Home Opini Gempa NTB dan Logical Fallacy

Gempa NTB dan Logical Fallacy

1004
1
SHARE

Oleh: Udo Yamin Majdi

“Dan kalau sekiranya Allah menyiksa manusia disebabkan yang mereka perbuat, niscaya Dia tidak akan meninggalkan di atas permukaan bumi ini satu makhluk melata pun, akan tetapi Allah menangguhkan mereka sampai waktu yang telah ditentukan. Maka apabila datang ajal mereka, maka sesungguhnya Allah Maha Melihat hamba-hamba-Nya.” (QS. Faathir [35]: 45)

Menghubungkan gempa NTB dengan dukungan TGB kepada Jokowi 2 periode adalah kesesatan berpikir (logical fallacy). Saat gempa hari Ahad tanggal 29 Juli 2019 itu terjadi, saya sedang berada di Hotel Lombok Raya.

Ketika para penginap hotel di Jalan Panca Usaha 11 Mataram itu berhamburan, saya berjalan santai di tempat parkir mobil. Begitu juga saat gempa susulan terjadi, saya dan para peserta Konferensi Ulama Internasional sedang sarapan pagi. Teman-teman pada lari keluar, sedangkan saya tetap menguyah nasi goreng dengan santai sendirian.

Mengapa saya tenang?

Sebab, bagi saya gempa hal biasa, bahkan ketika gempa Liwa tahun 1994, semua keluarga dan tetangga saya sudah keluar rumah, saya masih berbaring di atas ranjang sambil berdzikir kepada Allah.

Saya tinggal di Krui, 30 Km dari daerah Liwa. Dua kota di Pesisir Barat dan Lampung Barat ini, menurut BMKG Stasiun Geofisika Kotabumi, sering gempa akibat subdaction (penunjaman) lempeng induk Australia di bawah lempeng Eurasia. Di mana dua lempeng tektonik saling bertemu sehingga terjadi penyusupan antar lempeng.

Selain karena biasa, bapak saya sering berpesan, “kalau terjadi gempa harus tenang”. Sebab menurut beliau, korban gempa itu lebih banyak terjadi kepada orang panik, sehingga lari menabrak benda keras, atau ketika ada benda keras jatuh, tidak bisa mengelak sebab tidak menguasai dirinya.

Sebagai saksi hidup gempa Liwa tanggal 15 Februari 1994 itu, maka sewaktu gempa di NTB itu, saya menganggap ini biasa dan berusaha tidak panik. Malahan yang panik adalah keluarga dan teman-teman saya, mereka menghubungi saya, ingin mengetahui kondisi saya, padahal satu jam kemudian saya sudah meninggalkan Lombok menuju Bandung dan transit di Surabaya.

Tatkala di ruang tunggu bandara Juanda Surabaya, saya mengaktifkan HP dan membaca obrolan di group WA. Ada teman berkomentar, “Siap-siap neh, ada yang mengaitkan gempa ini dengan TGB.”

Sesampai di Bandara Husen Sastranegara Bandung, saya membuka fesbuk. Ternyata benar, ada beberapa orang menulis status bahwa gempa NTB itu azab dari Allah, sebab TGB mendukung Jokowi 2 periode. Saya tersenyum, dan merasa kasihan, dengan mereka.

Awalnya, saya tidak mau merespon, sebab akan debat kusir. Namun, setelah menyaksikan semakin massifnya status dan postingan di WA yang mengatakan bahwa gemba NTB itu akibat dari dukungan TGB ke Jokowi, maka dengan basmalah dan meminta hidayah dari Allah, saya menulis apa yang saya pahami.

Apakah betul, gempa NTB itu adalaha azab dari Allah karena TGB mendukung Jokowi?

Menurut saya tidak betul! Sekali lagi, tidak benar!

Alasan saya adalah:

Pertama, salah satu keistimewaan umat Nabi Muhammad SAW adalah penangguhan azab di dunia.

Di kalangan ulama, ada perkataan bahwa para nabi dan umat sebelum nabi Muhammad SAW, kalau nabinya selamat maka umatnya binasa, sebaliknya nabinya binasa maka umatnya selamat. Contoh, nabi Nuh selamat, umatnya binasa, sebaliknya nabi Zakaria terbunuh, umatnya selamat.

Berbeda dengan Nabi Muhammad SAW dan umatnya, sama-sama selamat. Inilah mengapa para nabi mendapat sebuatan ‘alaihissalam sedangkan nabi Muhammad mendapat shallahu ‘alaihi wa sallama, beliau selamat dan menyelamatkan.

