Home Kisah Nyata Anak ini Milik Siapa?

Anak ini Milik Siapa?

86
0
SHARE

Oleh: Udo Yamin Majdi

Wathiyyah.com–Dia terisak-isak. Kepalanya tertunduk. Air mata membasahi pipi. Menangis. Tanpa suara.

Saya tidak tahu, mengapa perempuan berkerudung putih itu menangis. Yang jelas, saya yang duduk di depannya, ikut terharu. Tenggorokanku terasa kering.

Mungkinkah itu gara-gara pertanyaan saya?

* * *

Selama bulan November 2019, kami membuka pendaftaran calon Sekolah Tahfiz Balita dan Anak. Alhamdulillah, ada 43 calon santri mendaftar.

Sebagai mudir Markaz Maqwa, saya mewajibkan ortu menemani anaknya, untuk saya wawancarai setelah mereka terdaftar. Saya membagi mereka dalam 6 gelombang.

Dalam interview hari Jumat dan Sabtu itu, saya menanyakan sejauh mana informasi ortu terhadap metode Tabarak dan lembaga Markaz Maqwa Krui.

Bagi saya, interview adalah sarana untuk mengenal calon santri dan ortu mereka. Sebaliknya, bagi mereka, untuk mengenal saya, metode dan lembaga.

Lebih utama lagi, interview adalah momentum akad atau “serah-terima” antara orang tua dan saya untuk bersama-sama mendidik dan mengasuh anak mereka.

* * *

“Maaf ya Bu, menurut Ibu, pemilik anak ibu ini siapa ya?” Saya mewawancarai calon santri Sekolah Tahfiz Balita dan Anak.

Ibu itu tersenyum. Dia diam. Berpikir.

Tak berapa lama dia menjawab, “Allah Subhanahu Ta’ala, Ustaz.”

“Benarkah pemilik anak ibu adalah Allah?” Saya meminta keyakinan.

Dia menjawab, “Betul Ustaz, Pemiliknya Allah. Saya dan suami hanya menerima titipan saja.”

“Sepakat anak adalah titipan Allah SWT?”

“Iya Ustaz.”

Ini kesempatan saya menggugah pikiran dan perasaan ibu itu.

Saya mengambil HP di atas meja di depan kami, lalu berkata, “Bu, ini hp milik saya, saya titip ke ibu. Lalu, tanpa sepengetahuan saya, ibu titipkan lagi ke orang lain. Menurut ibu apakah itu baik?”

“Tidak baik Ustaz, harus ngasih tahu pemiliknya dulu.” Jawabnya.

Saya mulai mengajak ibu itu berpikir dan merenung, saya bertanya, “Allah menitipkan anak ke ibu dan suami, nah…, sudahkah ibu dan suami ibu memberitahu Allah bahwa titipan itu akan kalian titipkan kepada kami di Markaz Maqwa?”

Ibu itu diam. Dia menggeleng. Lalu berkata lirih, “Belum Ustaz.”

Saya menjelaskan urgensi sholat istikharah. Setelah itu, saya meminta ibu dan suaminya, agar “memberitahu” Allah akan menitipkan anak mereka kepada kami di Markaz Maqwa Krui melalui sholat.

Menurut saya, ini sangat penting. Melibatkan Allah dalam mendidik dan mengasuh anak adalah sebuah keniscayaan.

Saya bercerita tentang kisah ibu Nabi Musa, ibu Nabi Ismail dan ibu Nabi Isa.

Saya pun menjelaskan bahwa sebagai ortu, pasti akan ditanya Allah atas titipan-Nya. Allah akan meminta pertanggungjawaban atas anak.

“Apa jawaban ibu saat Allah bertanya tentang anak ibu?” Saya bertanya setelah menjelaskan hari ketika mulut terkunci, tangan berbicara dan kaki bersaksi.

Ibu itu menangis.

* * *

Yang menangis, bukan satu-dua. Di hari Jumat, hari pertama saya interview, lebih setengah dari ortu yang saya wawancara tentang anak adalah titipan Allah, mereka menangis. Begitu juga hari Sabtu.

Ada apakah gerangan mereka menangis?

Krui, 8 Desember 2019

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

9 − 1 =

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.