Home Opini LGBT Dalam Tinjauan Syariat

LGBT Dalam Tinjauan Syariat

281
0
SHARE

Oleh : Fery Ramadhansyah

Kandidat Ph.D. Syariah, Cairo University

Sudah jamak diketahui kasus atau fenomena LGBT yang belakangan marak di tanah air sebenarnya telah mendapat respon penolakan dari sejumlah lapisan masyarakat. Terlebih lagi ketika MUI sebagai lembaga keagamaan otoritatif melalui fatwanya nomor 54 Tahun 2014 menyatakan bahwa LGBT hukumnya Haram dan pelakunya bisa dijatuhkan tindak pidana takzir hingga hukuman mati.

Dalam tulisan ini, penulis mencoba menguraikan pandangan syariat Islam terkait persoalan tersebut. Apa justifikasi Islam tentang hal itu. Apa tujuan Allah mengharamkan perbuatan tersebut. Serta bagaimana pencegahannya agar tidak meluas di masayarakat.

LGBT Adalah Penyakit

Meilanny Budiarty Santoso dalam tulisannya di sebuah jurnal menyebutkan, di Amerika tahun 1952 homoseksual dianggap “gangguan kepribadian sosiopat” oleh American Psychiatric Association. Aktifitas seks sesama jenis baik itu lesbian (wanita dengan wanita) atau gay (pria dengan pria) dan yang sejenisnya seperti biseksual dan transgender dinilai sebagai sebuah penyimpangan atau kelainan seks. Tahun 1968 aktifitas seks ini dianggap “penyimpangan seksual” hingga tahun 1973 homoseksual masih dianggap “penyakit mental”. Namun setelah tahun itu, karena banyak desakan dan pertimbangan politis, kaum homoseksual tidak tidak lagi dinyatakan sebagai pengidap penyakit mental.

Dalam Q.S Al-A’raf : 80-84 diabadikan bagaimana Nabi Luth mengajak umatnya, kaum Sodom saat itu untuk meninggalkan kebiasaan homoseksual yang mereka lakukan. Sampai perbuatan ini dikategorikan sebagai bentuk fahisyah (yang menjijikan). Namun, mereka menolak dan mengusirnya karena dianggap orang sok suci, hingga Allah menurunkan adzab pada mereka dengan menghujani batu dari tanah yang berapi, dan membalikkan kaum itu hingga terpendam di dalam bumi, seperti yang disebutkan dalam Q.S. Hud : 82-83.

Charles W. Socarides MD menyebutkan bahwa gay bukan dari bawaan lahir (genetik). Seseorang menjadi gay lebih pada faktor luar, dari informasi yang ia dapat dan lingkungan di mana ia tinggal. Faktor biologis tidak begitu dominan,  tetapi faktor psikososial sangat besar pengaruhnya membentuk seseorang menjadi berubah orientasi seksnya.

LGBT merupakan penyimpangan seksual dan dianggap sebagai penyakit yang  harus disembuhkan, bukan dilestarikan atau malah semakin disosialisasikan. Dalam hal ini, jika kita menelusuri dalil-dalil baik dari Al Quran maupun Hadits yang menganjurkan untuk berobat bagi yang sakit. Menyembuhkan penyakit merupakan ikhtiar yang bisa dilakukan. Dalam hadits riwayat Ahmad disebutkan, “Sesungguhnya Allah tidak memberikan satu penyakit kecuali Allah berikan juga padanya obat.” Maka dari itu berobatlah. Meskipun pada hakikatnya yang menyembuhkan bukan dokter atau obat, melainkan Allah swt. ini seperti yang dipahami dalam Q.S. As Syu’ara : 80, “Apabila aku sakit, maka Dia (Allah) lah yang menyembuhkan”.

LGBT Tidak Sesuai Fitrah

Manusia tercipta atas dasar fitrah. Fitrah adalah sifat asal manusia yang dibawa sejak lahir. Bahwa manusia suka keindahan atau suka lawan jenis adalah fitrah. Fitrah merupakan nikmat Allah yang diberikan pada manusia agar kehidupan manusia berjalan normal seperti yang dikehendaki-Nya. Dalam Q.S Ar Rum : 30 disebutkan, “Fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. tidak ada perubahan pada fitrah Allah..”  Ayat ini kemudian bisa dipahami bahwa segala macam bentuk tindakan yang mengarah pada perubahan fitrah tersebut harus dihilangkan.

Ibnu Asyur menyebutkan “fitrah” merupakan tujuan umum (maqasid ‘am) sebuah syariat di turunkan Allah kepada hamba-Nya. Mewujudkan hukum yang sejalan dengan fitrah adalah salah satu tujuan yang diinginkan oleh Allah. Misalnya, ketika Allah ciptakan malam untuk istirahat dan siang untuk beraktifitas. Laki-laki untuk perempuan dan sebaliknya. Semua ini demi menjaga keberlangsungan hidup manusia agar bisa berjalan dengan normal.

