Home Hikmah Membangun Rasa Saling Percaya

Membangun Rasa Saling Percaya

1034
0
SHARE
TGB Muhammad Zainul Majdi

Oleh : TGB Muhammad Zainul Majdi

Bismillaahirrahmaanirrahiim. 

Kita selaku umat nabi Muhammad Saw. memiliki satu komitmen yaitu untuk saling berbagi hal-hal yang baik, saling mengisi dan saling melengkapi dalam kebaikan. 

Allah Swt. Berfirman di dalam Al Quran, “Wahai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kalian saling mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah adalah orang yang paling bertakwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.” (QS. Al Hujurat [49]: 10)

Saudaraku, Allah Swt. menyebutkan kalimat ta’aruf dalam ayat ini yang bukan dalam konteks pribadi saja, bukan orang per orang, bukan perkenalan satu orang dengan satu orang lainnya saja. Melainkan jelas sekali pada ayat ini disebutkan sebagaimana dijelaskan juga oleh para ulama dalam tafsir-tafsirnya bahwa ta’aruf atau perkenalan di sini adalah antar umat, antar masyarakat, antar kelompok. 

Oleh karenanya, jika kita bisa benar-benar memaknai ayat ini, bahwa ta’aruf adalah saling mengenal dan saling mengisi dalam kebaikan antar umat, maka tidak akan ada gontok-gontokan, tidak akan ada benturan, tidak akan ada kebencian, tidak akan ada suasana saling terpisah hati antar satu kelompok masyarakat dengan kelompok masyarakat yang lain, antar satu ormas dengan ormas yang lain, antar satu elemen dakwah dengan elemen dakwah yang lain. Kenapa? Karena sebagaimana disebutkan dalam ayat ini bahwa kita ditakdirkan berbeda kelompok adalah lita’arafu, supaya kita saling mengenal dan saling mengisi dalam kebaikan. 

Ada al Urf, ada al Irfan, dan ada al Ma’rifah, dekat, saling mengenal dan saling belajar. Maka, menjadi ciri dari orang beriman kepada Allah dan rasul-Nya adalah menjalin silaturahim sehingga terjalin rasa saling mengenal dan dilanjutkan dengan suasana saling berbagi kebaikan, saling mengisi dan saling melengkapi, bekerjasama dalam kebaikan. 

Jalinlah silaturahim dengan niat saling berbagi hal-hal yang baik, niat saling mempererat tali persaudaraan, niat saling bersinergi dalam gerakan dakwah, niat saling bekerjasama membangun kerukunan dan kedamaian di tengah masyarakat. Inilah bagian dari keindahan Islam sebagaimana yang diajarkan oleh baginda Rasulullah Saw. 

Inilah keindahan Islam yang bagi siapa saja yang baru mengenalnya tidak ada respon lain selain dari jatuh hati kepadanya. Inilah keindahan Islam yang pada zaman Rasulullah Saw. dahulu di Madinah sangat terasa suasana persaudaraan dan kedamaiannya bagi para pendatang yang datang ke Madinah meski baru tiba di pintu gerbangnya saja. Para ahli sejarah mengemukakan bahwa di zaman itu, para pendatang dari seluruh jazirah Arab yang datang ke Madinah, baru tiba di gerbangnya saja dan belum sampai di pusat kota, belum sampai ke Masjidnya, sudah merasakan suasana yang sangat baik, sangat damai sehingga membangkitkan rasa cinta terhadap agama Islam.

Islam mengalirkan energi kebaikan. Dan, energi kebaikan ini akan terus beresonansi semakin luas manakala kita menyambungkan tali perkenalan dan silaturahim baik antar pribadi maupun antar masyarakat sebagaimana disebutkan pada ayat Al Quran tadi. Energi kebaikan ini akan terus membesar dan semakin kokoh seiring dengan ikhtiar kita membangun perjumpaan demi perjumpaan, membangun kerjasama dalam kebaikan. 

Di dalam surat Al Fatihah, Allah Swt. mengajak kita untuk berdoa kepada-Nya melalui kalimat, “Ihdinash shiraatal mustaqim” yang artinya “Tunjukilah kami jalan yang lurus”. Di dalam bahasa Arab, kata yang artinya “jalan” itu ada banyak, bisa thariq, bisa syaari, tapi Allah memilih kata ash Shiraat. Apa maknanya? Ash Shiraat berarti at thariiqul muttasi’, jalan yang sangat luas seluas-luasnya sehingga sebanyak apapun orang yang melewati jalan tersebut mereka tidak akan bersinggungan satu sama lain, tidak akan berdesak-desakan satu dengan yang lain.

