Home Opini Mau 2020 Lebih Baik, Perbaiki Dulu Cara Berpikir!

Mau 2020 Lebih Baik, Perbaiki Dulu Cara Berpikir!

176
0
SHARE

Oleh : Muhammad Arifin

Awal tahun 2020 di Tanah Air ditandai dengan musibah banjir yang melanda beberapa wilayah Jabodetabek. Ratusan orang terpaksa harus mengungsi dari tempat tinggalnya. Ratusan kendaraan bermotor terendam banjir bahkan banyak di antaranya hanyut oleh derasnya air. Semua kerugian itu jika dikonversi dengan rupiah bisa mencapai triliunan rupiah.

Tentu kita patut prihatin dan berkewajiban mengulurkan bantuan sesuai kemampuan kita, tanpa memandang latar belakang agama, suku, etnis, bahasa, dan latar belakang politik para korban. Semua korban banjir itu adalah saudara kita sesama manusia. Semua harus ditolong dan diselamatkan. Bukan hanya manusia, bahkan hewan pun harus ditolong dan diselematkan.

Dulu, masyarakat Mesir kuno kesulitan mengatasi banjir. Setiap tahun selalu saja banjir datang secara rutin akibat meluapnya sungai Nil pada musim hujan yang terjadi di wilayah hulu di selatan. Sungai Nil adalah sungai terpanjang di dunia, melewati sepuluh negara Afrika: Ethiopia, Zaire, Kenya, Uganda, Tanzania, Rwanda, Burundi, Sudan Selatan, Sudan, dan Mesir. Dari sepuluh negara itu, Mesir terletak di bagian paling rendah. Posisi ini menguntungkan bagi Mesir karena mendapat limpahan air Nil lebih banyak daripada negara lain.

Hal itu berdampak positif bagi pertanian Mesir. Lumpur yang turut terbawa air dari hulu ke hilir itu sangat bermanfaat menyuburkan lahan pertanian Mesir. Tidak heran jika kita membaca literatur sejarah Mesir kuno akan kita temukan betapa pertanian Mesir pada masa kuno itu, ribuan tahun sebelum Masehi, pun sudah maju dan berkembang.

Tetapi, posisi itu juga berdampak negatif. Ketika musim hujan di wilayah hulu sungai Nil tiba, sering terjadi banjir. Kerugian yang ditimbulkan akibat banjir tidak sedikit. Tentu yang paling merasakan dampaknya adalah Mesir sebagai negara di wilayah terendah. Selalu ada korban manusia, hewan ternak, dan pertanian yang mengalami rusak berat. Produksi pertanian terhenti. Dan itu terjadi setiap tahun.

Orang-orang Mesir lalu berkesimpulan bahwa alam, yakni sungai Nil, tidak bisa dilawan. Tidak bisa dikalahkan. Manusia harus tunduk kepada Nil. Sungai Nil memiliki kekuatan melebihi kekuatan manusia, karenanya manusia perlu mengorbankan sesuatu yang berharga kepada alam, kepada sungai Nil, agar tidak mendatangkan banjir lagi. Mereka akhirnya mempersembahkan gadis tercantik dari seluruh negeri untuk diceburkan ke dalam sungai Nil sebagai tumbal agar sungai Nil tidak lagi banjir. Setiap tahun menjelang musim banjir tiba.

Sampai masa awal Islam, praktik seperti itu masih ada. Beberapa sumber sejarah menyebutkan bahwa Amr bin Al-Ash r.a., sahabat Nabi saw. yang dijadikan gubernur Mesir oleh Khalifah Umar bin Khattab r.a., mengirim laporan kepada khalifah tentang hal itu. Khalifah Umar terus mengingatkan bahwa fenomena banjir, pasang naik atau pasang surutnya sungai Nil, mengalir atau tidaknya air sungai Nil, bukan karena kehendak Nil itu sendiri, tetapi karena kehendak Tuhan. Sungai Nil tidak lebih dari makhluk biasa ciptaan Tuhan seperti kita dan makhluk-makhluk lainnya. Karena itu, tidak perlu mengorbankan gadis untuk diceburkan ke sungai Nil sebagai tumbal, karena hal itu menzalimi sang gadis di samping juga merupakan tindakan menyekutukan Tuhan.

Begitu juga banjir di negeri ini. Dari sudut pandang agama, dari sudut pandang keimanan, banjir ini adalah musibah yang tidak lepas dari ketentuan dan takdir Tuhan. Keliru kalau kita menganggap banjir kali ini terjadi karena pemimpinnya si X dan bukan si Y. Apakah kalau pemimpinnya Y banjir pasti tidak terjadi? Apakah Y itu Tuhan sehingga bisa menentukan terjadi atau tidak terjadinya banjir?

