Home Opini Otak Ditolak, Otot Bertindak

Otak Ditolak, Otot Bertindak

333
0
SHARE

Oleh: Udo Yamin Majdi

Homo homini lupus, manusia adalah serigala bagi manusia lainnya. Pernyataan Thomas Hobbes ini, menemukan kebenarannya pada kasus Syahrul Ramadhan. Di halaman muka Lampung Post edisi 13 September 2014, ada berita berjudul “Ditendang Guru, Ginjal Syahrul Robek”. 

Siswa kelas V SDN 1 Pugung Penengahan, Lemong, Kabupaten Pesisir Barat Lampung itu, terbaring lemah di Paviliun Putri Betik Hati B Nomor 20, Rumah Sakit Umum Daerah Abdul Moeloek (RSUDAM). Menurut ibunya, Syahrul mengalami infeksi ginjal akibat ditendang guru di sekolahnya.

Hal itu berawal pada Jumat (5/9) bulan lalu, saat semua siswa kelas V diminta berbaris untuk senam bersama. Namun, banyak siswa asyik bermain, akhirnya BR (guru wali kelas V) dan RS (guru kelas III) marah dan mengumpulkan sekitar 40 siswa kelas V itu di satu ruang kelas.

Semua siswa disuruh berbaris, lalu BR memukul bahu para siswa menggunakan kayu damar. Namun, saat memukul bahu Syahrul, siswa berkulit hitam ini menangkis dengan lengannya. RS marah dan menendang pinggang Syahrul hingga jatuh tersungkur. Tiga hari setelah kejadian itu, Syahrul mengalami kencing darah.

Empat Bagian Otak

Tindakan BR dan RS itu contoh “guru serigala”. Guru tipe ini adalah serigala bagi para muridnya. Ini terjadi akibat otak reptilnya terlalu dominan. Sebagai makhluk biologis, manusia sama dengan hewan, yaitu memiliki batang otak (brain stem) dan otak tengah. Yang membedakan manusia dan hewan adalah otak limbic (emosi/cinta) dan korteks (berpikir).

Dr. Bruce D. Perry meneliti keempat bagian otak itu dan menyatakan bahwa para dominan batang otak dan otak tengahnya, cenderung melakukan kekerasan. Sebaliknya, bagi dominan otak limbik dan korteks, mereka memiliki empati dan rasa cinta. Keempat bagian otak itu, sangat dipengaruhi oleh lingkungan pengasuhan sejak kecil.

Anak di lingkungan pengasuhan penuh dengan neglect (kurang kasih sayang, kurang aman, dan kurang stimulus) dan trauma (ancaman, makian, dan pukulan), otak reptilnya menebal sekaligus otak korteks menipis, sehingga memiliki karakter seperti hewan selalu siaga: menyerang, bertahan, atau lari. Anak itu akan tumbuh dan berkembang menjadi pribadi violence, atau kesulitan untuk berempati dan bersimpati kepada penderitaan orang lain (affcetive blinder).

Sebaliknya, anak hidup di lingkungan pengasuhan penuh cinta, kasih sayang, keamanan, kenyamanan dan penghargaan, maka fungsi otak limbik dan korteksnya tumbuh dan berkembang optimal, sehingga melahirkan karakter manusiawi atau bijaksana, dapat menggunakan akalnya dengan baik, dan memiliki rasa cinta atau empati tinggi.

Mata Rantai Kekerasan

Dengan dalih apapun, tindakan BR dan RS itu tidak bisa dibenarkan. Guru adalah pengasuh di lingkungan sekolah. Guru bukan sekedar menstranfer ilmu, melainkan mendidik karakter anak. Idealnya guru, pengganti orang tua murid, sehingga menyayangi siswanya seperti anak kandung sendiri.

HR dan RS, alih-alih mendidik karakter anak, malahan mereka menodai sekolah dengan neglect dan trauma. Kelakuan BR dan RS terhadap Syahrul, pengulangan dari apa yang mereka terima sewaktu mereka kecil. Asumsi ini semakin kuat, apabila tahun kelahiran dua guru itu, tahun 80-an alias “Generasi Ari Hanggara”–kasus orang tua yang menganiaya anaknya sehingga mati.

Dan di kemudian hari, 40 siswa korban BR dan RS itu akan melakukan hal yang sama. Begitu seterusnya kekerasan itu berputar seperti mata rantai yang tersambung satu sama lainnya, berkelindan tanpa henti.

Sadar Hukum dan Pendidikan Ramah Anak

Oleh sebab itu, dua hal di bawah ini perlu kita lakukan untuk memutuskan mata rantai kekerasan itu:

Pertama, stakeholder pendidikan harus sadar hukum.

Dalam dua dasawarsa ini, perhatian berbagai kalangan, terutama pemerintah terhadap kekerasan sudah ada. Ini dapat kita lihat dari pengesahan UU No. 23 Tahun 2002 tentang “Perlindungan Anak” dan UU No. 23 Tahun 2004 tentang “Pencegahan Kekerasan dalam Rumah Tangga” (UU KDRT).

Dalam UU No 23 Tahun 2002, ketentuan pidana untuk HR dan RS sangat jelas. Termaktub dalam pasal 80 bahwa: (1) Setiap orang yang melakukan kekejaman, kekerasan atau ancaman kekerasan, atau penganiayaan terhadap anak, dipidana dengan pidana penjara paling lama 3 (tiga) tahun 6 (enam) bulan dan/atau denda paling banyak Rp 72.000.000,00 (tujuh puluh dua juta rupiah); dan (2) Dalam hal anak sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) luka berat, maka pelaku dipidana dengan pidana penjara paling lama 5 (lima) tahun dan/atau denda paling banyak Rp 100.000.000,00 (seratus juta rupiah).

Siapkah stakeholder pendidikan menegakan hukuman bagi guru-guru yang melakukan kekerasan seperti HR dan RS itu agar mereka jera dan guru lain semakin berhati-hati dalam bertindak?

Kedua, stakeholder pendidikan secara optimal dan maksimal menerapkan pendidikan ramah anak.

Pemakaian istilah “ramah anak” dalam pendidikan, bermula dari diadobsinya Hak-hak Anak oleh PBB dan kemudian diratifikasi oleh hampir seluruh anggota PBB pada tahun 1989.

Pendidikan ramah anak adalah sebuah proses pendidikan menempatkan, memerlakukan dan menghormati hak anak sebagai manusia, terutama hak untuk dapat hidup, tumbuh, berkembang, dan berpartisipasi secara wajar sesuai dengan harkat dan martabat kemanusiaan, serta mendapat perlindungan dari kekerasan dan diskriminasi. Dengan kata lain, pendidikan ramah anak adalah pendidikan yang mengedepankan rasa kasih sayang dan bukan kekerasan, mengedepankan pujian bukan umpatan, mengedepankan asah, asih dan asuh, bukan intimidasi atau tekanan.

Nah, sudahkah kita menerapkan pendidikan ramah anak di lingkungan kita?

Sebagai pamungkas, semoga segala bentuk kekerasan pada anak tidak terulang lagi. Sudah saatnya para guru menggunakan otak limbic dan korteksnya, bukan menggunakan ototnya, dalam menghadapi para murid. Wallahu a’lam bish shawab.

===

Pernah dimuat di rubrik Opini di Lampung Post (Rabu, 15/10/2014)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

14 + 10 =

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.