinya siap, barulah kemudian melangkah ke pembangunan infrastruktur. Jika masjidnya dibangun dari awal, maka kerja di titik ini hampir dominan kerja konstruksi. Membangun masjid dari lahan wakaf.

Namun jika masjidnya sudah ada, para pengurus tinggal memperbaiki infrastruktur yang ada, atau menambah jika ada yang kurang.

Pada tahapan ini, masjid sebaiknya mengawali konsep membangun dari niatan fungsi yang ada. Fungsi utamanya tentu ibadah, namun tidak menutup kemungkinan diperlukan fungsi masjid yang lain.

Jika masjid meniatkan adanya aktivitas edukasi untuk ummat, maka tentu dibutuhkan area auditorium. Jika masjid berencana menjamu para guru, maka setidaknya ada kamar untuk para asatidz. Jika masjid meniatkan untuk punya imam tetap, alangkah baiknya ada fasilitas mukim untuk para karyawan masjid. Jika masjid meniatkan menjadi pusat ekonomi, setidaknya ada bagian luar dari masjid yang didesain untuk menjadi pusat perdagangan ummat.

* * *

4. Menyelenggarakan Ibadah

Setelah infrastruktur terbangun, barulah masjid siap untuk melayani jamaah dalam aktivitas ibadah.

Ada fasilitas wudhu dan toilet.
Ada fasilitas ruang utama masjid.
Ada fasilitas audio untuk menunjang.

Di titik ini, masjid sebaiknya berfokus memastikan kenyamanan jamaah dalam beribadah mahdhoh. Memastikan area bersuci tidak bercampur najis. Memastikan ruang utama sholat sejuk. Memastikan audio imam terdengar baik. Memastikan segala titik area masjid bersih terawat.

Jika poin 4 ini terselenggara dengan baik, insyaAllah traffic jamaah yang ke masjid akan semakin tinggi, karena masjid berfokus selayaknya entitas bisnis yang memastikan kenyamanan customer.

Masjid memiliki potensi kunjungan yang dijamin langit : kewajiban shalat 5 waktu bagi pria di masjid. Tinggal bagaimana caranya membuat para jamaah nyaman, tertambat hatinya di masjid, bahkan loyal akan kajian-kajian yang dilakukan masjid.

Poin 4 ini adalah kuncinya : membangun infrastruktur yang siap melayani jamaah dengan serius.

* * *

5. Mendata Jamaah

Setelah jamaah masjid mulai mengalir dan bergerak keluar masuk masjid, hal yang terlupakan oleh para jajaran DKM adalah MENDATA jamaah dengan seksama.

Data diri jamaah menjadi penting, karena logika masjid adalah pelayanan publik. Ia adalah fasilitas ummat yang posisinya melayani jamaah. Jika benar demikian, maka posisi jamaah adalah pelanggan. Dan perusahaan jasa yang baik adalah mereka yang memiliki data lengkap pelanggan.

Pada logika dasar yang lain, pendataan jamaah juga penting untuk mengetahui populasi objek jamaah yang harus masjid tersebut layani.

Ada berapa jamaah masjid terdaftar?
Adakah nomor kontak ber-WA nya?
Sudahkah jelas alamat tinggalnya?
Apa profesinya?
Bagaimana tingkat ekonominya?
Apa pendidikan terakhirnya?
Apa potensi kompetensi yang dimiliki?
Apa masalah yang sedang dihadapi?
Bagaimana kemampuan interaksi jamaah terhadap Al Qur’an?
Dan seterusnya….

Serius mensensus jamaah adalah langkah profesional masjid yang memang berniat melayani jamaah.

* * *

6. Mengalirkan Dana

Setelah jamaah terdata dengan baik, maka langkah berikutnya adalah mengalirkan arus pemasukan untuk masjid. Selayaknya sebuah entitas perusahaan jasa, harus ada budgeting yang jelas : berapa uang yang direncanakan masuk, lalu berapa target pembelanjaan masjid.

APBM : Anggaran Pemasukan Belanja Masjid

Jika masjid melayani setidaknya 300KK muslim. Dan 1 KK berkomitmen rata-rata infaq senilai Rp 50.000,00 setiap hari Jum’at. Maka pemasukan masjid perbulan adalah 300 x 50rb x 4 = 60 juta rupiah.

Jika operasional listrik dan air Masjid berada di 5 juta rupiah. Lalu anggaran SDM di 15 juta rupiah. Maka Masjid masih memiliki 40 juta rupiah per bulan untuk di transformasikan menjadi program.

