Home Hikmah Ramadhan Bulan Penuh Kesabaran

Ramadhan Bulan Penuh Kesabaran

348
0
SHARE
Dr. Agus Suyadi Raharusun

Agus Suyadi Raharusun

Ketua Paguyuban Alumni Al-Azhar Mesir Jawa Barat [PAAM-JABAR]

Alhamdulillah, tidak terasa kita sudah memasuki Al-‘Asyrul Awakhir (sepuluh hari terakhir) bulan suci Ramadan. Tak luput kita selalu berdo’a mudah-mudahan amal ibadah kita di bulan penuh berkah ini diterima di sisi Allah Swt. Sebagai catatan amal bekal kita kelak saat kita semua berjumpa dengan-Nya. Dan mudah-mudahan kita semua masih diberi kesempatan untuk menjamu “tamu agung” ini dengan hidangan amal shaleh yang terbaik. Amien ya Rabbal ‘Alamien.

Nabi kita baginda Rasulullah Saw. pernah menyatakan Ramadan sebagai “Syahrus Shabri”, bulan penuh kesabaran. Tidak semata-mata beliau mengungkapkan istilah tersebut kecuali mengandung hikmah ilmu dan nasehat bagi kita umat Islam dalam menjalani ibadah di bulan Ramadan ini. Maka selayaknya kita semua menghayati kembali makna dan kandungan dari istilah “sabar” dalam pendekatan Al-Qur’an dan Hadis Nabi Saw.

Banyak para ulama –khususnya Tasawuf yang membahas masalah sabar ini, seperti Syeikh Yusuf Al-Qardhawi yang menulis sebuah buku dengan judul “Ashabru fil-Quran Al-Karim” (Sabar dalam Al-Quran), mengungkap secara luas dan terperinci makna sabar serta aplikasinya dalam kehidupan muslim, karena tanpa memahami makna sabar yang sesungguhnya, maka sulit diketahui seseorang disebut penyabar, atau sudah adakah sifat sabar pada diri kita, sehingga tercermin dalam perilaku nyata dan kehidupan sehari-hari.

Sabar merupakan perbuatan batin yang hanya Allah-lah yang mengetahuinya. Namun sebagai akhlak, tentu sabar harus dapat terdefinisi dalam bentuk amaliyah yang kongkrit sehingga dapat dilaksanakan. Untuk itu, Allah Swt. mengutus para Rasul sebagai figur dan contoh teladan setiap ummat dalam perilaku dan akhlak, baik yang zhahir maupun batin. Di antara figur para Nabi dan Rasul yang menjadi teladan kesabaran ini ialah yang terkenal dengan sebutan “Ulul ‘Azmi”.

Syaikh Musthafa Al-Maraghi menjelaskan dalam “Tafsirul Mufradat“ QS. Al-Ahqaf ayat 35 dengan mengutip bait sya’ir Imam Mujahid: “Ulul ‘Azmi Nuh wa khalilul Mumajid… wa Muusaa wa ‘Isa wal habibu Muhammad…” (Ulul ‘Azmi adalah Nuh dan Khalilullah (Ibrahim) yang dimulyakan… juga Musa, Isa dan Muhammad yang dicintai.)

Memang, bila dilihat dari cobaan yang menimpa kelima orang rasul ini jauh lebih berat dibanding Nabi lainnya, dengan tidak menafikan kesabaran seluruh para utusan Allah Swt. yang tercantum dalam Al-Quran. Maka, sesuai dengan petunjuk Allah dalam Al-Quran, sudah selayaknya kita mencontoh kesabaran seluruh para Rasul terutama yang telah dikisahkan dalam Al-Quran dan lebih khusus lagi menjadikan figur Ulul ‘Azmi sebagai suri teladan dalam ketabahan mereka mempertahankan keimanan.

Sabar memang mudah diucapkan tapi sulit diterapkan dalam kehidupan kita, apalagi menjadi akhlak yang selamanya kita amalkan. Hal ini mungkin disebabkan kita kurang memahami makna sabar, bahkan artinya semakin dipersempit hanya dalam masalah-masalah kecil saja.

Padahal, bila kita mau mengungkapkan hakikat sesungguhnya, betapa sabar mampu memberi semangat baru dalam beramal shalih, sebagaimana firman Allah Swt, “Sekarang Allah telah meringankan kepadamu dan Dia telah mengetahui bahwa padamu ada kelemahan. Maka jika ada di antaramu seratus orang yang sabar niscaya mereka dapat mengalahkan dua ratus orang, dan jika di antaramu ada seribu orang yang sabar, niscaya mereka dapat mengalahkan dua ribu orang dengan seizin Allah. Dan Allah beserta orang-orang yang sabar.” (QS. Al-Anfal [8]: 66)

Dalam Al-Quran terdapat lebih kurang 103 kata yang berasal dari lafadz sha-ba-ra dengan berbagai bentuk dan maksudnya masing-masing.  Imam Al-Ghazali mencatat dalam Ihya-nya 70 tempat dalam Al-Quran, sedangkan Ibnul Qayim menyebut 90 tempat yang berkenaan dengan sabar. Abu Thalib Al-Makki dalam “Quth al-Yaum,” menyatakan; “Adakah yang lebih utama daripada sabar ? Allah telah menyebutkan dalam kitab-Nya lebih dari 90 tempat, kami tidak mengetahui sesuatu yang disebutkan Allah sebanyak ini kecuali sabar.”

