Home Kisah Nyata Ini Anak Istimewa!

Ini Anak Istimewa!

112
0
SHARE

Oleh: Udo Yamin Majdi

Wasathiyyah.com–Hati saya berkata, “Ini anak istimewa.”

Suara nurani itu muncul, saat kedua mata saya memandang seorang anak berumur 14 tahun.

“Assalamu’alaikum…, mohon maaf lahir-batin, minal aidin wal faaizin.” Dia berkata sambil masuk ruang Markaz Maqwa Krui.

Dia datang bersama ibunya. Dia menunggu ibunya mengisi daftar hadir dan formulir interview. Dia duduk bersila. Dia memainkan jemari kedua tangannya.

Dia dan ibunya masuk ke ruang kantor sekaligus tempat interview.

“Panggilan saya, Ustaz atau bapak ya?” Dia bertanya.

Saya tersenyum, lalu menjawab, “Panggil saja Buya.”

Di Markaz Maqwa Krui, saya akan membangun suasana keluarga. Terinspirasi dari hadits Nabi bahwa para penghapal Quran adalah keluarga Allah di bumi dan orang-orang spesial-Nya.

Oleh sebab itu, saya akan membiasakan para santri memanggil para asatiz dengan sebutan dalam keluarga. Mereka memanggil saya seperti keempat anak saya, yaitu Buya. Sedangkan para fasilitator mereka panggil Kakak.

“Panggil aja Buya.” Kata saya sembari tersenyum.

* * *

Ibunya mulai cerita, bahwa anaknya termasuk ABK, anak berkebutuhan khusus. Umur kronologis, memang sudah 14 tahun, namun secara psikologis, baru memasuki fase perkembangan anak usia 6 tahun.

Waktu pendaftaran, memang ada yang bertanya, apakah Markaz Maqwa Krui menerima anak berkebutuhan khusus?

Secara pribadi, saya langsung menerima. Namun saya juga memahami penanganan akan ekstra, oleh sebab itu saya musyawarahkan kepada pengasuh yang akan menghadapi santri sehari-hari. Alhamdulillah mereka siap.

“Yakinlah Bu, Allah sedang menyayangi dan meninggikan derajat ibu. Anak istimewa akan dititipkan Allah kepada orang tua luar biasa.” Saya meneguhkan hati itu anak istimewa itu.

Tiba-tiba kisah Fajar, anak Penderita Cerebral Palsy Spastik yang Hafal Al-Quran 30 juz.

Saya bertanya, “Ibu pernah dengar ada kisah anak lumpuh otak dan cacat fisik, tapi hafal Quran 30 juz?”

“Iya Ustaz, saya pernah nonton videonya. Ini salah satu yang memotivasi saya.” Jawabnya.

Saya kembali memberikan dukungan dan motivasi, “Kita harus yakin, Quran itu mukjizat, bisa dihapal oleh siapapun, termasuk oleh anak ibu. Bahkan, kita berharap, sebagaimana namanya, Asy-Syifa, semoga Quran menjadi obat bagi anak ibu.”

Dia mengangguk. Kami diam. Saya tidak tahu apa yang dalam benak ibu itu. Sedangkan saya, mengingat kisah Fajar.

* * *

Fajar Abdurokhim Wahyudiono. Lahirkan 2 Oktober 2003. Berat 1,6 kilogram. Dia dirawat di ruang khusus. Pisah dari ibunya, Heny.

Suatu ketika, saat mengantar ASI untuk sang bayi di ruang NICU, ibunya mendengar suara musik mengalun di ruangan khusus tersebut. Ia merasa tidak nyaman dengan suara itu. Bayi yang baru lahir saja ada anjuran untuk memperdengarkan suara adzan dan iqamah di telinganya, ini menandakan pentingnya menyeleksi suara yang masuk ke telinga bayi. Karena itu pasti akan berpengaruh terhadap kejiwaan bayi sampai masa tumbuh kembang nantinya.

Dengan keyakinan itu, Heny meminta izin kepada dokter dan perawat untuk memperdengarkan murottal (bacaan) Al-Quran di telinga si buah hati. Alhamdulillah permintaan itu bisa disetujui. Satu keyakinan mereka, Al-Quran sebagai syifa (obat), penyembuh segala penyakit. Berharap semoga ada kebaikan dengan langkah spiritual tersebut.

Pulang dari rumah sakit, dengan penuh kasih sayang, mereka berkomitmen untuk terus memperdengarkan murottal Al-Quran tiada henti-hentinya. Mereka pun memutuskan untuk tidak memiliki televisi dan tidak memperdengarkan musik di rumah. Heny menyampaikan, “Anak harus diperdengarkan yang baik-baik. Apa yang keluar dari Quran kan kebaikan. Itulah yang terbaik.”

Memasuki usia tahun ketiga, saat Fajar mulai tertarik dengan gambar, Heny membelikan Compact Disk (CD) interaktif Al-Quran yang bisa disetel di laptop. Suatu ketika Heny terkesima saat Fajar bisa menirukan akhir ayat dari Murottal Al-Quran yang diperdengarkan. Nyaris hampir setiap ayat bisa ditirukan. Berselang waktu, mulai bisa menirukan awal dan akhir ayat dan kemudian bisa menirukan secara utuh seluruh ayat.

* * *

Di usia Fajar 5 tahun, Heny memanggil guru Al-Quran untuk memastikan apakah benar Fajar sudah hafal Al-Quran. Setelah enam bulan dibimbing, guru Al-Qur’an menyampaikan bahwa Fajar sudah hafal 80 – 90 % isi Al-Quran, tetapi belum bisa runut. Ia merekomendasikan agar Fajar terus menerus dibimbing sampai bisa hafal dengan urut.

Setelah berganti beberapa guru, pada bulan Desember 2012, di usianya yang kesembilan, Fajar benar-benar hafal Al-Quran dengan runut. Subhanallah! Ternyata anak yang mengalami keterbatasan karena cerebral palsy spastik, mampu menghafalkan seluruh Al-Qur’an.

Bukan sekedar hafal Al-Q!ur’an, Fajar paling suka bila diajak bermain tebak-tebakan ayat, ia bisa melanjutkan setiap penggalan ayat dan bisa menyebutkan nama surahnya. Yang juga menakjubkan, saat usia tiga tahun, diotak Fajar ada gelombang kejang. Juga ada rongganya. Biasanya, orang yang demikian akan mengalami hydrocephalus –yaitu kondisi dimana otak membengkak akibat tumpukan cairan, yang berakibat pada besarnya kepala penderita. Namun saat dilakukan tes Magnetic Resonance Imaging (MRI), semua itu sudah hilang. Semoga ini barokah dari Al-Quran.

* * *

Semoga anak ibu yang menitipkan anaknya ke Markaz Maqwa Krui, hapal Quran 30 juz.

Setidaknya, ada 3 anak istimewa yang ikut Sekolah Tahfiz Balita dan Anak yang kami kelola.

Tidak saya salah, kalau saya menyebut Rumah Quran Markaz Maqwa Krui, termasuk sekolah inklusi, yaitu sistem layanan pendidikan yang melayani para difabel seperti anak normal.

Semoga Allah memberi kami kekuatan.

Krui, 10 Desember 2019

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

ten − six =

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.