Home Opini Rumor dan Ekspresi Keimanan

Rumor dan Ekspresi Keimanan

470
0
SHARE

Oleh : Arsyul Munir, Lc, MA

Bahasa lain rumor paling dikenal netizen saat ini kemungkinan hoaks. Padanan kata lainnya masih cukup mengantri; pseudosciences, berita palsu, kebohongan yang menipu, dan lain seterusnya. Orientasinya sederhana, membuat orang-orang sejagat mempercayainya dengan ceria, tanpa menyisakan pilihan-pilihan rasional lain. Seolah benar, padahal sebaliknya. Tak jelas, mana batasan segregasi antara keduanya; begitu berkabut, kabur. Kebohongan adalah kebenaran. Ketidak-jujuran adalah kejujuran. Perang adalah kedamaian. Totalitarianisme adalah demokratisasi. Kejahatan adalah kebaikan. Nyaris, semua fakta-fakta objektif hari ini tergadaikan oleh meta-data subjektif. Akibatnya kategori-kategori non-fiksi seringkali kejadian dianggap sebatas fantasi.

Tentus saja selain karena kecanggihan unsur rekayasa, keberhasilan berkamuflase itu ditopang oleh kesadaran ego manusia sendiri yang justru secara sukarela menghendakinya demikian. Aneh sekaligus paradoks. Tapi itulah yang diidentifikasi Steve Tesich sebagai fenomena post-truth, yang belakangan semakin dipopulerkan Ralph Keyes dengan istilah The Post-Truth Era; sebuah tatanan dunia baru tanpa kebenaran di mana masyarakat secara umum mendasarkan posisi keberpihakannya dalam situasi tertentu pada sejumlah rumor yang kehilangan basis validitasnya secara objektif. Masyakarat negeri kita, tampaknya kali ini tengah berada di arus pusaran hoaks yang sekali waktu dapat meruntuhkan integritasnya sebagai bangsa yang –katanya–, sangat religius. George Orwell dan Aldous Huxley menyebutnya sebagai distopia.

Dari perspektif historis, rumor itu bukan barang baru. Eksistensinya bisa jadi sepurba usia manusia sendiri. Konon, para tukang sihir-lah yang dahulu kala pertama kali menggunakan mantra hoaks [berasal dari bahasa Latin “hocus pocus” yang berarti “ini adalah tubuh”] untuk mengaburkan kebohongannya menjadi seolah-olah kebenaran. Di sepanjang sejarah Islam, rumor dan/atau hoaks juga banyak bertebaran. Yang paling sadis di antaranya adalah peristiwa hadits al ifki; sebuah kabar dusta yang mengaduk-aduk rumah tangga Nabi saw, hingga hampir sebulan lamanya. Kecuali itu, ramalan tentang kehancuran Islam yang dihembuskan kaum munafik karena kewafatan Nabi saw, juga merupakan hoaks mengerikan bagi sebagian para sahabat ra. Dan gegara rentetan hoaks pula, Khalifah Utsman bin Affan ra, tumbang menjadi tumbal pembunuhan para korban dan penebar hoaks politik yang tak mengenal kata keji.

Motif penerimaan hoaks sudah barang tentu beragam. Tergantung sudut pandang. Pendekatan psikologi sosial umpamanya, mendapati identifikasi umum mengapa seseorang mudah menyebar/menerima kabar dusta sebagai berikut; sensasionalitas, rasa bangga diri [dapat mengelabui orang lain], kontestasi politik-kekerasan, motivasi palsu, komunikasi basa-basi dan lain sebagainya. Pada akhirnya, dunia kesadaran manusia tak lagi termanifes oleh pengetahuan murni, melainkan berisi setumpukan isu-isu murahan yang semakin mereduksi potensi kebaikan dirinya hingga ke tingkat abnormal.

Itulah mengapa dalam peribahasa Arab dikatakan; “rumor itu diproduksi manusia penakut, dibenarkan orang bodoh dan dimanfaatkan sekawanan cerdik-pandai”. Keseluruhan lingkar penyebaran hoaks itu diistilahkan Islam sebagai “murjifin” [Q.S Al Ahzab: 60-61], yaitu; sekelompok hipokrit penyuka keonaran, chaos, dan distablitas sosial. Disposisinya luar biasa, musuh kemanusiaan. Dan ancamannya pun tak main-main, negara sebagai mandataris warga berkewajiban untuk mengedukasinya dengan berbagai cara. Karena itu, kecenderungan Islam untuk mengkriminalisasi penyebaran hoaks pada teks tersebut dapat dipahami sebagai  upaya preventif demi terbangunnya prinsip kepastian dan keadilan hukum sekaligus.

Tak ada jaminan seseorang dapat terlepas selamanya dari jeratan berita bohong. Selevel para Nabi pun tak luput dari serangan disinformasi bernuansa satire, olok-olokan dan hoaks. Isa as, ibunda kudusnya dirumorkan berbuat tak senonoh. Yusuf as, dicitrakan tuannya sendiri secara negativ sebagai penggoda wanita. Nuh as, di era sebelumnya dikabarkan mengidap kegilaan. Musa as, diberitakan rezim Fir’aun hanya sekadar tukang tenung. Dan Nabi Muhammad saw, –sebagaimana  diketahui– sudah sangat kenyang dijejali statement-statement hoaks yang mendiskreditkan risalah yang diembannya; pengidap schizophrenia, dukun gila, tukang sihir, dan lain sebagainya.

Berdusta juga rupanya mengenal seni. Dan itu menjadi trade mark keahlian kuno masyarakat yang tak beradab. Joseph Goebbels yang seorang menteri propaganda Adolf Hittler, tampaknya mewarisi kegeniusannya dari masa lalu yang uncivilized itu. Slogannya yang “abadi” masih menjadi mitos masa kini yang cukup populer, bahwa: “kebohongan yang diulang-ulang akan membuat publik mempercayainya sebagai kebenaran.” Absurd tapi logis.

Bagaimanapun, kebohongan dan tindak penyebarannya merupakan cermin dari kualitas keimanan seseorang. Kecuali itu, ia juga pangkalnya segala kemaksiatan. Di aras teks lain, berdusta ditenggarai sebagai simbol hipokrisi. Maka semakin banyak menyebar dusta, semakin ia dekat dengan jurang kebinasaan. Wasiat Nabi saw, juru selamatnya minimal ada tiga perkara; Pertama, menjaga lisan; Kedua, at tasabbut wat tabayyun [verifikasi & uji data]; dan Ketiga; kesadaran eksistensial manusia akan pertanggung jawaban individualitasnya di hadapan Tuhan.

Hadza wa Allahu Ta’ala ‘Alam.

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

sixteen + fifteen =

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.