Home Hikmah Ruuhut Tanafus, Jiwa Persaingan

Ruuhut Tanafus, Jiwa Persaingan

549
0
SHARE
Haris Muslim Lc., MA.

Oleh : Haris Muslim

Bismillaahirrahmaanirrahiim.

Kehidupan manusia tidak bisa terlepas dari suatu hal yang disebut persaingan. Apalagi di zaman sekarang ini di mana persaingan begitu ketat, persaingan di segala macam bidang kehidupan. Bahkan, ada yang mengkatakan bahwa orang yang tidak bisa bersaing di zaman ini dia tidak akan bisa hidup.

Berbicara tentang persaingan, sesungguhnya kalau kita renungkan Allah Swt. telah menciptakan ruuhut tanafus atau jiwa persaingan di dalam diri kita masing-masing. Kita tidak bisa membayangkan bagaimana jadinya hidup ini kalau tanpa ada persaingan. Seorang pedagang tidak akan mungkin bisa maju dalam perdagangannya kalau dia tidak mempunyai jiwa persaingan. Seorang pegawai tidak mungkin dia akan mencapai target-targetnya di sebuah perusahaan atau instansi kalau dia tidak memiliki daya saing. Bangsa yang tidak mempunyai daya saing itu adalah bangsa yang mungkin akan tertinggal dari bangsa-bangsa lainnya di dunia.

Saudaraku, kita diberikan ruuhut tanafus ini oleh Allah Swt., ini dibuktikan dengan kenyataan bahwa manusia biasanya lebih senang kalau dia berada di barisan paling depan, atau berada di jajaran paling tinggi yang menjadi tanda bahwa posisi tersebut adalah posisi terbaik. Selain itu, tabiat manusia juga senang kalau dipuji, disanjung dan dihargai. Manusia juga senang kalau ternyata dia lebih unggul daripada yang lain.

Seorang anak saja kalau meraih nilai tertinggi di sekolahnya dan meraih ranking pertama maka dia akan sangat bangga dan bahagia. Ia merasa senang karena ia mampu mengalahkan teman-temannya dalam persaingan dalam hal nilai pelajaran di sekolah. Begitu juga di sebuah perusahaan, seorang karyawan yang mendapat apresiasi dari atasannya atas prestasinya maka dia akan merasa senang. Sedangkan orang yang tidak mendapat apresiasi maka secara naluri ia akan merasa iri dan ingin juga meraih pencapaian seperti yang telah dicapai oleh temannya itu.

Inilah yang disebut dengan jiwa persaingan, ruuhut tanafus.

Saudaraku, tidak sedikit manusia yang menempatkan persaingan ini pada urusan-urusan duniawi. Kita begitu ingin mencapai apa yang sudah dicapai orang lain ketika orang lain itu berhasil meraih keuntungan duniawi. Tetangga membeli mobil baru, maka kita ingin juga seperti dia. Teman membeli rumah yang lebih besar, maka kita juga ingin seperti itu. Saudara jalan-jalan ke luar negeri, lalu kita pun merasa ‘panas’ dan ingin juga jalan-jalan ke luar negeri. Begitu seterusnya, manusia seringkali mudah terpancing rasa persaingannya dalam urusan duniawi.

Saudaraku, kalau kita bertanya siapakah yang menghadirkan atau menciptakan jiwa persaingan di dalam jiwa kita, maka jawabannya tentu saja Allah Swt. Namun sayang sekali, banyak sekali manusia yang tidak menyalakan jiwa persaingannya dalam hal beribadah kepada Allah Swt. Padahal Allah menciptakan jiwa persaingan ini bukan hanya agar manusia memiliki gairah di dalam membangun kehidupannya, melainkan juga agar manusia bergairah dalam menghidupkan ketaatan kepada Allah dan menghadirkan kebaikan di dalam hidupnya.

Hal ini banyak sekali diisyaratkan di dalam Al Quran, misalnya firman Allah Swt., “Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa.” (QS. Ali Imran [3] : 133)

Dalam ayat yang lain Allah Swt. berfirman, “..dan untuk yang demikian itu hendaknya orang berlomba-lomba.” (QS. Al Muthaffifin [83] : 26)

Dan, tentu saja satu ayat yang sangat populer bagi kita, “Dan, setiap umat mempunyai kiblat yang dia menghadap kepadanya. Maka, berlomba-lombalah kamu dalam kebaikan..” (QS. Al Baqarah [2] : 148)

Banyak sekali ayat atau dalil yang menyeru kita untuk berlomba-lomba, untuk bersaing dalam menunaikan ibadah atau dalam berbuat amal kebaikan. Inilah yang seringkali luput dari perhatian manusia karena biasanya yang manusia lihat adalah persaingan dalam kesuksesan materi. Kalau melihat orang lain sukses dunianya, maka hati kita mudah ‘panas’. Tapi, jika melihat orang lain lebih rajin ibadahnya, hati kita malah mencari berbagai pembetulan atau permakluman, “Ah wajar saja dia begitu, dia kan ustadz”, atau, “Ah saya kan begini adanya”.

Padahal para sahabat Nabi Saw. telah mencontohkan bagaimana semestinya kita selaku kaum muslimin menghidupkan jiwa persaingan dalam ibadah kepada Allah Swt. Dalam satu riwayat dari Imam Bukhari disebutkan bahwa kaum Muhajirin yang sedang dalam keadaan fakir karena meninggalkan harta bendanya di Mekkah. Kaum Muhajirin berkata kepada Rasulullah Saw., “Ya Rasulullah, orang-orang kaya telah memborong semua pahala hingga tingkat yang paling tinggi!”

