Home Opini Esensi Syukur

Esensi Syukur

994
0
SHARE

Oleh:
Mahir Mohamad Soleh *)

Siapakah yang tidak menginginkan nikmat agar selalu menjadi miliknya? Sebagai hamba-Nya selayaknya untuk menjaga nikmat-Nya agar tetap selalu menjadi milik kita. Kuncinya adalah dengan bersyukur. Ini sesuai dengan firman Allah dalam al-Qur’an: “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu…” (QS Ibrahim [14]: 7). Dalam tafsir Al-Jami’ Al-Ahkam Al-Qur’an, Imam Al-Qurtuby menafsirkan ayat tersebut “Sesungguhnya jika kamu bersyukur terhadap nikmat-Ku maka akan Kutambahkan semua nikmat karena kebaikan-Ku.”

Manusia sering kali ketika mendapatkan nikmat hanya sekedar mengucapkan alhamdulillah (hamdalah) tanpa memahami esensi dibalik kalimat tersebut. Bahkan tidak sedikit perbuatannya tidak selaras dengan nikmat yang diberikan sehingga pada hakikatnya ia bukan manusia yang pandai bersyukur. Sedang kufur (ingkar) nikmat Allah akan mendapatkan azab-Nya, sebagaimana firman-Nya “…dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih.” (QS Ibrahim [14]: 7)

Selama ini kita ketahui, watak manusia bila diberi sebuah hadiah dia akan merasa senang dan berterima kasih kepada pemberi hadiah. Analogi ini menyimpulkan sebagai fitrah bahwa manusia senang diberi sesuatu. Bersyukur salah satu bentuk keistiqomahan terhadap kenikmatan yang diberikan atas kita. Bersyukur merupakan sebuah naluri fitrah manusia sebagai bentuk ungkapan terima kasih atas pemberian seseorang.

Dalam Sirr Dawaam An-Ni’am, Dr. Faisal ibn Misy’al mengungkapkan bahwa kalimat as-syukru (syukur) dalam al-Qur’an disebutkan sebanyak 77 kali baik dalam bentuk kata subjek, objek, predikat, plural, dan lain sebagainya, yang mengisyaratkan betapa pentingnya bersyukur dalam kehidupan manusia.

Ibnu Al-Qayyim dalam Iddat As-Shabirin wa Dzahirat As-Syakirin menegaskan “Kedudukan syukur menempati urutan pertama diatas keridhaan. Ridha bagian dari syukur, sedang syukur adalah setengahnya iman, dan iman terbagi antara lain setengah dari syukur dan sabar.”

Kata sifat sabar senantiasa beriringan dengan kalimat syukur. Sebagaimana firman-Nya “Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda (kekuasaan)-Nya bagi setiap orang yang banyak bersabar dan banyak bersyukur.” (QS Ibrahim [14]: 5, QS Luqman [31]: 31, QS Saba’ [34]: 19, QS As-Syura [42]: 33).

Sebagai hamba Allah sepatutnya kita senantiasa bersyukur setiap waktu atas nikmat-Nya yang telah diberikan kepada kita. Dengan bersyukur, maka Allah akan meridhai kepada kita. “…dan jika kamu bersyukur, niscaya Dia meridhai bagimu kesyukuranmu itu…” (QS Az-Zummar [39]: 7).

Wallahu a’laam bis-showaab

* Sarjana Hadits Universitas Al-Azhar Mesir

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

3 × 5 =

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.