Home Opini Spirit Isra Mi’raj Dalam Membangun Moderasi Islam

Spirit Isra Mi’raj Dalam Membangun Moderasi Islam

1190
0
SHARE
Dr. Muchlis M. Hanafi

Oleh: Muchlis M. Hanafi

Isra dan Mi`raj adalah peristiwa diperjalankannya Nabi Muhammad Saw. di suatu malam dari Masjidilharam ke Masjidil Aqsha, dan selanjutnya diangkat naik melintasi tujuh lapis langit sampai ke Sidratul Muntaha. Sebuah peristiwa yang menakjubkan dan mencengangkan karena di luar batas akal manusia. Oleh karenanya, Allah mengawali firman-Nya dengan ungkapan subhâna (Mahasuci Allah). Itulah mukjizat. Sebuah peristiwa yang terjadi di luar hukum kebiasaan atau kausalitas (sebab-akibat).

Dari perspektif keimanan kuasa Allah dapat menghilangkan sebab dalam sebuah musabab (akibat). Dalam peristiwa Isra dan Mi’raj, dimensi ruang dan waktu tiada, sehingga terjadi berbagai keajaiban di luar nalar manusia. Dalam beragama kita harus bisa menyisakan ruang dalam hati untuk mempercayai hal-hal yang tidak masuk akal.

Peristiwa Isra Mi`raj terjadi di saat Nabi merasa seorang diri menanggung beban dakwah setelah ditinggal oleh isteri tercinta dan paman yang selalu mengayominya. Bumi Mekkah dan sekitarnya (Thaif) terasa sempit. Tak ada yang bersimpati kecuali hanya segelintir orang. Sementara hujatan dan cemoohan tiada henti. Di saat itulah pintu langit terbuka. Semua penghuni langit menyambutnya dengan suka cita.

Benar kata ahli bijak, ketika dunia terasa sempit tataplah “Yang di langit”. Sebagai umat beragama tidak sepatutnya kita mudah berputus asa. Jangan pernah berputus asa ketika merasa sempit penghidupan di dunia, sebab masih tersimpan sembilan puluh sembilan rahmat di langit. Ketuklah pintu-pintu langit dengan ketulusan hati bermunajat kepada-Nya.

Ketulusan dan kebersihan hati dicapai dengan bertaubat. Dalam peristiwa Isra Mi`raj disimbolkan dengan peristiwa “pembedahan dada” (syaqq al-shadr), atau perut seperti dalam riwayat lain. Dalam sejarah hidup Nabi peristiwa ini terjadi sebanyak tiga kali. Pertama saat masih kanak-kanak, ketika sedang berada di bawah pengasuhan Halimah As Sa`diyyah. Beberapa Malaikat mendatanginya di saat ia sedang bermain bersama teman-teman sebaya. Ditelentangkan dan di bedah dadanya. Dikeluarkan ‘qalb’ nya untuk dicuci dengan air zamzam.

Kali kedua menjelang diangkat sebagai nabi, dan ketiga sebelum diperjalankan dalam peristiwa Isra Mi`raj. Nalar sehat akan bertanya-tanya, bagaimana itu terjadi? Organ tubuh bagian mana yang dikeluarkan dan dicuci? Dalam satu riwayat yang shahih (HR. Muslim) disebutkan yang dikeluarkan adalah segumpal darah, lalu dikatakan, “ini adalah celah bagi setan untuk menundukkanmu. Sekali lagi, ini adalah bagian dari skenario Tuhan di luar batas nalar manusia.

Para ulama memahami peristiwa pertama sebagai bertujuan agar tidak ada lagi celah bagi setan untuk menggoda Nabi. Sebagian ulama mengaitkannya dengan ayat pertama surat Al Syarh, “Bukankah Kami telah melapangkan dadamu?” Kali kedua sebagai bentuk kemuliaan untuk Nabi dan agar siap menerima wahyu dengan hati yang teguh dan keadaan yang benar-benar suci. Sementara yang ketiga, sebelum Isra Mi`raj, agar Nabi memiliki kesiapan dalam menyambut cahaya ketuhanan dan siap berada di tempat yang paling mulia menerima pantulan cahaya Al Asmâ Al Husnâ.

Inilah yang membedakannya dengan Nabi Musa. Tanpa kesiapan batin, Nabi Musa yang ingin sekali meihat Allah, tak kuasa menatap ‘wajah’ Allah. Bagaimana ia akan sanggup, gunung yang berdiri kokoh saja hancur luluh lantak ketika Allah mulai menampakkan Dzat-Nya. Nabi Musa pun jatuh pingsan tak sadarkan diri. Peristiwa ini memberi pesan kuat bahwa perjalanan menuju kesempurnaan dan kebahagiaan harus diawali dengan kebersihan dan ketulusan hati. Peristiwa pembedahan dada menjadi simbol. Jika pada diri Nabi Muhammad Allah membedah dadanya dan menyucikan hatinya, maka bagi umat Nabi Muhammad kesucian hati diperoleh dengan senantiasa bertaubat kepada Allah.

Peristiwa penting lainnya dalam rangkaian Isra Mi`raj adalah sajian minuman yang diberikan Malaikat berupa madu, susu dan khamar. Dalam berbagai versi riwayat, seperti kata sejarawan Ibnu Katsir, peristiwa itu terjadi dua kali. Pertama, saat Buraq, kendaraan yang membawanya dalam perjalanan Isra, ditambatkan di halaman Masjidil Aqsa dan beliau melaksanakan shalat.