Lantas, Rasulullah Saw. bertanya, “Mengapa engkau berkata begitu?” Para sahabat dari kaum Muhajirin ini pun menjawab, “Mereka shalat sebagaimana kami shalat. Mereka puasa sebagaimana kami puasa. Tapi ketika mereka bersedekah, kami tidak kuasa melakukan amalan sebagaimana yang mereka lakukan. Mereka memerdekakan hamba sahaya dengan hartanya, sedangkan kami tidak punya kemampuan melakukan itu.”

Mendengar ucapan para sahabat ini maka Rasul Saw. pun tersenyum. Kemudian, Rasul Saw. berkata, “sahabatku, sukakah aku ajarkan kepadamu amal perbuatan yang dapat mengejar mereka dan tidak seorang pun yang lebih utama dari kamu kecuali yang berbuat seperti perbuatanmu?”

Para sahabat pun sangat antusias dan ingin segera mengetahui amalan apakah itu. Rasulullah Saw. melanjutkan penjelasannya, “”Bacalah ‘subhanallah’, ‘Allahu akbar’, dan ‘alhamdulillah’ setiap selesai shalat masing-masing 33 kali.” Setelah menerima wasiat Rasulullah SAW, mereka pun pulang untuk mengamalkannya.

Beberapa hari kemudian, kaum fakir Muhajirin ini kembali menghadap Rasulullah Saw. dan menyampaikan keluhannya, “”Ya Rasulullah, saudara-saudara kami orang kaya itu mendengar perbuatan kami, lalu mereka serentak berbuat sebagaimana perbuatan kami.” Maka, Rasulullah Saw. bersabda, “Itulah karunia Allah Swt. yang diberikan kepada siapa saja yang Ia kehendaki.” (QS. An Nur [24]: 38)

Subhaanallah! Betapa ternyata di antara para sahabat rasa persaingan dalam beramal kebaikan begitu tinggi. Maka, kita pun akan ingat kepada kisah Umar bin Khaththab ra. ketika bersedekah separuh dari hartanya, kisah ini diriwayatkan oleh Imam Tirmidzi ra. Dalam kisah ini disebutkan bahwa suatu ketika Rasulullah Saw. mengumumkan kepada para sahabat untuk mengumpulkan sedekah. Umar menyambut seruan itu dengan kesanggupan bersedekah setengah dari harta kekayaannya.

Kemudian, Rasulullah Saw. bertanya, “Wahai Umar, apa yang engkau sisakan untuk keluargamu?” Umar pun menjawab, “Seperti itu juga yang aku siapkan untuk keluargaku.” Setelah bersedekah, Umar pun berkata dengan penuh rasa bahagia, “Akhirnya, hari ini aku bisa mendahului Abu Bakar (dalam bersedekah)”. Abu Bakar merupakan sahabat yang selalu terdepan dalam mengeluarkan harta di jalan Allah Swt. Dan, ternyata selama ini para sahabat yang lain sangat ingin seperti Abu Bakar dalam semangatnya bersedekah di jalan Allah Swt.

Tapi, kisah ini belum selesai. Karena tidak berselang lama, Abu Bakar datang dan bersedekah seluruh harta kekayaannya untuk menyambut seruan Rasulullah Saw. Saat Rasul Saw. bertanya, “Wahai Abu Bakar, apa yang engkau sisakan untuk keluargamu?” Abu Bakar menjawab, “Aku sisakan untuk keluargaku Allah dan rasul-Nya!”  

Menyaksikan hal itu, Umar pun berkata, “Demi Allah, Abu Bakar itu tidak terkalahkan!” Maasyaa Allah!

Saudaraku, indah dan dahsyat sekali keteladanan para sahabat dalam persaingan mendapatkan keridhaan dari Allah Swt. dan menyambut seruan Rasulullah Saw. Kalaulah hasad itu diperbolehkan, maka menurut penjelasan Rasulullah Saw. ada dua hasad yang diperbolehkan, “ “Tidak boleh hasad (ghibtah) kecuali pada dua orang, yaitu orang yang Allah anugerahkan padanya harta lalu ia infakkan pada jalan kebaikan dan orang yang Allah beri karunia ilmu (Al Qur’an dan As Sunnah), ia menunaikan dan mengajarkannya.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Demikianlah bagi kita orang yang beriman kepada Allah dan rasul-Nya, rasa bersaingi adalah bagian yang tidak terpisahkan dari keimanan kita. Yaitu, persaingan dalam beramal shalih, dalam mentaati Allah dan rasul-Nya.

Sebentar lagi, bulan Ramadhan akan tiba. Ada ulama yang mengatakan bahwa Ramadhan itu bagaikan arena pacuan di mana orang-orang yang sedang shaum saling bersaing dalam menjemput ridha Allah Swt. Mengapa disebut persaingan? Karena ternyata menurut hadits Rasulullah Saw., ada juga orang yang shaum di bulan Ramadhan tapi dia tidak mendapatkan apa-apa kecuali rasa lapar dan haus saja. Artinya, siapa yang cepat maka dia dapat. Siapa yang sungguh-sungguh beribadah di bulan Ramadhan maka dia akan mendapatkan kemenangan.

Saudaraku, semoga Allah Swt. memberikan hidayah kepada kita, sehingga kita tergolong hamba-hamba-Nya yang beriman dan senantiasa semangat dalam bersaing, berlomba-lomba mendapatkan ampunan Allah Swt. dan keridhaannya. Aamiin ya Rabbal’aalamiin.[]

 

*Disarikan dari https://www.youtube.com/watch?v=1VMBeKNHwSQ.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

thirteen + 5 =

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.