Imam Ibnu Katsir, ketika menjelaskan surat al-An’am ayat 65 –dalam kitab Tafsir al-Qur’an al-‘Azhim– menceritakan sebuah hadis.

Dalam sebuah safari dakwah bersama Sa’ad bin Abi Waqqash RA, Rasulullah SAW melewati Masjid Bani Muawiyah. Beliau masuk, lalu mendirikan shalat sunnah Tahiyyatul Masjid, dua rakaat.

Selepas salam, Nabi SAW memanjatkan doa kepada Allah Ta’ala. Di dalam doa yang diriwayatkan oleh Imam Muslim sebagaimana dikutip oleh Imam Ibnu Katsir dalam Tafsir al-Qur’an al-‘Azhim, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallama menyampaikan permintaan agar umatnya terbebas dari azab Allah Ta’ala.

سالت ربي ثلاثا، سالته ان لايهلك امتي بالغرق، فاعطانيها، وسالته ان لايهلك امتي بالسنة، فاعطانيها، وسالته ان لايجعل باءسهم بينهم، فمنعنيها

“Sesungguhnya aku meminta tiga hal kepada Rabbku,” demikian sabda Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallama. Dari tiga doa tersebut, dua dikabulkan, satu ditolak.

“Aku,” lanjut Rasulullah al-Musthafa, “memohon kepada Allah Ta’ala agar umatku tidak dibinasakan dengan tenggelam, maka Allah Ta’ala mengabulkannya untukku.”

Yang kedua, “Aku meminta kepada Allah Ta’ala agar umatku tidak dibinasakan dengan kelaparan (musim kemarau), maka Allah Ta’ala pun mengabulkannya untukku.”

Sedangkan satu permintaan yang ditolak, Sayyidina Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda, “Aku meminta kepada Allah Ta’ala agar Dia tidak menjadikan keganasan di antara sesama mereka, lalu Allah Ta’ala menolaknya.”

Lebih tegas lagi, ayat yang saya cantumkan di atas, seandainya setiapkali umat Nabi Muhammad SAW berbuat dosa lalu Allah langsung menurunkan azabnya di muka bumi ini, maka tidak seorang pun hidup di atas muka bumi ini.

Kalau memang betul, gempa itu memang azab dari Allah, lantas mengapa tidak terjadi di daerah-daerah yang jelas-jelas kafir dan kemaksiatan merajalela, malahan terjadi daerah berusaha menerapkan syariat Islam, misalnya gempa sekaligus tsunami di Aceh tahun 2004, gempa Padang 2009, dan beberapa hari lalu di NTB yang berusaha menerapkan wisata halal dan bank syari’ah?

Kedua, gempa bumi adalah sunnatullah atau hukum alam.

Hukum alam ini universal, berlaku kepada siapa saja dan kapan saja. Misalnya api panas, air basah, tanah berat, udara terbang, dst. Siapapun –terlepas beriman atau kafir– kalau memegang api, pasti terbakar. Inilah rahman Allah, berlaku kepada siapa saja.

Gempa NTB itu, tidak ada hubungannya sama sekali dengan dukungan TGB kepada Jokowi. Ini berhubungan dengan letak geografis NTB yang berada di daerah rawan gempa bumi. Hal ini dikarenakan terdapat dua sumber utama pembangkit gempa bumi, yaitu di sebelah selatan terdapat zona subduksi (zona penunjaman), yaitu penunjaman Lempeng Indo-Australia ke bawah Lempeng Eurasia.

Selain itu, di sebelah utara juga terdapat zona sesar naik busur belakang Flores (Flores back arc trust). Gempa bumi yang sering terjadi di NTB juga disebabkan adanya patahan aktif.

Kalau memang betul, gempa NTB itu berkaitan dengan dukungan TGB kepada Jokowi, maka mengapa di NTB tahun 2016 terjadi 800 kali gempa, tahun 2017 terjadi gempa 1.018 kali, dan Januari-Juni 2018 terjadi gempa 459 kali, bukankah gempat itu terjadi jauh sebelum TGB mengucapkan dukungan kepada Jokowi tanggal 4 Juli 2018?

Ketiga, gempa bagi orang beriman adalah ujian, bukan azab.

Azab itu untuk orang kafir, sedangkan ujian untuk orang beriman. Mengalamatkan gempa sebagai azab kepada TGB dan orang beriman di NTB, menurut saya keliru.