Ini adalah musibah bersama. Ini adalah bencana alam yang tidak lepas dari ketentuan hukum dan sunatullah. Allah swt. berfirman:

وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ بِشَيْءٍ مِنَ الخَوْفِ وَالجُوعِ وَنَقْصٍ مِنَ الأمْوالِ وَالأنْفُسِ وَالثَّمَراتِ، وَبَشِّر الصَّابِرِين . الَّذِينَ إذا أصابَتْهُمْ مُصِيبَةٌ قالُوا إنَّا للهِ وإنَّا إلَيْهِ راجِعُونَ.

Kami pasti akan mengujimu dengan sedikit ketakutan dan kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Sampaikanlah (wahai Nabi Muhammad) kabar gembira kepada orang-orang sabar, (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan innâ lillâhi wa innâ ilaihi râji‘ûn (sesungguhnya kami adalah milik Allah dan sesungguhnya hanya kepada-Nya kami akan kembali). (QS Al-Baqarah [2]: 155-156).

Kita semua secara kolektif dan bersama-sama, baik yang terdampak langsung maupun yang tidak terdampak, harus menyadari bahwa banjir ini adalah cobaan dari Tuhan untuk menguji kita: sabar atau tidak, menggerutu atau tidak, nyinyir atau tidak, saling menyalahkan atau tidak, memanfaatkan situasi untuk kepentingan pribadi atau tidak, punya kepedulian membantu atau hanya menonton, menolong korban atau hanya mengambil gambar dan videonya selfie lalu membagikannya (share) di media sosial tanpa memberi bantuan, dan seterusnya.

Jika kita sabar, yang ditandai dengan pernyataan dan kesadaran diri bahwa kita semua adalah makhluk yang tunduk pada kehendak dan takdir Allah, maka kita termasuk orang yang justru mendapat keuntungan dari bencana ini. Keuntungan itu berupa limpahan rahmat, ampunan, dan petunjuk dari Allah. Lanjutan ayat di atas mengatakan:

أُولئِكَ عَلَيْهِمْ صَلَوَاتٌ مِنْ رَبِّهِمْ وَرَحْمَةٌ وَأولئِكَ هُمُ الْمُهْتَدُونَ

Mereka itulah (yakni orang-orang yang sabar menghadapi musibah) yang memperoleh ampunan dan rahmat dari Tuhannya dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk. (QS Al-Baqarah [2]: 157).

Syaikh Muhammad Mahmoud Higazi, ulama Al-Azhar Mesir yang wafat 1972 dalam kitab tafsirnya At-Tafsîr al-Wâdhih mengatakan bahwa mendapat petunjuk pada ayat ini mengandung arti mendapat bimbingan dan kemauan kuat untuk terus berbuat baik.

Agar kita tidak mudah terjebak menyalahkan pihak lain, ada baiknya kita meluaskan pandangan kita ke dunia luar sana. Pada saat Jabodetabek diguyur hujan deras dan berkepanjangan seperti sekarang, di Australia sedang terjadi kemarau panjang yang memicu kebakaran hutan, terutama di bagian timur benua itu. Angin panasnya bahkan terasa di Nusa Tenggara Timur dan sebagian Nusa Tenggara Barat. Di Rusia yang dinginnya biasa di bawah nol derajat Celcius, musim dingin kali ini tidak sedingin biasanya, justru lebih hangat. Di India juga begitu. Arab Saudi dan beberapa negara padang pasir Timur Tengah yang jarang sekali mengalami hujan, beberapa bulan terakhir justru sering diguyur hujan cukup deras.

Ini artinya dunia memang sedang mengalami anomali iklim, sedang terjadi perubahan iklim global. Sama sekali tidak ada urusan dengan siapa yang jadi gubernur dan siapa jadi presiden. Menuduh terjadinya banjir gara-gara pemimpinnya si A dan bukan si B, hanya akan mengotori hati dan menambah dosa kita yang sudah banyak ini.

Terjadinya banjir cukup besar di awal tahun 2020 juga tidak berarti bahwa tahun 2020 adalah tahun nahas, tahun sial, atau tahun buruk. Pergantian tahun –dengan peristiwa apa pun yang mengawalinya– adalah hal biasa. Itu bagian dari tanda-tanda kekuasaan Allah. Sama seperti pergantian siang dan malam, pergantian musim kemarau ke musim hujan, pergantian hari ke hari berikutnya dalam sepekan, dan seterusnya. Allah menjelaskan hal ini di dalam Al-Qur’an:

يُقَلِّبُ اللهُ الليلَ والنهارَ، إنَّ في ذلِكَ لَعِبْرَةً لأولي الأبْصارِ.

Allah menjadikan malam dan siang silih berganti. Sesungguhnya pada yang demikian itu pasti terdapat pelajaran bagi orang-orang yang mempunyai penglihatan (yang tajam). (QS An-Nûr [24]: 44).

