Home Opini Aku Menulis, Aku Abadi

Aku Menulis, Aku Abadi

99
0
SHARE

Udo Yamin Majdi

Wasathiyyah.com–Verba valent, scripta manent. Secara bebas, pepatah latin ini, kita artikan: perkataan akan cepat hilang, sedangkan tulisan akan tetap abadi. Contoh adalah kepulangan bapak Atdikbud, Drs. Slamet Sholeh, M.Ed. Beliau beberapa waktu yang lalu pulang ke Indonesia. Tugas beliau di Mesir telah selesai.

Saya tidak yakin, mahasiswa Indonesia Mesir (Masisir) bisa akan mengingat pesan atau perkataan beliau ketika memberikan sambutan di berbagai acara atau materi beliau sebagai pemateri. Namun, lewat buku Cairo Cairo (KHY, 2008), Masisir dengan mudah memahami apa yang beliau katakan, bahkan bagi mereka yang pernah berjumpa bapak Sholeh, akan selalu mengenang beliau, sebaliknya bagi yang tidak pernah bertemu, akan berkenalan dengan beliau lewat buku itu.

Ditambah, saya dan beberapa teman Masisir menghadiahkan sebuah buku berjudul Buah Tutur: Kado Cinta Untuk Drs. Slamet Sholeh, M.Ed. (Word Smart Media, 2008). Isi buku tersebut tentang kesan dan pendapat para Masisir terhadap beliau. Nah, selama buku “Cairo Cairo” dan “Buah Tutur” itu berada di PMIK dan di tangan Masisir, maka beliau tetap abadi.

Keinginan untuk abadi adalah naluri manusiawi. Sebab, itulah yang terjadi pada orang tua kita, Nabi Adam As.. Hanya saja, hasrat untuk abadi itu, beliau tempuh dengan cara yang salah —mengikuti rayuan syetan. Nabi Adam tergelincir mendekati Pohon Abadi (Khuldi), sehingga beliau terusir dari surga.

Tentu saja keinginan untuk abadi lewat tulisan —hasil bacaan, tidaklah sama dengan mendekati pohon Khuldi itu. Membaca dan menulis, dalam kaca mata Islam, sangat penting. Sampai Allah bersumpah dengan alat tulis dan tulisan. Ini dapat kita lihat dalam Al-Quran: “Nun, demi pena dan apa yang mereka tulis.” (Qs. Al-Qolam [68] ayat 1).

Sangat menarik untuk kita kaji adalah, cara Allah memuji para penulis. Allah bersumpah, wal qolami, demi pena. Dalam ilmu tafsir, disebutkan bahwa manakala Allah bersumpah dengan makhluk-Nya, itu menunjukkan kedudukan makhluk tersebut sangat penting dalam kehidupan. Misalnya, Allah bersumpah wasy syamsyi, demi matahari, itu memiliki makna betapa pentingnya matahari. Mungkinkah ada kehidupan manakala tidak ada matahari? Begitu sumpah Allah dengan bulan, dengan waktu, dan seterusnya.

Dan sekarang Allah bersumpah dengan dua hal, pertama dengan pena —semua alat tulis sebab kata al-qolami memakai alif lam, ma’rifah, untuk menunjukan semua jenis alat tulis; dan kedua dengan “alat tulis”, disusul dengan sumpah terhadap “hasil” —karya tulis— dari aktivitas para penulis, melalui kata wa mâ yasthurûn. Ini menunjukkan bahwa baik alat maupun karya tulis, termasuk sesuatu yang sangat penting dalam kehidupan manusia.

Oleh sebab itu, tidak heran, jika nabi Muhammad Saw. memuji para penulis, dengan cara menyamakan mereka kepada para syuhadâ (para mati syahid). Beliau bersabda, “Di akhirat nanti, tinta para ulama itu, akan ditimbang dengan darah para syuhada’”

Dalam Islam, membaca dan menulis, dua aktivitas yang sangat penting. Sehingga wahyu pertama adalah perintah untuk membaca: Iqra’ (Bacalah!). Tentu saja, tatkala Allah memerintahkan untuk membaca, secara tersirat juga ada perintah untuk menciptakan “bahan bacaan”, alias menulis. Dan aktivitas menulis sudah menjadi tradisi para pemeluk Islam sejak zaman nabi Muhammad Saw. hingga detik ini.