Itulah kelapangan Islam. Maka, kalau Allah sudah lapangkan agama ini, janganlah kita sempitkan. Kalau Rasulullah Saw. membuka selebar-lebarnya pintu Islam, janganlah kita tutup sebagian dari pintu itu. Kalau Rasulullah Saw. membuka pintu dakwah dengan menghadirkan keindahan-keindahan Islam, maka jangan kita tutup sebagian jalan itu dengan keburukan-keburukan amalan kita sebagai umat Islam. 

Maka, Allah Swt. mengingatkan kita di dalam Islam dengan ayat, “Dan demikian (pula) Kami telah menjadikan kamu (umat Islam) umat yang pertengahan agar kamu menjadi saksi atas (perbuatan) manusia dan agar Rasul (Muhammmad) menjadi saksi atas (perbuatan) kamu..” (QS. Al Baqarah [2] : 143). Allah Swt. menyebut kita umat Islam sebagai Ummatan Wasathan, umat yang pertengahan. Para ulama memberikan dua indikasi atau dua tanda dari Ummatan Wasathan yaitu Khiyaaran ‘Udulan, kebaikan dan keadilan. 

Ummatan Wasathan adalah umat yang senantiasa menjaga kebaikan dan keseimbangan. Oleh karenanya, di dalam Islam kita diajarkan untuk mengupayakan kebaikan secara seimbang. Kita diajarkan untuk bagus dalam ibadah dan juga bagus dalam bekerja. Kita diajarkan untuk bagus menjalin hubungan dengan Allah (hablumminallah) dan juga bagus dalam menjalin hubungan dengan sesama manusia (hablumminannaas), kita diajarkan untuk meraih kebaikan di dunia dan juga kebaikan di akhirat. 

Ummatan Wasathan juga bermakna bahwa umat Islam ini harus senantiasa menjaga keseimbangan dalam menebarkan kebaikan di tengah masyarakat. Umat Islam harus senantiasa menjadi penengah, perekat dan pemersatu. Apa syarat agar kita bisa melakukan hal itu? Syaratnya adalah bisa dipercaya. 

Ketika Rasulullah Saw. bersama para sahabat hijrah ke Madinah, di kota ini ada 10.000 penduduk. 1.500-nya adalah Rasulullah Saw. dan para sahabat yang hijrah dari Mekkah, artinya 15 % dari total penduduk Madinah kala itu. Dalam istilah sekarang Rasulullah Saw. dan para sahabat adalah kelompok minoritas. Adapun yang mayoritas adalah penduduk setempat berjumlah 8.500 orang, 4.000nya dari kalangan Arab dan 4.500nya dari kelompok Yahudi. Namun, yang mayoritas ini mempercayakan kepada baginda Rasulullah Saw. untuk menjadi pemimpin mereka. Kenapa bisa begitu? Itu karena mereka percaya kepada Rasulullah Saw.  

Dengan kepercayaan itulah kemudian Rasulullah Saw. memimpin umat Islam dan umat lainnya dalam kepemimpinan yang penuh kebaikan dan keadilan. Segala persoalan di tengah masyarakat dikembalikan kepada Rasulullah Saw. dan dapat diselesaikan secara adil. Maka, Madinah tumbuh menjadi kota yang adil dan damai, menjadi magnet bagi segala umat dari seantero jazirah Arab. Islam menjadi berkembang sangat pesat menghadirkan keamanan, kenyamanan dan kedamaian bagi setiap orang.

Pertanyaannya sekarang, bisakah umat Islam di zaman ini menjadi pemimpin bagi umat yang lebih luas? Bisakah umat Islam saat ini yang sudah besar jumlahnya ini menghadirkan kembali kepercayaan dari umat yang lebih luas? Bisa, syaratnya adalah kita sesama umat Islam harus saling percaya terlebih dahulu. 

Kita selaku umat Islam, antar ormas Islam, antar tokoh-tokohnya, antar elemen dakwah, antar pemuda-pemudanya, antar majlis ta’limnya, harus saling percaya. Bangunlah rasa saling percaya itu dengan jalan memperbanyak perjumpaan, menjalin terus tali silaturahim, memperdalam rasa saling mengenal satu sama lain, hingga tumbuh suburlah rasa saling percaya di antara kita.  

Saudaraku, marilah kita kembali memaknai surat Al Hujurat ayat 10 di atas tadi sebagai pengingat kita untuk terus menjalin persaudaraan antar kita sesama umat Islam. Inilah tonggak awal dari kebangkitan umat Islam sehingga menjadi perekat yang kuat bagi bangsa Indonesia ini dan menjadi rahmat bagi seluruh alam. Wallaahua’lambishshawab[]

*Disarikan dari https://www.youtube.com/watch?v=UOUYZBjirP4 .

   

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

three + one =

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.