Home Opini Matematika dan Hukum

Matematika dan Hukum

840
0
SHARE

Oleh: Ahmad Sadzali

Dosen Fakultas Hukum Universitas Islam Indonesia.

Wasatahiyyah.com — Suatu ketika seorang dosen di sebuah Fakultas Hukum bertanya kepada mahasiswa, “Apa hubungan matematika dan hukum?” Mahasiswa itu sontak tertawa disertai ekspresi heran. Ia menjawab, “Jauh sekali Pak. Matematika kan ilmu sains, sedangkan hukum itu ilmu sosial. Jadi gak ada hubungannya, Pak.”

Kemungkinan besar yang memiliki pemikiran seperti itu tidak hanya mahasiswa tersebut saja. Patut diduga, masih banyak sekali mahasiswa hukum yang juga berpikiran bahwa hampir tidak ada hubungan antara matematika dan hukum. Bisa jadi, para dosen pengajar mereka pun juga berpikiran seperti itu. Sebab tidak jarang pemikiran mahasiswa merupakan refleksi dari pemikiran dosennya, dan bahkan institusi pendidikannya.

Hal tersebut sudah cukup untuk menggambarkan betapa dikotomisnya ilmu pengetahuan yang saat ini berkembang. Ini merupakan sebuah efek samping dari modernisme ilmu pengetahuan yang sangat positivistik. Ilmu kealaman dan terapan begitu menghegemoni, sehingga cara pandangnya yang positivistik itu juga dipaksakan kepada ilmu-ilmu sosial, termasuk Ilmu Hukum.

Korban lainnya adalah Ilmu Matematika. Konsekuensi lain dari cara pandang epistemologi yang positivistik adalah perbudakan terhadap Ilmu Matematika. Ilmu Matematika memang tidak ditinggalkan, akan tetapi fungsinya direduksi sedemikian rupa. Sehingga yang tersisa dari Ilmu Matematika adalah melayani nafsu ilmu-ilmu yang berhubungan dunia fisik atau terapan. Ilmu Matematika hanya dianggap dan digunakan sebagai ilmu alat yang bertugas untuk membantu pengembangan ilmu-ilmu empiris, seperti fisika, kimia, astronomi, atau teknologi.

Matematika Gerbang Metafisika

Ikhwan al-Shafa di dalam Risalat al-Jami’ah (1949) menulis: “Sesungguhnya bentuk bilangan dalam jiwa manusia berkorespondensi dengan bentuk yang ada dalam materi. Bilangan adalah contoh dari dunia yang lebih tinggi. Melalui pengetahuan tentang bilangan, murid kearifan secara bertahap mengenal sains matematika lainnya, sains alam, dan metafisika. Ilmu bilangan adalah akar dari ilmu-ilmu, dasar kebijaksanaan, awal ilmu-ilmu ketuhanan, pilar dari makna, eliksir pertama, dan alkimia yang mujarab.”

Dari pernyataan tersebut, terlihat bahwa matematika memiliki posisi yang sangat vital bagi semua ilmu pengetahuan. Ia bahkan menjadi pintu masuk kepada dunia metafisika dan berkaitan erat dengan nilai transendental. Matematika menyimpan sejuta rahasia alam semesta. Untuk mengungkapnya dibutuhkan kejernihan berpikir dan kebijaksanaan yang tinggi. Sebagai eliksir, matematika berarti memiliki daya transformasi yang mengubah dan sekaligus menyempurnakan.

Dalam Mazhab Pythagorean, terdapat doktrin bahwa segala sesuatu adalah bilangan. Artinya unsur-unsur dan prinsip bilangan merupakan juga prinsip yang terdapat di dalam segala sesuatu. Mempelajari bilangan berarti juga merenungi hakikat kosmos, yang selanjutnya akan mengantarkan pada dunia intelligible, sebuah alam yang sifatnya abstrak, namun riil dan nyata. Plato menyebutnya sebagai Dunia Idea. Bagi Plato, pengatahuan sejati adalah apa yang disebutnya sebagai episteme, yaitu pengetahuan yang tunggal dan tidak berubah-ubah. Dengan begitu, mempelajari matematika seharusnya dapat mengantarkan kita pada Dunia Idea, karena memiliki prinsip-prinsip yang sifatnya abadi, pasti, dan universal (Husain: 2011).

