Home Opini Pengentasan Kemiskinan dengan Umrah dan Haji

Pengentasan Kemiskinan dengan Umrah dan Haji

292
0
SHARE
KH. Zainurrofieq

Catatan dari Maros-Kendari dan Kolaka

Oleh : Zainurrofieq

Bersyukur empat hari kemarin saya dapat roadshow buku THE POWER OF KABAH ke tiga kota di Indonesia Timur. Mensosialisasikan asumsi bahwa Kabah sebenarnya menjadi daya ungkit untuk sebuah keshalehan dan kesadaran sosial, ekonomi, kemanusiaan bahkan politik. Tidak hanya ibadah ritual semata sebagaimana dikritikan oleh Muhammad Abduh, Rasyid Ridlo dan Syakib Arselan dan diinspirasikan oleh Abdullah Bin Mubarak.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

تَابِعُوا بَيْنَ الْحَجِّ وَالْعُمْرَةِ فَإِنَّهُمَا يَنْفِيَانِ الْفَقْرَ وَالذُّنُوبَ كَمَا يَنْفِى الْكِيرُ خَبَثَ الْحَدِيدِ وَالذَّهَبِ وَالْفِضَّةِ وَلَيْسَ لِلْحَجَّةِ الْمَبْرُورَةِ ثَوَابٌ إِلاَّ الْجَنَّةُ

“Ikutkanlah umrah kepada haji, karena keduanya menghilangkan kemiskinan dan dosa-dosa sebagaimana pembakaran menghilangkan karat pada besi, emas, dan perak. Sementara tidak ada pahala bagi haji yang mabrur kecuali surga.” HR. Tirmidzi no. 810, dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani dalam Al-Silsilah As-Shahihah no. 1200

Kemiskinan  merupakan  salah satu  problem  pelik  yang  dihadapi  umat manusia. Hasil survey yang dilakukan oleh Sam Mountford yang dirilis pada Januari 2012 menempatkan isu tentang kemiskinan sebagai masalah krusial dibanding masalah-masalah lainnya.

James C. Scott (dalam Arraiyyah, 2007) mengatakan, akibat lain yang timbul dari masalah kemiskinan adalah kurangnya harga diri, moralitas yang rendah, dan kurangnya kesadaran beragama.

Studi yang dilakukan BPS, UNDP dan UNSFIR menunjukkan bahwa jumlah penduduk miskin di Indonesia pada periode 1996-1998, meningkat dengan tajam dari 22,5 juta jiwa (11,3%) menjadi 49,5 juta jiwa (24,2%) atau bertambah sebanyak 27,0 juta jiwa (BPS, 1999). Sementara itu, International Labour Organisation (ILO) memperkirakan jumlah orang miskin di Indonesia mencapai 129,6 juta atau sekitar 66,3 persen dari seluruh jumlah penduduk (BPS, 1999).

Angka kemiskinan ini akan lebih besar lagi jika dalam kategori kemiskinan dimasukan penyandang masalah kesejahteraan sosial (PMKS) yang kini jumlahnya mencapai lebih dari 21 juta orang. PMKS meliputi gelandangan, pengemis, anak jalanan, yatim piatu, jompo terlantar, dan penyandang cacat yang tidak memiliki pekerjaan atau memiliki pekerjaan namun tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Secara umum kondisi PMKS lebih memprihatinkan ketimbang orang miskin. Selain memiliki kekurangan pangan, sandang dan papan, kelompok rentan (vulnerable group) ini mengalami pula ketelantaran psikologis, sosial dan politik.

Ada beberapa catatan penting untuk menjawab arah solusi dalam hadits tadi berkenaan dengan fenomena kemiskinan:

Pertama: “Menggarap” Kelas Menengah

Lester Thurow (1987) mendefinisikan kelas menengah sebagai kelompok masyarakat yang memiliki pendapatan antara 75 persen sampai 125 persen di atas rata-rata pendapatan per-kapita. Thurow, dalam konteks ini mendefinisikan kelas menengah dengan pendekatan relatif.