Imam Al-Ghazali menegaskan pengertian Sabar ialah tetap tegaknya dorongan agama berhadapan dengan dorongan hawa nafsu. Dorongan agama ialah hidayah Allah kepada manusia untuk mengenal-Nya, Rasul-Nya serta mengetahui dan mengamalkan ajaran-Nya serta kemaslahatan-kemaslahatan yang bertalian dengan akibat-akibatnya.

Sabar ialah sifat yang membedakan manusia dengan hewan dalam hal menundukkan hawa nafsu. Sedang dorongan hawa nafsu ialah tuntutan syahwat dan keinginan yang minta dilaksanakan. Barangsiapa yang tegak bertahan sehingga dapat menundukkan dorongan hawa nafsu secara terus menerus, orang tersebut termasuk golongan orang yang sabar.

Kaitan kesabaran dengan bulan Ramadan ini sangatlah erat, karena ibadah puasa di bulan Ramadan ini membutuhkan kesabaran dalam menghadapi berbagai ujian dan godaan hawa nafsu dan syahwat, baik yang membatalkan puasa dengan makan, minum atau berhubungan suami istri, maupun yang merusak nilai pahala puasanya berupa ucapan kotor, kasar, bohong ataupun perilaku menyakiti orang lain. Pantaslah Nabi Saw. Mengingatkan kita dengan sabdanya; “Banyak orang yang berpuasa namun hanya mendapat lapar dan dahaga saja. Banyak orang yang shalat malam hanya mendapat rasa penat dan capek saja”. Na’udzu billahi min dzalik. Semua ini terjadi akibat dari ketidak sabaran dalam menjalani ibadah di bulan suci ini.

Al-Mawardi dalam kitabnya, ”Adabud-dun-ya Wad-Din” mengungkapkan enam perkara yang membutuhkan kesabaran, yaitu;

Pertama, sabar dalam menjalankan ketaatan kepada Allah serta menjauhi larangannya dengan penuh keikhlasan. Di bulan Ramadan ini kita bersabar bangun tengah malam untuk shalat tarawih maupun makan sahur, serta sepanjang siang hari menahan lapar dan dahaga. Menjauhi kemaksiatan dan apapun yang dilarang oleh Allah Swt. Untuk itu, Nabi kita mewanti-wanti umatnya ketika berpuasa, dalam sabdanya; “Puasa itu adalah perisai, maka apabila seorang dari kalian sedang berpuasa, maka janganlah dia berkata kotor, kasar dan bertengkar. Jika ada orang yang menghinanya atau mengajaknya bertengkar, maka jawablah; ‘Aku sedang berpuasa.” (HR. Bukhari) Inilah ungkapan yang mengekspresikan kesabaran saat kita menjalankan puasa Ramadan.

Kedua, sabar ketika ditimpa musibah yang amat berat dihadapinya dengan jiwa besar dan tidak bersedih. Sabda Nabi Saw.: “Sungguh mengagumkan perkara orang mu`min itu, semua perihalnya menjadi kebaikan dan itu tidak dimiliki seorang pun selain orang mu`min, bila tertimpa kesenangan, ia bersyukur dan syukur itu kebaikan baginya, dan bila tertimpa musibah, ia bersabar dan sabar itu kebaikan baginya.” (HR. Muslim)

Ketiga, sabar di saat sesuatu yang diharapkan tidak terwujud. Sabda Rasulullah Saw., “Barang siapa yang diberi (dikabulkan harapannya) bersyukurlah, bila tidak terwujud bersabarlah, bila dizhalimi maafkanlah, dan bila menzhalim mohonlah ampunan, merekalah orang yang mendapat ketenangan dan hidayah.”

Keempat, sabar ketika yang ditakuti terjadi menimpa dirinya padahal sebelumnya optimis akan berhasil.

Kelima, sabar ketika menanti dan menjalankan semua cita-cita dan harapan. Ibnu Al-Maqfa berkata dalam Qasru Ardisyir: “Sabar adalah kunci keberhasilan.” (Ash-Shabru Miftahud Darki).

Keenam, sabar disaat melewati sesuatu yang dikhawatirkan menimpa, sebagaimana hadits dari Ibnu Abbas RA, sabda Rasulullah, “Pertolongan beserta kesabaran, & Kemudahan beserta kesulitan.”

Mari kita jadikan Ramadan tahun ini sebagai momentum mengasah kesabaran kita, sehingga kita mampu menepis segala godaan dan cobaan, baik dalam melaksanakan ketaatan, menjauhi kemaksiatan dan menghadapi berbagai musibah yang menimpa, agar ibadah puasa kita mengantarkan kita menjadi penghuni surga melalui pintu Ar-Rayyan, yaitu tempat teristimewa bagi mereka yang berpuasa penuh kesabaran. Seperti disebutkan Nabi Saw., “Kesabaran itu pahalanya Surga”. Amien Ya Rabb.[]

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

12 + seven =

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.