Home Opini Stop Menghina Orang, Pesan Moral Politik TGB

Stop Menghina Orang, Pesan Moral Politik TGB

557
0
SHARE

Oleh: Zainurrofieq

Realitas politik adalah pertarungan antara kekuatan dan kepentingan yang tidak ada kaitan dengan etika, politik dibangun bukan dari yang ideal  dan tidak tunduk pada apa yang seharusnya, alam politik kecenderungan umumnya adalah menghalalkan segala cara. Itulah politik yang diajarkan Machiavely.

Immanuel Kant menyebutkan ada dua watak yang terselip di setiap insan politik yaitu watak merpati dan ular. Gaya lemah lembut, dan gaya licik, selalu berusaha untuk memangsa. Gaya politik seseorang ditakar tergantung watak mana yang lebih dominan dari kedua watak itu.

Namun lain lagi bagi Aristoteles yang menyatakan politik itu bertujuan mulia, dan untuk itulah etika politik dibutuhkan untuk membuat prilaku politik yang santun.

Pandangan Aristoteles sama dengan Al Ghazali dan Ibnu Taimiyyah yang tidak memisahkan etika dan politik. Al Ghazali menyatakan agama adalah dasar, dan kekuasaaan adalah penjaganya. Sesuatu tanpa dasar akan runtuh dan suatu dasar tanpa kekuatan akan hilang.

Di sinilah kita sepakat pada sebuah diskursus yang berbunyi Moral Politik.

Dalam sebuah obrolan kecil kami bersama sahabat-sahabat aktifis alumni Al Azhar ketika saya ditanya, apa gerangan yang dibutuhkan Indonesia dari sosok TGB Muhammad Zainul Majdi?

Saya dengan pasti dan bersemangat mengatakan, “Dalam diri TGB ada mutiara yang harus tertransformasi bagi bangsa Indonesia yaitu moral politiknya.”

Salah satu langkah politik TGB yang penuh dengan perhitungan dan pandangan futuristic serta tanggungjawab keummatannya adalah ketika mengumumkan dirinya lebih mendukung memberi kesempatan kepada Presiden Indonesia incumbent (Joko Widodo) untuk melanjutkan periode 5 tahun pemerintahan berikutnya, dengan konstitusional tentunya.

Sebagian besar ummat dan bahkan mayoritas politisi terkaget sontak dengan langkah TGB ini, bahkan lebih dari 3 hari halaman media mainstream dan media sosial hanya berkutat di issyu yang digerakkan TGB ini. Apalagi beberapa bulan sebelumnya sudah dikompanyekan tagar 2019 Ganti Presiden oleh salah satu partai.

Bagi saya, salah satu pelajaran yang bisa diambil dari langkah tersebut adalah, “Berhentilah politik negeri ini dalam keasyikannya saling hina menghina”.   Hasilnya? Dahsyat….

Arah politik negeri ini dipaksa untuk kembali bermuhasabah, berintrospeksi diri jangan-jangan selama ini kita hanya pandai menghujat dan menagih orang dan kemudian diakhiri hanya dengan hinaan dan bahkan cacian. Moral politik seperti ini yang sebenarnya sangat jauh dari moral Indonesia yang ketimuran, etika yang sebenarnya tidak cocok dengan manusia Nusantara yang indah dan damai. Bahkan sama sekali tidak mencerminkan proto type akhlak Islam yang mayoritas di Indonesia.

Saya yakin, dalam upaya dan langkah cerdas ini, TGB telah berhasil mengibarkan bendera rekonsiliasi keummatan dan substansi politik kekuasaan yang dinamis dan bermartabat.

Islam bahkan telah jelas-jelas di contohkan oleh Rasululllah Muhammmad SAW dan para ulama serta para politikus ulung zaman keemasan Islam yang penuh dengan akhlak perdamaian dan kritik yang santun.

Kemaren, saya dan bangsa Indonesia dipertontonkan sebuah tampilan tausiah Aa Gym dan TGB Zainul Majdi di masjid negara Istiqlal yang isi tausiahnya Kedua Ulama ini membahas mutiara ayat 11-13 Al Quran Surat Al Hujurat, yang intinya adalah dengan detil Al Quran menuntun kita untuk tidak lagi memperolok-olokan orang lain, bisa jadi mereka yang diolok-olokan lebih baik dari yang mengolok-olokannnya.

Untuk aspirasi politik kita, sampaikan dengan santun dan konstitusional.

Stop Menghina!!

Mari jadikan moment 2019, tahun politik Indonesia yang mempertontonkan persaingan kebaikan (fastabiqul khoiroot).

Terimakasih TGB !!

Walllahu a’lam.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

2 + 16 =

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.