Karena itu, seperti malam-malam lainnya, jam 12 tengah malam tanggal 31 Desember memasuki tanggal 1 Januari juga bukan waktu yang istimewa sehingga harus dirayakan sedemikian rupa. Malam pergantian tahun itu sama saja seperti malam-malam lainnya.

Memang, Allah mengistimewakan beberapa waktu dari waktu yang lain, tetapi bukan malam pergantian tahun itu. Salah satu waktu yang istimewa itu justru adalah sepertiga malam terakhir, kira-kira pukul 02 dini hari sampai menjelang Subuh. Bukan setahun sekali, tetapi malah setiap malam. Rasulullah saw. bersabda, “Allah swt. turun ke langit terendah (langitnya bumi) pada sepertiga terakhir setiap malam lalu berfirman, ‘Adakah hamba yang berdoa kepada-Ku untuk Aku kabulkan? Adakah hamba yang meminta sesuatu kepada-Ku untuk Aku berikan? Adakah hamba-Ku yang memohon ampun kepada-Ku untuk Aku ampuni?’ Itu terjadi sampai terbit fajar.”

Waktu istimewa itu juga terjadi setiap hari jika kita bisa memanfaatkannya dengan baik. Rasulullah saw. bersabda, “Tidak ada suatu hari kecuali pada setiap paginya ada dua malaikat yang turun ke bumi. Salah satunya berkata, ‘Ya Allah, berilah ganti kepada orang yang bersedekah pada hari ini.’ Yang lain berkata, ‘Ya Allah berilah kehancuran pada harta orang yang tidak mau bersedekah pada hari ini.’” (HR Bukhari dan Muslim).

Itu artinya setiap hari adalah istimewa jika kita manfaatkan untuk berinfak, bersedekah, dan membantu orang yang memerlukan. Apalagi pada hari-hari seperti ini, ketika sebagian saudara kita menderita kesulitan akibat bencana banjir. Tentu setelah kewajiban terhadap anak istri dan orang-orang yang menjadi tanggung jawab kita telah kita penuhi.

Waktu istimewa itu adalah waktu Subuh dan Asar ketika malaikat siang dan malaikat malam bertemu untuk berganti shift, lalu melaporkan kepada Tuhan bahwa si A, si B, si C ada mengikuti salat Subuh dan Asar berjamaah, sementara si D, si E, tidak ikut berjamaah. Itu waktu istimewa.

Selain setiap hari, waktu istimewa itu terjadi juga setiap pekan, setiap hari Jumat seperti sekarang. Rasulullah saw. bersabda, “Pada hari Jumat terdapat waktu yang jika seorang hamba muslim yang salat meminta kebaikan pada waktu itu, pasti dikabulkan oleh Allah swt.” (HR Bukhari dan Muslim).

Dalam hadis lain disebutkan bahwa waktu istimewa itu dimulai ketika imam/khatib mulai naik dan duduk di kursi mimbar sampai salat Jumat selesai. Riwayat lain menyebutkan, waktu istimewa itu adalah mulai didirikannya salat Jumat sampai kita pulang meninggalkan masjid. Riwayat lain lagi mengatakan waktu istimewa itu adalah setelah Asar sampai masuk waktu Magrib. Kapan pun, yang pasti hari Jumat adalah hari istimewa untuk kita memohon ampun dan meminta kebaikan dunia akhirat. Bukan jam 12 malam pergantian tahun!

Karena itu, jika kita ingin mengubah keadaan kita menjadi lebih baik pada tahun ini, ubahlah terlebih dahulu cara pikir dan cara pandang kita. Jika kita ingin keadaan kita tahun ini lebih baik daripada tahun sebelumnya, ubahlah dahulu mentalitas kita. Allah swt. berfirman:

إنَّ اللهَ لا يُغَيِّرُ ما بِقَوْمٍ حَتَّى يُغَيِّرُوا ما بِأنْفُسِهِمْ

Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan suatu kaum hingga mereka mengubah apa yang ada pada diri mereka. (QS Ar-Ra‘d [13]: 11).

Malik bin Nabi, cendekiawan muslim dari Aljazair akhir abad 19 awal 20, mengatakan bahwa kata mâ bi anfusihim pada ayat itu (yang secara harfiah berarti ‘apa yang ada di dalam diri mereka’) adalah cara berpikir, penalaran, mentalitas.

Cara berpikir sempit yang mudah mengkambinghitamkan orang lain sudah saatnya kita buang jauh-jauh. Mentalitas-mentalitas negatif seperti rendah diri, pesimis, memendam amarah, menyimpan dendam, malas, sudah seharusnya kita hindari. Mari kita masuki tahun 2020 dengan penuh pengharapan baik kepada Allah Swt.[]

Pondok Cabe, 3 Januari 2020.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

19 + 14 =

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.