Sementara Milanovic dan Yitzaki (2002) mendefinisikan kelas menengah dengan menggunakan rata-rata pendapatan per-kapita masyarakat sebagai batas bawah (floor) dan batas atas (celling). Seturut definisi ini, masyarakat dengan pendapatan per-kapita perhari antara 5-20 $ diklasifikasikan sebagai kelas menengah. Definisi kelas menengah Milanov dan Yitaki ini menggunakan pendekatan absolut.

Pertumbuhan kelas menengah yang masif terjadi di sejumlah negara melatari munculnya perubahan pola konsumsi dan dalam banyak hal berpengaruh pada perubahan arah ekonomi.

Sebagai sebuah konsep, kelas menengah kerap menjadi bahan perdebatan, utamanya terkait definisi dan perspektif untuk memahaminya. Tidak mengherankan jika terdapat banyak tafsiran dan perspektif untuk memahami kelas menengah. Secara akademik, terdapat dua pendekatan untuk mendefinisikan kelas menengah, yakni pendekatan relatif dan absolut.

Pendekatan relatif mendefinisikan kelas menengah menurut okupansi, baik dari sisi pendapatan maupun pengeluaran. Sementara pendekatan absolut mendefinisikan kelas menengah berdasarkan pendapatan dan pengeluaran atau konsumsi (consumption expenditures). Perbedaan dari kedua pendekatan itu terletak pada besaran ukuran pendapatan atau pengeluaran.

Dalam seleksi peserta Umroh dan haji ada isilah “Istitoah” (mampuh), inilah klasifikasi awal secara alami untuk focus pada strata klas tertentu (menengah).

Kedua, Penajaman karakter Mabrur

Keseriusan konsep haji dan Umroh dalam prosesi mensejahterakan, dominan diposisikan dalam kondisi afrod (indifidu). Artinya penggarapan karakter positif terjadi dalam proses ibadah suci tersebut. Istilah yang difahami dalam penajaman karakter pribadi dalam prosesi ibadah umroh dan haji tersebut adalah Mabrur yang merupakan manifestasi dari kepedulian pada orang miskin dan meng-“creat” sebuah suasana kesejahteraan dan atau kedamaian (assalam).

Manifestasi zona mabrur ini merupakan upaya membuat landasan mental yang Ikhlash-Ridlo-Syukur-Sabar dan Tawakkal, sehingga akan teraffirmasi dan terakumulasi dalam gaya dan karakterhidup yang Semangat-Sejahtera-Fokus-Tenang dan Bahagia. Arah inilah yang kemudian akan menjadi rel dalam menjalani spirit Hasanah fiddunya dan hasanah fil akhirat.

Dengan asumsi dan konsepsi ini mesti seseorang akan sampai pada sebuah keniscayaan untuk berkembang positif (Growing) dan ini yang diistilahkan dengan Berkah (ziyadatulkheir).

Dalam menerjemahkan hadits haji umrah dan kemiskinan tadi, Syaikh Abul ‘Ula Al-Mubarak furi rahimahullah menjelaskan bahwa maksud menghilangkan kemiskinan di sini bisa bermakna dzahir atau makna batin. Beliau berkata,

أي يزيلانه وهو يحتمل الفقر الظاهر بحصول غنى اليد ، والفقر الباطن بحصول غنى القلب

“Haji dan umrah menghilangkan kefakiran, bisa bermakna kefakiran secara dzahir, dengan terwujudnya kecukupan harta. Bisa juga bermakna batin yaitu terwujudnya kekayaan dalam hati.” Qana’ah adalah kekayaan terbesar dalam hidup manusia, merasa bahagia dengan apa yang Allah berikan walaupun orang lain (orang kaya) menganggapnya kurang.

Wallahua’lam bishshawab.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

five + one =

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.