Jika gempa NTB ini kita lihat sebagai ujian bagi TGB dan masyarakat NTB, maka ini adalah peluang bagi kita semua untuk mendekatkan diri kepada Allah, bukan malah sebaliknya tertawa di atas penderitaan saudara seiman. Dalam Islam, ujian berupa musibah ini, untuk meninggikan derajat, memperbesar pahala, dan sebagai qudwah (teladan) bagi yang lainnya untuk bersabar.

Bukankah rasulullah pernah bersabda?

Dari Mush’ab bin Sa’id -seorang tabi’in- dari ayahnya, ia berkata,

يَا رَسُولَ اللَّهِ أَىُّ النَّاسِ أَشَدُّ بَلاَءً

“Wahai Rasulullah, manusia manakah yang paling berat ujiannya?” Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab,

الأَنْبِيَاءُ ثُمَّ الأَمْثَلُ فَالأَمْثَلُ

“Para Nabi, kemudian yang semisalnya dan semisalnya lagi.” (HR. Tirmidzi no. 2398, Ibnu Majah no. 4024, Ad Darimi no. 2783, Ahmad 1: 185. Syaikh Al Albani dalam Shahih At Targhib wa At Tarhib no. 3402 mengatakan bahwa hadits ini shahih).

Ujian juga sebagai penghapus dosa, sebagaimana firman Allah Ta’ala,

مَنْ يَعْمَلْ سُوءًا يُجْزَ بِهِ

“Barang siapa yang melakukan keburukan (baca:maksiat) maka dia akan mendapatkan balasan karena keburukan yang telah dilakukannya”(QS An Nisa: 123).

Allah Ta’ala juga berfirman,

وَمَا أَصَابَكُمْ مِنْ مُصِيبَةٍ فَبِمَا كَسَبَتْ أَيْدِيكُمْ وَيَعْفُو عَنْ كَثِيرٍ

“Dan apa saja musibah yang menimpa kamu maka adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan sebagian besar (dari kesalahan-kesalahanmu).” (QS. Asy Syura: 30).

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَا يُصِيبُ الْمُؤْمِنَ مِنْ وَصَبٍ ؛ وَلَا نَصَبٍ ؛ وَلَا هَمٍّ ؛ وَلَا حَزَنٍ ؛ وَلَا غَمٍّ ؛ وَلَا أَذًى – حَتَّى الشَّوْكَةُ يَشَاكُهَا – إلَّا كَفَّرَ اللَّهُ بِهَا مِنْ خَطَايَاهُ

“Tidaklah menimpa seorang mukmin berupa rasa sakit (yang terus menerus), rasa capek, kekhawatiran (pada pikiran), sedih (karena sesuatu yang hilang)[1], kesusahan hati[2] atau sesuatu yang menyakiti[3] sampai pun duri yang menusuknya melainkan akan dihapuskan dosa-dosanya.” (HR. Bukhari no. 5641 dan Muslim no. 2573)

Nah, kalau gempa NTB itu untuk meningkat derajat dan mengampuni dosa, maka tidak pantas menjadi bahan tertawaan.

Itulah tiga alasan saya, mungkin tidak akan memuaskan orang yang cacat logika, terutama yang terkena sesat logika argumentum ad hominem, sebab argumentasi yang diajukan tidak tertuju pada persoalan yang sesungguhnya, tentang gempa NTB, melainkan kepada pribadi TGB, Personal Attack, sehingga semuanya yang berkaitan dengan TGB salah dan jelek. Zohri menang lomba lari, TGB disalahkan. Konferensi Ulama Internasional diadakan di Lombok, TGB disalahkan. Jokowi datang ke NTB, lagi-lagi TGB yang salah. Ini terjadi sebab sudah tidak adil dalam berpikir, alias logical fallacy.

Wallahu a’lam.

1 COMMENT

  1. Anda mengutip dalil dari Surat asyura dan hadis Bukharii sesungguhnya anda tidak sadar makan muntah kembali, anda akan menemukan alasannya dari pertanyaan saya :
    1. Jokowi dari partai politik apa…?
    2. Yang meminta azan jangan dikumandangkan partai apa..?
    3. Yang meminta agar tap MPR no. 66 partai apa….?
    4. Yang menyatakan kami tidak takut kehilangan suara umat islam siapa..?
    5. Dan sekarang datang orang yang bersih (banding dari saya) menjadi mitra dari jawaban soal-soal tersebut, apakah itu bukan teguran buat orang ketiduran…?
    Cukup itu saja pertanyaan, semoga anda hati-hati menjawabnya dan yang paling inti saya berdoa semoga anda tidak termasuk golongan LOGICAL FALLACY.
    TQ

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

seventeen + 16 =

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.