Home Opini Mari Duduk Bersama di Ruang Tengah dalam Rumah Besar Kita.

Mari Duduk Bersama di Ruang Tengah dalam Rumah Besar Kita.

95
0
SHARE

Udo Yamin Majdi

“Wahai anak-anakku jangan­lah kamu (bersama-sama) masuk dari satu pintu ger­bang,” pesan Yakub kepada anak-anaknya, “dan masuklah dari pintu-pintu gerbang yang berlain-lain; namun demikian aku tiada dapat melepaskan kamu barang sedikit pun daripada (takdir) Allah. Keputusan menetap­kan (sesuatu) hanyalah hak Allah; kepada- Nya-lah aku bertawakal dan hendaklah ke­pada-Nya saja orang-orang yang bertawakal berserah diri.”

Dialog itu, Allah abadikan dalam Quran surat ayat 67.

Dalam status sebelumnya, saya berbicara tentang creative minority. Kelompok kecil yang memiliki kreativitas ini berusaha menjawab tantangan-tantangan.

Beberapa minggu lalu (Rabu, 21/2019), gubernur Jawa Barat, Ridwan Kamil, berbicara tentang visi satu abad atau visi Indonesia 2045. Menurutnya, untuk menuju ke sana, banyak sekali tantangan.

“Kalo saya coba simpulkan tantangan kita jadi satu aja, maka tantangan terbesar kita adalah kita suka ribut, suka berantem, mudah bertenggar. Begitulah kira-kira.” Kata Kang Emil di hadapan lebih dari 100 orang alumni Pelajar Islam Indonesia.

Saya mengamini pernyataan Kang Emil itu. Seandaimya kita semua fokus membangun Indonesia sesuai dengan peran, keahlian, dan kapasitas masing-masing, maka Indonesia akan menjadi bangsa maju.

Namun kenyataannya, kita sebagai anak bangsa, sering meributkan hal-hal yang tidak perlu, sehingga energi kita habis, dan kita tidak produktif.

Termasuk yang sering kita ributkan adalah masalah wadah. Padahal wadah hanyalah sebuah alat saja.

Rumah besar kita adalah Islam, sedangkan ormas, orpol, lembaga, institusi, atau apapun namanya, hanyalah kamar-kamar kecil.

Yang menjadi masalah adalah ketika kita berada di salah satu kamar, kita sibuk mengatakan bahwa kamar saya adalah benar, sedangkan kamar orang lain adalah salah. Lebih parah lagi, ketika mengklaim dirinya sebagai rumah Islam, sedangkan yang lain bukan.

Rumah Islam itu milik kaum muslimin sedunia. Di dalamnya, selain ada kamar-kamar, ada juga ruang bersama. Inilah yang kita sebut dengan kebangsaan.

Sebagai negara bangsa, kita harus duduk bersama di ruang tengah ini. Manakala kita berhimpun di ruang tengah bernama Indonesia ini, sudah sewajarnya kita berpikir tentang kepentingan bangsa.

Apapun kamar yang kita pilih, maka kita tidak terlepas dari ruang tengah dan rumah besar. Artinya, apapun ormas, orpol, lembaga, institusi dan sejenis yang berada di Bumi Pertiwi, maka bagian dari Indonesia dan Islam.

Nah, FAPII hadir sebagai salah satu kamar, siap untuk duduk di ruang tengah membangun bangsa dan menjaga rumah besar bernama Islam.

Yuk, kita buat kamar masing-masing nyaman, ruang tengah aman dan rumah besar damai. Berhentilah bertikai!

Mari kita penuhi pesan Nabi Ayub, “masuklah dari pintu berbeda.”

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

16 − seven =

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.