Maka tidak aneh, jika kita menjumpai buku para ulama terdahulu belasan, bahkan ada yang puluhan jilid. Misalnya, Imam Ath-Thabari menulis kitab “Jamîul Bayân ‘an Ta’wilili Aayatil Quran” dua belas jilid. Karya beliau bukan hanya kitab ini saja, terlalu panjang kalau kita sebutkan di sini. Yang jelas, Imam Ad-Dawudi dalam kitab Thabaqât al-Mufassirîn menjelaskan bahwa Ibnu Jarir (Imam Ath-Thabari) selama empat puluh tahun menulis dan setiap hari menulis empat puluh halaman.

Mari kita hitung, 40 tahun x 365 hari x 40 halaman, berarti 584.000 halaman. Kalau satu buku kita rata-ratakan 1000 halaman, maka ada 585 jilid buku. Subhânallâh! Sungguh menakjubkan! Betapa tidak, beliau menulis pada zaman pena terbuat dari bulu ayam, bukan zaman digital yang komputer dan lap top serba canggih. Beliau yang hidup tahun 224-310 Hijriyah bisa menulis sebanyak 40 halaman tanpa komputer, lantas seberapa banyak yang kita tulis setiap hari dengan bantuan komputer?

Bahkan ulama dahulu, mereka menulis bukan di kertas –apalagi zaman sekarang memakai komputer, lap top note book, melainkan di pelepah kurma, kulit binatang, batu, dan tulang. Bahkan ada yang menulis di sepatu kulitnya —ingat sepatu Aladin. Sa’ad bin Jubair (wafat 714 M) bercerita, “Dalam kuliah-kuliah Ibnu Abbas, aku biasa mencatat pada lembaran; bila telah penuh, aku menuliskannya di kulit sepatuku, dan kemudian di tanganku”; dan “ayahku sering berpesan kepadaku, “Hapalkanlah, tapi paling penting adalah catatlah! Bila sampai di rumah maka tuliskanlah! Jika kau memerlukan atau tidak ingat lagi, maka bukumu akan membantumu!” Itulah tradisi ulama Islam zaman dulu. Hingga, hasil catatan mereka, menjadi rujukan umat Islam dari masa ke masa.

Atau kita ambil contoh ulama abad 20-an yang lebih dekat dengan zaman kita, misal Syaikh Ali Thanthawi. Seberapa banyak bacaan dan tulisannya? Sebaiknya kita dengarkan langsung beliau bertutur:

“Saya membaca lebih sepuluh jam setiap hari. Setiap jam, saya membaca sepuluh halaman untuk buku berat dan sepuluh halaman buku ringan. Berarti, setiap hari saya membaca sebanyak dua ratus halaman. Itu saya lakukan dalam rentang waktu tujuh puluh tahun. Oleh sebab itu, saya pun menulis lebih banyak dibanding dengan orang-orang yang saya kenal, kecuali Amir Syakib Arsalan dan Abbas Mahmud Al-Aqqad. Artikel saya yang termuat di media massa lebih dari tiga ribu halaman, sedangkan yang hilang entah di mana, lebih dari itu.”

Sekarang silahkan Anda hitung sendiri, berapa halaman hasil baca Syaikh Thanthawi selama tujuh puluh tahun? Setelah itu, hitung berapa halaman hasil baca dan tulisan Anda. Lalu, bandingkan dengan hasil baca dan tulisan Anda dengan bacaan dan tulisan Syaikh Ali Thantawi. Seberapa besarkah jaraknya?

Dari jawaban Anda, mungkin Anda menemukan jawaban mengapa selama ini Anda tidak menulis, sebab Anda sedikit sekali membaca, baik itu membaca buku maupun membaca realitas —lingkungan, dan alam semesta. Kalau Anda telah membaca buku Cairo Cairo dan Buah Tutur, buku tersebut sebenarnya sangat mudah untuk ditulis oleh siapa saja, termasuk Anda.

Tapi mengapa tidak semua bisa melakukannya? Sebab, tidak semua orang memiliki kemauan dan istiqamah dengan kemauan untuk menulis. Jadi, alasannya bukan mampu atau tidaknya menulis, karena saya yakin Anda mampu menulis, hanya saja tidak ada kemauan. Mampu tapi tidak mau, inilah kita sebut dengan malas. Sekali lagi, sudah saatnya, kita bukan sekedar jago berbicara, melainkan juga ahli menulis, agar kita abadi. Sekali lagi, Verba valent, scripta manent. Wallâhu ‘alam.

* * *

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

17 + thirteen =

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.