Matematika mengajar manusia sebuah hakikat dan absolutisme kebenaran. Angka tujuh adalah angka yang terletak setelah enam dan sebelum delapan. Itulah hakikat dari angka tujuh, meskipun namanya kita sebut dengan ‘tiga’. Begitu pula ketika bilangan atau angka-angka tersebut dijumlahkan. Satu ditambah satu adalah dua. Ini adalah sebuah absolutisme kebenaran yang diakui oleh siapapun dan akan terus berlaku sampai kapanpun.

Penjelasan tersebut mengambarkan begitu dekatnya relasi matematika dengan filsafat. Begitu kentalnya relasi matematika dengan filsafat, sampai-sampai Plato menuliskan sebuah semboyan di depan gerbang perguruan miliknya, Akademia, yang berbunyi: “Medeis ageometretos eisito”. Artinya, yang tidak berpengalaman dalam matematika dilarang masuk.

Problem Filsafat Hukum

Seperti yang disinggung sebelumnya, aliran Positivisme sebagai efek dari modernisme juga menjamah Ilmu Hukum. Dalam pandangan Auguste Comte, perintis aliran Positivisme, sebuah ilmu harus bersifat netral dan tidak memihak pada sebuah ideologi manapun. Aliran ini memandang perlunya memisahkan secara tegas antara hukum dengan moral. Implikasinya, tidak ada hukum lain selain apa yang sudah ditetapkan oleh penguasa.

Abad ini, yang digadang-gadang sebagai era Postmodernisme, aliran Positivisme ini mendapatkan hujatan yang bertubi-tubi, hampir di semua cabang ilmu sosial, tak terkecuali Ilmu Hukum. Pertanyaan mendasar yang muncul adalah, apakah pemakaian metodologi ilmu-ilmu kealaman dapat diterapkan dalam persoalan penelitian sosial? Para kritikus aliran Positivisme telah banyak menunjukkan bahwa penerapan aliran ini dalam ilmu-ilmu sosial sungguh merupakan masalah yang serius.

Dalam kajian hukum, aliran Positivisme menghendaki dilepaskannya pemikiran meta yuridis mengenai hukum. Norma hukum harus eksis di dalam alamnya yang objektif sebagai norma yang positif atau lex. Hukum tidak lagi dikonsepsikan sebagai asas-asas moral meta yuridis yang abstrak tentang keadilan. Hukum dipaksa untuk memenuhi tuntutan kepastian dan objektifitas sesuai dengan aturan yang sudah tertulis. Sehingga keadilan telah direduksi sedemikian rupa, dan terbatas hanya norma-norma yang sudah diketuk palu oleh negara saja.

Inilah sebab fundamental mengapa hukum yang berlaku kerap kali jauh dari rasa keadilan. Cara berpikir hukum dengan paradigma Positivisme telah merasuki pikiran-pikiran pembentuk dan penegak hukum, sehingga keadilan hanya dimaknai sesempit kepastian hukum. Tak salah juga ketika hukum dirasa tajam ke bawah namun tumpul ke atas, karena hukum dijauhkan dari aspek transendental, sehingga penegakannya tunduk pada penguasa materi.

Lantas siapa yang bertanggung jawab? Pendidikan tinggi hukum tentu saja pemegang saham terbesar atas pembentukan paradigma Positivisme tersebut. Dan dunia pendidikan secara umum juga turut bertanggung jawab atas carut-marutnya pengembangan ilmu pengetahuan ini.

Metematika-Hukum-Etika

Sampai di sini, ternyata apa yang dialami Ilmu Metematika juga terjadi pada Ilmu Hukum. Keduanya diperbudak oleh kepentingan pragmatis. Batas jangkauan keduanya dipersempit. Keduanya tidak dapat lagi menjangkau alam metafisika, dimana justru di alam itulah bersemayam hakikat. Jika persoalan inti dari hukum adalah keadilan, maka hakikat keadilan dapat ditemukan di alam metafisika itu, bukan alam norma-norma tertulis di dalam undang-undang.