Ketika beranjak dari shalat Malaikat menyodorkan tiga cawan masing-masing berisi susu, madu dan khamar. Atas ‘hidayah’ Allah, beliau memilih cawan berisikan susu. Saat itu Malikat Jibril berkata, Itulah fitrah yang di atasnya kamu berada”. Kali kedua, ketika Nabi tiba di Sidratul Muntaha dan menyaksikan beberapa sungai yang indah di dalamnya.

Apa yang dimaksud dengan fitrah, dan apa hubungannya dengan susu? Fitrah berarti asal kejadian, sehingga ada yang berkata pilihan susu menunjukkan bahwa susu adalah makanan sejak awal kejadian manusia yang menumbuhkan daging dan mengokohkan tulang. Atau, susu dipilih karena itulah minuman yang halal dan sejalan dengan fitrah manusia. Berbeda dengan khamar yang merusak tubuh manusia, sehingga diharamkan dalam Islam.

Imam Nawawi punya pendapat berbeda. Menurutnya, fitrah berarti Islam dan jalan yang lurus. Susu merupakan simbol dari karakter ajaran Islam tersebut, sebab susu mudah dikonsumsi dan segar rasanya. Begitulah karakter ajaran Islam.

Allah Swt. befirman, “Dan sungguh, pada hewan ternak itu benar-benar terdapat pelajaran bagi kamu. Kami memberimu minum dari apa yang ada dalam perutnya (berupa) susu murni antara kotoran dan darah, yang mudah ditelan bagi orang yang meminumnya.” (QS. Al-Nahl [16]: 66)

Ayat ini menjelaskan bahwa susu terbentuk dari sari pati makanan yang dikonsumsi oleh hewan. Dari makanan yang dikonsumsi binatang lahir tiga hal; sari pati makanan dalam darah yang bermanfaat buat hewan, kotoran sebagai sisa-sisa olahan makanan dan susu yang bermanfaat bagi manusia. Antara darah dan kotoran keluar susu.

Jika fitrah dimaknai Islam, maka ajaran Islam  bisa diibaratkan seperti minuman susu (syurbah labaniyyah). Islam sebagai ajaran yang dibawa oleh Nabi Muhammad Saw. merupakan hasil perasan dan penyempurnaan dari ajaran-ajaran terdahulu yang dibawa oleh para nabi dan rasul. Di kala terjadi penyimpangan terhadap ajaran para Nabi, terutama Nabi-Nabi Bani Israil, yang diwarnai dengan ekstremisme (al ghuluww), Islam datang dengan wajah yang moderat, jauh dari sifat berlebihan.

Sifat terpuji, seperti kata banyak ahli, selalu berada di antara kutub ekstrem. Sifat berani adalah pertengahan antara takut dan ceroboh. Sebagaimana susu keluar dari antara sari pati makanan dan kotoran, Islam pun lahir di antara ajaran Yahudi dan Nasrani yang disebut ekstrem oleh Al Qur`an (QS. Al Nisa: 171 dan QS. Al Maidah: 77). Manusia-manusia pembawa risalah tidak sepatutnya dipertuhankan, seperti dilakukan Yahudi terhadap Uzair dan Nasrani terhadap Nabi Isa, dan tidak pula direndahkan sampai pada tingkat pembunuhan seperti yang terjadi pada beberapa Nabi Bani Israil.

Sifat tengahan (wasathiyyah) dari ajaran Islam bisa dilihat juga dari sifat minuman susu yang dijelaskan Al Qur`an sebagai sâ`ighan li al syâribîn, mudah ditelan bagi yang meminumnya. Agama Islam adalah agama yang mudah dan memberi kemudahan. Salah satu misi utama Nabi, seperti dinyatakan dalam QS. Al-A`raf : 157, adalah menghilangkan berbagai beban yang memberatkan manusia. Agama yang mempersulit penganutnya pasti bukanlah Islam. Sebagai konsekuensi kemudahan yang diberikan adalah adanya keragaman pandangan dalam berislam.

Maka, wasathiyyah (moderasi) Islam menuntut umatnya untuk toleran dalam menyikapi perbedaan. Wasathiyyah adalah sebuah metode berpikir dan bersikap yang mempertimbangkan banyak hal, sehingga pandangan dan sikap yang disampaikan sejalan dengan kondisi masyarakat dan tidak bertentangan dengan prinsip ajaran agama.

Islam dengan karakter wasathiyyah inilah yang dulu dibawa oleh para ulama, sehingga terjadi akulturasi budaya yang menghasilkan kearifan lokal bernuansa keagamaan. Rumusan dasar dan bentuk negara kesatuan Republik Indonesia merupakan wujud konkret pemahaman Islam dengan karakter wasathiyyah-nya. Dengan kelapangan hati dan kedalaman pengetahuan, para pemuka agama dan pendiri bangsa menyepakati nilai-nilai yang dapat membingkai kebinekaan dalam kesatuan dan kebersamaan.

Dengan spirit Isra Mi`raj mari kita hadirkan wajah agama yang moderat dan unggul dengan karakter wasathiyyah. Indonesia sebagai bangsa yang besar telah menunjukkan kepada dunia bahwa di sini Islam dengan karakter wasathiyyah-nya dapat merawat kemajemukan yang ada. Janganlah kita rusak ‘tenunan’ Indonesia ini dengan sikap intoleran. Hargai keragaman dan bangun kemajuan melalui kebersamaan.[]

 

*Disarikan dari materi Khutbah Jumat Dr. Muchlis M. Hanafi, MA. di Masjid Agung Sunda Kelapa (MASK) Jakarta pada Jumat 29 Maret 2019

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

thirteen − five =

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.