Program inilah yang kemudian akan kembali membawa pemasukan arus positif bagi masjid. Karena jamaah merasa terlayani, jamaah mendapatkan dampak dari program, maka jamaah akan loyal mendukung masjid.

Maka penting bagi masjid untuk memiliki Baitul Mal, atau lajnah Ziswaf yang terus menerus beroperasi sepanjang tahun. Dijalankan oleh tim profesional yang memang mendedikasikan diri untuk membangun layanan.

* * *

7. Menyediakan Layanan

Sedikit sudah saya singgung di poin sebelumnya, setelah masjid memiliki arus pemasukan yang deras, maka berikutnya, masjid harus membangun program layanan.

Masuk 10 juta, layanan 10 juta.
Masuk 100 juta, layanan 100 juta.
Masuk 1000 juta, layanan 1000 juta.

Ini konsep berfikir baku yang harus dimiliki oleh banyak pengurus masjid. Infaq jamaah adalah amanah yang harus dikembalikan kembali ke ummat.

Di poin ini, terkadang pengurus masjid terkungkung pada program ibadah mahdhoh saja. Ketika shalat 5 waktu sudah dilakukan, ibadah jumat sudah diselenggarakan, perayaan hari besar Islam sudah terselenggara, pengurus merasa sudah cukup. Padahal masjid adalah asset ummat yang harusnya bermanfaat selama 24 jam.

Masjid sangat dianjurkan mengadakan layanan edukasi. Baik diniyyah ataupun non diniyyah. Yang penting outputnya ummat bangkit secara pemikiran.

Masjid sangat dianjurkan memiliki Pusat Layanan Karir. Membantu jamaah sekitar yang belum ada pekerjaan. Membangun kursus singkat keahlian. Memastikan para generasi mudanya memiliki pekerjaan baik.

Masjid sangat dianjurkan memiliki pusat layanan rumah tangga. Memudahkan jamaah menikah, mempertemukan pasangan, mendidik pra-pasca nikah, hingga membantu mewalimahkan.

Masjid sangat dianjurkan memiliki pusat koseling, menyediakan para psikolog yang berbasis syariat Islam. Menjadi pusat konseling ummat. Atas permasalahan yang dihadapai.

Masjid sangat dianjurkan memiliki pusat bisnis. Menyediakan pelatihan bisnis gratis, menyediakan area dagang agar ummat bisa berinteraksi ekonomi, mempertemukan para pemodal dan pemilik kompetensi.

Masjid sangat dianjurkan menjadi pusat layanan sosial. Memastikan dhuafa disekitar masjid dapat mencukupi kebutuhan hidup. Memastikan setiap yatim piatu tersantuni dengan baik. Menjembatani para aghniya yang ingin menolong para dhuafa.

Poin 7 inilah yang menjadi jawaban kuat dalam memakmurkan masjid. Masjid harus berfokus MELAYANI jamaah. Jangan dibalik, jamaah melayani masjid, bukan begitu seharusnya. Semangat utamanya adalah melayani. Masjid sebagai platform aktivitas ummat harus lebih dulu melayani. InsyaAllah loyalitas jamaah pada masjid akan hadir dengan sendirinya.

* * *

8. Memberdayakan Ekonomi

Setelah arus uang dapat dibangun…
Setelah masjid memiliki pemasukan yang cerah…
Maka program layanan dibangun…

Setelah layanan demi layanan dibangun..
maka berikutnya masjid harus masuk pada fase yang lebih menantang : menjadi triger lahirnya usaha ummat.

Jika jamaah sebuah masjid dirasa sudah cukup solid. Jika jamaah sebuah masjid dirasa sudah cukup erat secara ukhuwah. Maka langkah berikutnya adalah bagaimana MENJAHIT POTENSI ASSET yang ada dalam tubuh ummat.

Masjid sangat dianjurkan memiliki pos wakaf produktif. Ada dana abadi yang dijaga nilainya, dan digerakkan untuk kepentingan ekonomi.

Sangat mungkin sekali, masjid sebagai pemilik wakaf produktif – bekerja sama dengan seorang pengusaha yang memiliki lahan dan ruko – lalu bekerja sama juga dengan profesional yang memiliki kompetensi bakery. Jadilah toko roti milik masjid. Masjid memiliki saham 50%, pemilik ruko 30% dan CEO terpilih 20%. Misalnya demikian.

