Home Opini Ijtihad Politik TGB dan Karakter Aswaja

Ijtihad Politik TGB dan Karakter Aswaja

441
0
SHARE

Oleh: Zainurrofieq

Jagat politik Indonesia kini heboh dengan langkah Dr. Muhammad Zainul Majdi, MA., lebih dikenal dengan panggilan TGB, Tuan Guru Bajang. Beliau mendukung Presiden Jokowi untuk melanjutkan kepemimpinannya 2 periode.

Pernyataan Gubernur NTB ini melawan arus #2019 Ganti Presiden yang diusung partai oposisi pemerintah dan mengklaim sebagai “suara ummat Islam”.

Tentu saja, ijtihad politik TGB ini membuat pro dan kontra, sehingga suhu perpolitikan di Indonesia menghangat, apalagi menghadapi tahun politik 2019.

Posisi Ketua Organisasi Ikatan Alumni Al Azhar di Indonesia (OIAA) itu, sebagai ulama dan politisi yang banyak didengar ummat Islam Indonesia mengharuskan kita memotretnya dari diskursus politik keummatan, tidak hanya menilai dari politik ansich.

Dr. Ajid Tohir  seorang pakar, pemikir dan akademisi keummatan di UIN SGD Bandung, dalam sebuah diskusi ringan pernah meyakinkan hal ini kepada saya dengan menunjukan lebih dari tiga literature kitab-kitab besar, yaitu Kitab Ahkam Sultaniyyah Mawardi, Al farqu bainal firoq Bagdadi, Ihya ulumuddinnya Al Ghazali dan Majmu’ Fatawa Ibnu Taimiyyah, menengarai bahwa “diantara karakter politik ahli sunnah wal jamaah  (Aswaja) adalah selalu berusaha merapat dan bersama dengan pemerintahan yang sah (terpilih)”.

Pernyataan akademis tersebut, saya tafsirkan sebagai warning bagi kaum Muslimin Indonesia untuk  bermain cantic dan berpihak dengan kemaslahatan bersama.  Sama sekali tidak hanya menggunakan  spirit autokritik saja dalam keberpihakannya menjalankan sebuah pemerintahan. Artinya para ulama negeri ini ditantang untuk menggali banyak karakter politik modern kekinian dengan tuntunan gerak dan moral politik Aswaja yang telah terbentang sejak zaman para sahabat.

Sejarah Aswaja jika kita lihat pada fase sosial-politiknya, muncul pada masa sesudah Nabi Muhammad SAW wafat hingga muncul seorang ulama besar bernama Abu Hasan Al-Asy’ari (260H – 324H, 64 tahun).

Pengikut firqah tersebut kemudian dinamakan Asya’ariyah. Seiring populernya ajaran ini, Asy’ariyah sempat dijadikan firqah resmi oleh Dinasti Gaznawi di India pada abad 11-12 Masehi, sehingga pemahaman ini mudah menyebar ke berbagai wilayah, termasuk India, Pakistan, Afghanistan, sampai ke Indonesia.

Selain Abu Hasan Al Asy’ari, ada juga tokoh yang mendukung semangat “ma’ana alaihi wa ashabihi”, yaitu Abu Mansur Al Maturidi yang kemudian pengikutnya dikenal dengan Al-Maturidiyah. Dua tokoh ini kemudian secara formal dikenal sebagai ulama besar yang memelopori munculnya kembali semangat ajaran Islam berwawasan ahlussunnah wal jama’ah di tengah derasnya arus Islam berwawasan Jabariyah, Qodariyah, dan Mu’tazilah yang banyak membingungkan umat Muslim.

Ajaran Asy’ariyah menyatakan bahwa manusia punya kehendak, tetapi dalam porsi tertentu dibatasi oleh takdir Allah. Bahkan pada fase ideology, Aswaja menjadi ideologi yang secara formal menjadi visi, spirit dan manhaj al fikr bagi perkumpulan atau organisasi keislaman. Dalam fase ini pula, banyak organisasi yang kemudian saling klaim bahwa dirinya adalah organisasi Islam berpaham Aswaja.