Selain senasib, lalu apa relasi antara matematika dengan hukum? Apakah matematika berguna untuk pengembangan Ilmu Hukum? Pertanyaan inilah yang muncul ketika mendengar kata matematika dan hukum disandingkan.

Selain pada aspek metafisika (yang keduanya mengalami reduksi), salah satu titik temu antara matematika dan hukum adalah pada etika. Pada titik ini bahkan pertemuan keduanya lebih bersifat praktis dan aplikatif.

Jika ditelusuri hakikatnya sampai pada level filosofis, matematika merupakan salah satu jalan menuju pengembangan etika. Tujuan dari etika adalah pembentukan karakter. Pada gilirannya, karakter itulah yang menentukan kualitas kemanusiaan seseorang. Matematika sangat berperan penting dalam pembentukan karakter ini. Matematika melatih pendayagunaan akal untuk membentuk kematangan karakter dan jiwa manusia.

Pada ranah pembinaan karakter ini, matematika memiliki sejumlah etos yang berhubungan dengan hukum. Matematika memiliki etos kecintaan terhadap kebenaran absolut dan universal yang melintasi sekat-sekat tradisi-primordial manusia, bahkan melintasi ruang dan waktu. Keadilan dalam hukum juga berlaku secara universal, dan diharamkan baginya untuk dimasuki ruang diskriminasi. Kebenaran matematika akan tetap berlaku meskipun hari kiamat tiba, seperti halnya keadilan yang harus tetap ditegakkan meskipun langit runtuh (fiat justitia ruat caelum).

Matematika juga menghantarkan kepada sikap adil, proporsional dan bijak. Misalnya, jika terdapat sebuah garis yang dibagi menjadi dua bagian yang tidak sama, maka ia harus mengambil dari yang panjang, lalu menambahkannya pada bagian yang lebih pendek, sehingga diperolehlah suatu persamaan. Sikap ini tentu saja menjadi modal dasar bagi siapapun yang bergelut di bidang hukum, mulai dari pembentukan hingga penegakannya. Sebab dalam menemukan keadilan, hukum sangat bergantung pada kualitas manusianya.

Selain itu, matematika juga membetuk logika berpikir yang objektif serta sikap yang jujur dan apa adanya. Atas dasar inilah, Ibnu Miskawaih menekankan pentingnya belajar Ilmu Matematika terutama pada generasi pelajar, karena tidak hanya berfungsi sebagai pembinaan kecerdasan, melainkan juga dapat menumbuhkan kejujuran, menyukai kebenaran, serta menghindari dan membenci perbuatan bohong.

Mengubah Cara Pandang

Ke depan, cara pandang kita mengenai matematika perlu diubah. Pengembangan ilmu pengetahuan yang berbasis dikotomis ini harus disudahi. Efeknya sudah banyak terbukti membawa kerusakan bagi kemanusiaan. Maka, matematika harus ditempatkan kembali pada tempatnya yang semula. Bukan hanya pelayan bagi ilmu-ilmu kealaman, tetapi basis ontologis, epistemologis dan aksiologis bagi semua ilmu pengetahuan, termasuk ilmu-ilmu sosial.

Cara pandang mengenai pengajaran matematika di semua level kurikulum pendidikan di Indonesia juga perlu diubah. Pengajaran matematika harus mampu menyentuh level etika, sehingga tidak saja berguna untuk pembinaan kecerdasan kognitif saja, melainkan juga kecerdasan spiritual.

Bayangan penulis, jika pengajaran matematika sudah sampai pada level seperti itu hingga sekolah menengah akhir, maka di level perguruan tinggi hukum akan mendapatkan input mahasiswa yang berkualitas, baik secara kognitif maupun spiritual. Mahasiswa perguruan tinggi hukum inilah yang nantinya menjadi aset berharga bagi pengembangan hukum yang berkeadilan.(WST/YNF)

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

eighteen − nine =

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.