Maka akan lahir BUMM, Badan Usaha Milik Masjid, yang dikelola baik, diawasi baik, dijalankan baik dan tetap menjaga ekosistem pengusaha muslim. hasilnya kembali ke masjid.

Maka sangat mungkin, di etape pertama pemasukan masjid hanya 10 juta per bulan.

Begitu merapikan data jamaah dan infaq komitmen per jamaah, jadi 50 juta per bulan.

Begitu program layanannya banyak, jadi 200 juta per bulan.

Begitu melangkah berbisnis, jadi 500 juta per bulan.

Dana yang sebegitu besar sangatlah cukup untuk membangun multi layanan kepada jamaah. Jika 1 masjid yang hanya mengelola 1000 jamaah lalu memiliki pemasukan 500 juta per bulan, sangatlah cukup untuk menjalankan program pemberdayaan.

* * *

9. Menjalin Jejaring

Setelah sebuah masjid makmur memiliki arus pemasukan 1M per bulan, apa yang kemudian harus dilakukan?

Apakah kembali memasang keramik baru pada keramik yang masih baik?

Apakah kembali mengganti sajadah masjid yang sebenarnya masih layak pakai?

Apakah kembali meninggikan menara?

Apa yang seharusnya dilakukan?

Disinilah narasi besar dari JEJARING Masjid Titik Cahaya (JMTC).

Jika sebuah masjid sudah sangat surplus, maka tugas masjid tersebut berikutnya adalah membantu memakmurkan masjid-masjid lain di sekitarnya.

Masjid surplus harus berani melayani masjid sekitar, karena relatif masjid surplus berada di lingkungan menengah atas. Maka masjid yang berada di lingkungan hi income, harus berani melayani masjid-masjid yang berada pada lingkungan low income.

Jika jumlah masjid di Indonesia sekitar 1 juta masjid. Maka cukuplah 100.000 masjid surplus yang mengelola 900.000 masjid binaan.

Maka, 1 masjid surplus cukup mengelola 9 masjid binaan.

Siapkan 2 Imam per masjid x 9 = 18 Imam.
Siapkan 2 karyawan x 9 = 18 petugas.
Siapkan bantuan 10 juta per masjid x 9 = 90 juta.

36 SDM x 3 juta = 108 juta, ditambah dukungan rutin 90 juta, jika ditotal hanya 200 juta.

Jika sebuah masjid sudah memiliki pemasukan 1M, maka dengan 200 juta per bulan, sebuah masjid bisa memiliki 9 Masjid Binaan yang insyaAllah akan penuh program yang layanan.

Sehingga, jika tercapai jumlah 100.000 Masjid Berdaya, maka insyaAllah akan lahir 1 juta titik layanan ummat, 1 juta titik pos pengelolaan ummat, 1 juta titik pusat perdagangan, 1 juta titik pusat pengkaderan generasi muda, 1 juta titik pusat keilmuwan Quran, 1 juta titik lajnah Ziswaf, 1 juta titik pemberdayaan, 1 juta titik cahaya… yang insyaAllah akan membawa ummat keluar dari kegelapan. InsyaAllah.

* * *

Itulah 9 langkah yang Saya rangkumkan, semoga bermanfaat bagi sahabat. Pertanyaannya sekarang, what next? Bagaimana selanjutnya?

Inilah yang mendorong kami (Serikat Saudagar Nusantara – SSN) mengadakan Konferensi Masjid Indonesia (KMI) 2018. InsyaAllah akan dilaksanakan pada hari Jumat 21 Desember 2018, pukul 08.00 sd 17.00, bertempat di Istora Senayan Jakarta.

Event ini terbuka untuk kaum muslimin dan muslimat. GRATIS tanpa biaya tiket. Cukup mendaftarkan diri dengan ketik WA “Daftar KMI” kirim WA ke 0853-1693-2222.

Kami mengundang para pengurus Masjid.

Kami mengundang ibu-ibu majelis ta’lim Masjid.

Kami mengundang kaum muslimin yang peduli akan Masjid.

Untuk hadir ke KMI 2018 di Istora senayan di 21 Desember nanti.

Semoga langkah ini diridhoi Allah.
Semoga konferensi ini mendorong lahirnya 100.000 Masjid Berdaya.
Semoga pertemuan ini menjadi washilah hadirnya keberkahan untuk negeri.

Panitia KMI 2018,
Rendy Saputra

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

fourteen + fourteen =

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.