Hadirnya para penyebar agama Islam di Nusantara seperti Walisongo memberikan warna bagi tumbuh suburnya aliran Aswaja di Indonesia. Walisongo menyebarkan Islam dengan cara damai, akomodatif, moderat, toleran dan berpegang pada mengambil maslahat dan menolak kemudaratan sebagai konsep yang dibawa oleh para ulama pendahulu yang mengusung Aswaja.

Cara Walisongo dalam menyebarkan Islam di Nusantara juga berpedoman pada Aswaja.

Di Indonesia, Hasyim Asy’ari lah yang merumuskan secara formal bagaimana organisasi Islam yang ia bentuk, Nahdlatul Ulama(NU) harus menggunakan aliran Aswaja sebagai manhaju al-fikr.

Karakter politik  Aswaja juga mengilhami tradisi tirakat. Para ulama terdahulu sadar bahwa dalam menghadapi segala problem sosial masyarakat, termasuk problem politik, tak hanya cukup mengandalkan logika rasional, melainkan harus melibatkan kekuatan spiritual yang dijalankan dengan ikhtiar tirakat: puasa sunah, zikir, shalat sunah, dan berbagai riyadloh lainnya.

Karena itulah karakter politik Aswaja (melalui kiai dan para santrinya) sering kali sulit dibaca dan ditebak. Para pengamat politik pun berpandangan beragam, sering kali menyulut peredebatan sengit. Inilah sebenarnya warisan kekuatan politik kepesantrenan yang berpaham Aswaja.

Bagi paham Aswaja, mendirikan pranata kenegaraan hanyalah sebatas kewajiban kolektif (fardhu kifayah) saja, sehingga –sebagaimana mengurus jenazah– jika sebagian orang sudah mengurus berdirinya negara, maka gugurlah kewajiban lainnya.

Oleh sebab itu, konsep berdirinya negara (imamah) dalam Aswaja tidaklah termasuk salah satu pilar (rukun) keimanan sebagaiman yang diyakini oleh Syi’ah. Namun, Aswaja juga tidak membiarkan yang diakui oleh umat (rakyat). Hal ini berbeda dengan Khawarij yang membolehkan komunitas umat Islam tanpa adanya seorang Imam, apabila umat itu sudah bisa mengatur dirinya sendiri.

Aswaja tidak memiliki patokan yang baku tentang negara. Suatu negara diberi kebebasan menentukan bentuk pemerintahannya, bisa demokrasi, kerajaan, teokrasi ataupun bentuk yang lainnya. Aswaja hanya memberikan kriteria (syarat-syarat) yang harus dipenuhi oleh suatu negara.

Sepanjang persyaratan tegaknya negara tersebut terpenuhi, maka negara tersebut bisa diterima sebagai pemerintahan yang sah dengan tidak mempedulikan bentuk negara tersebut. Sebaliknya, meskipun suatu negara memakai bendera Islam, tetapi di dalamnya terjadi banyak penyimpangan dan penyelewengan serta menginjak-injak sistem pemerintahan yang berdasarkan kriteria yang telah ditetapkan, maka praktik semacam itu tidaklah dibenarkan dalam paham politik Aswaja.

Aswaja tahu betul bahwa politik bukanlah tujuan, melainkan hanya wasilah (sarana) untuk lebih mendekatkan diri kepada Allah, bukan untuk melakukan manipulasi dan merampas kemanusiaan. Aswaja adalah pemahaman wasathiyyah yang bersikukuh pada perwujudan baldatun thayyibun warabbun ghafuur (negeri yang indah dan mendapatkan pengampunan dari Allah).

Saya yakin, ijtihad politik TGB mengarah pada spirit tersebut.

Wallahua’lam.

Cintawana. 11/07/2018

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.