Sebut saja pernikahan, Allah ciptakan pasangan (laki-laki dan perempuan) lalu dari keduanya melahirkan keturunan yang bisa melestarikan keberadaan manusia. Saat Adam diciptakan seorang diri, kemudian Allah melengkapinya dengan Hawa. Begitu selanjutnya, Allah jadikan wanita menjadi penyejuk dan penenang hati lelaki. Allah hadirkan laki-laki untuk melindugi wanita, sehingga terwujud ketentraman dalam rumah tangga.

Apa yang terjadi ketika kehidupan manusia sudah tidak berjalan sesuai dengan fitrahnya lagi. Tentu dalam hal ini , orientasi seks yang semula berlaku antar lawan jenis tapi kemudian berubah menjadi dengan sesama jenis maka eksistensi manusia akan punah sebab tidak akan tercapai tujuan utama dari pernikahan tersebut.

Sama halnya dengan gay atau lesbi, biseksual (tertarik pada laki-laki ataupun perempuan) dan transgender (perasaan memiliki perbedaan identitas gender yang dimiliki sejak lahir) merupakan bentuk usaha menyalahi kodrat manusia. Sebab pada dasarnya, ketika seorang anak lahir ke dunia dengan kelamin laki atau perempuan, maka itu adalah kodrat yang harus dijalankan di dunia sesuai perannya. Al Quran memperingatkan, perbuatan mengubah ciptaan Allah termasuk sikap tidak bersyukur terhadap nikmat yang dikarunia karena telah mengikuti langkah setan yagn menjadikannya sebagai pelindung, seperti yang dijelaskan dalam Q.S An Nisa’ : 119.

Mencegah Penyebaran LGBT

Sebuah kaidah fikih menyebutkan “adh-dhararu yuzal”, bahwa setiap yang bahaya harus dihilangkan. Meskipun bahaya itu kecil namun ia berpotensi untuk mencelakakan orang maka harus disingkirkan. Misalnya, menyingkirkan duri di jalanan. Bahkan Nabi menyebutnya sebagai bentuk iman paling kecil yang harus dimiliki seseorang.

Apabila homoseksual sudah berwujud aktifitas yang mengarah pada prilaku seks sesama jenis maka bisa dikenakan sanksi pidana (hadd) menurut hukum Islam. Mazhab Hanafi berpendapat bahwa pelakunya diberi hukuman sebasar Takzir (hukuman yang bisa membuat pelaku jera). Sementara Mazhab Syafii dan Hanbali memberi sanksi pidana yang sama padanya seperti pelaku zina, yaitu 80 cambukan untuk yang belum menikah, dan 100 cambukan untuk yang sudah menikah, dan diasingkan (taghrib) atau diisolasi di suatu tempat jika diperlukan. Bahkan sebagian sahabat seperti Abu Bakar, Ali bin Abi Talib, Khalid bin walid dan Abdullah bin Zubair memberi sanksi hingga hukuman mati. Ini dilakukan untuk menjaga eksistensi keturunan (hifz al nasl) manusia dari kepunahan.

Selain melalui jalur hukum, perkembangan dan penyebaran virus LGBT bisa disikapi dengan tindakan preventif. Hal ini dilakukan dalam lingkungan keluarga, misalnya orangtua harus memberi perhatian penuh kepada anaknya untuk menyadari identitas seksualnya. Sebuah hadits yang diriwayatkan Abu Daud menyebutkan, “Suruhlah anakmu usia tujuh tahun untuk shalat. Jika usia sepuluh tahun tidak mau shalat maka pukulah dia. Pisahkan tempat tidur mereka”.

Hal lain yang diajarkan rasul, untuk mengajarkan anak-anak memilih permainan lazimnya anak–anak bermain. Misalnya, kegiatan berkuda, memanah, bermain pedang hanya cocok dilakukan oleh anak laki-laki. Sementara itu, bermain boneka cocok untuk anak perempuan seperti yang rasul berikan kepada Fatimah.

Selain itu juga agar anak menyadari identitas seksualnya sejak kecil, perlu membiasakan mengenakan pakaian yang sesuai. Tidak memakaikan pakaian laki-laki untuk perempuan, begitu juga sebaliknya. Dalam hadis riwayat Ahmad dan Abu Daud disebutkan, “Allah melaknat laki laki yang memakai baju perempuan, dan perempuan memakai baju laki-laki.”

Dari beberapa uraian di atas bisa disimpulkan bahwa Syariat Islam memandang LGBT sebagai bentuk kelainan seksual yang harus disembuhkan. Jika ditemui keanehan prilaku maka harus berusaha untuk diobati. Agar tidak menyebar maka perlu tindakan hukum berupa penerapan sanksi pidana bagi pelakunya. Sedangkan untuk cara preventif bisa dimulai dari pendidikan di keluarga dengan mengenalkan anak dan menyeadarkannya tentang arti penting identitas seks yang dimiliki secara individu. Wallaahua’lam bishawab.[]

 

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

sixteen + eleven =

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.