Home Kisah Nyata Jauhi Phubbing!

Jauhi Phubbing!

103
0
SHARE

“Afwan, sebelum kita ngobrol, HP kita kumpulkan dulu ya,” kata seorang teman saat kami kumpul di sebuah Cafe di Bandung.

Kami semua tertawa. Kesannya seperti lelucon, namun ini serius. Kami mengumpulkan hp di tengah meja tempat kami berkumpul.

Tindakan acuh tak acuh seseorang di dalam sebuah lingkungan karena lebih fokus pada gadged dari pada membangun sebuah percakapan, ini kita sebut dengan istilah phubbing.

Kami ingin menikmati quality time tanpa ada gangguan dari smartphone. Selama ini, setiap hari kami terhubung dengan gadged, terutama di group WA. Namun pertemuan langsung atau kopi darat, sangat jarang, sebab kami memiliki kesibukan masing-masing. Apalagi ada teman baru pulang dari Mesir.

Kami pun menghindari phubbing.

* * *

Apa itu phubbing?

Phubbing singkatan dari phone snubbing, artinya “takada”, yang merupakan penggabungan antara kata “tak” (tidak) dan “ada”.  Istilah ini dipopulerkan oleh Dr James Roberts dan Dr Meredith David dari Baylor University di Texas, setelah mereka melakukan studi tentang phubbing ini.

Dari 143 individu yang diujicobakan, ternyata 70% tidak bisa lepas dari telepon genggam dan melakukan phubbing. Sedangkan 450 responden yang menjadi korban phubbing, 46% nyata-nyata menjadi korban dari pasangannya sendiri dan sisanya langsung mengomel.

Phubbing jika dilakukan sekali dua kali mungkin masih bisa ditolerir bagi pasangan atau teman, namun jika konsisten dilakukan berisiko merusak kualitas hubungan.

Efek jangka panjangnya adalah hal tersebut menjadi biasa dan dimaklumi, komunikasi pun dirasa tidak perlu dilakukan. Hal terburuk adalah seseorang akan dijauhi dan tidak akan diikutsertakan lagi.

Menurut Julie Hart, pakar hubungan sosial dari The Hart Centre, Australia, ada tiga faktor hubungan sosial yang menjadi tumpul karena phubbing.

Pertama adalah akses informasi, di mana kemampuan mendengar dan membuka diri akan informasi dari lawan bicara.

Kedua adalah respon, yakni usaha untuk memahami apa yang disampaikan lawan bicara dan mengerti maksud yang disampaikan. Ketiga adalah keterlibatan, yakni saat dua faktor sebelumnya diabaikan, seseorang tidak akan terlibat dari wacana yang dilontarkan dan hanya mengiyakan saja. Lawan bicara pun akan tersinggung dan yang terburuk malas bicara lagi.

* * *

Tak terasa, jarum jam menunjukan pukul 23.00 WIB. Kami pun bubar. Selain membahas tentang penulisan buku wasathiyyah, kami juga membahas perkembangan Mesir dan mahasiswa Indonesia Mesir. Tak lupa, membicarakan isu-isu yang berkaitan dengan dunia pendidikan dan dakwah yang kami geluti.

“Jangan lupa, HPnya. Hati-hati tertukar.” Kata teman saya sembari bercanda.

Alhamdulillah quality time tanpa phubbing itu berjalan lancar. Yang dekat tetap dekat, sedangkan jauh tetap jauh. Bukan mendekatkan yang jauh, dan menjauhkan yang dekat.

Sekali lagi, hindari phubbing!

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

one × five =

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.