Home Hikmah Ibadah, Bekerja dan Rezeki yang Halal

Ibadah, Bekerja dan Rezeki yang Halal

702
0
SHARE
Dr. Abas Mansur Tamam

Oleh : Abas Mansur Tamam

Bismillaahirrahmaanirrahiim.

Bekerja untuk mendapatkan karunia Allah Swt. kedudukannya dalam Islam sangat terpuji. Tidak berlebihan kalau hubungannya dengan ibadah mahdhah disebut sebagai dua sisi mata uang. Hubungan ini digambarkan Allah Swt. dalam perintah mencari nafkah setelah selesai menunaikan ibadah shalat [Jum’at]: “Apabila shalat telah ditunaikan, bertebaranlah kamu di muka bumi dan carilah karunia Allah. Ingatlah Allah banyak-banyak supaya kamu beruntung.” (QS. Al Jumu’ah [62]: 10)

Keutamaan itu tidak terlepas dari hajat asasi manusia. Dia membutuhkan makan, minum, pakaian, tempat tinggal, transportasi, keamanan, dan sebagainya, baik untuk dirinya maupun orang-orang yang menjadi tanggungannya. Kebutuhan itu bukan hanya asal dipenuhi, tetapi harus dengan rezeki yang baik (thayyib) dan halal.

Itu sebabnya, dalam ayat tadi Allah menyertakan perintah berdzikir ketika bekerja. Dampak mengingat Allah ketika mencari rezeki akan melahirkan sikap hati-hati, agar jangan sampai harta yang akan dikonsumsi oleh dirinya, isteri, dan anak-anak yang dicintainya justru membuat mereka terjerumus ke dalam api neraka, gara-gara barang haram yang dimakannya. Orang yang banyak mengingat Allah pasti tidak akan membuatnya menghalalkan segala cara.

Keutamaan itu belum lagi ditambah dengan terhormatnya orang yang hidup mandiri. Karena itu Rasulullah Saw. mendorong umatnya untuk memiliki etos kerja yang tinggi, meninggalkan sikap malas-malasan, dan menggantungkan diri kepada orang lain. Dalam sebuah hadits shahih yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dari Al-Miqdam, Rasulullah saw. bersabda, “Tidaklah seseorang makan suatu makanan lebih baik dari hasil bekerja dengan tangannya sendiri. Sesungguhnya Nabi Daud a.s. makan dari hasil tangannya sendiri.” (HR. Bukhari, 2/1966)

Karena bekerja dalam Islam berhubungan dengan hak dan kewajiban, setiap karyawan berhak atas semua jaminan, upah yang setimpal, adil, dan tanpa diakhirkan yang harus ditunaikan oleh pemilik pekerjaan, baik individu, korporasi, maupun negara. Hak ini sangat melekat sehingga ketika Al Qur’an membicarakan soal amal/pekerjaan biasanya disandingkan dengan pahala/upah yang akan diperolehnya, baik di dunia maupun di akhirat. Tidak tanggung-tanggung, Al Qur’an mengulang kata ajrun (upah/pahala) dengan berbagai turunannya sebanyak 150 kali.

Dalam surah Al Ahqaf disebutkan bahwa setiap orang akan mendapatkan balasan sesuai dengan kualitas dan kapasitas amalnya serta tidak akan dizalimi. Allah berfirman, “Setiap orang akan mendapatkan derajat sesuai pekerjaan mereka. Allah akan membalas mereka dengan balasan yang memadai atas pekerjaan mereka dan mereka tidak akan dizhalimi.” (QS. Al Ahqaf [46]: 19). Ini artinya, setiap orang yang bekerja berhak atas upah yang setimpal dengan pekerjaannya.

Dia juga berhak mendapatkan fasilitas yang telah dijanjikan oleh pemilik pekerjaan sesuai dengan kaidah, “Al Muslimūna ‘alā syurūthihim” alias kesepatakan. Dia berhak mendapatkan jaminan kesehatan atau perlindungan keselamatan akibat resiko pekerjaannya (QS. Al Qashas [28]: 27). Dia berhak mendapatkan kenaikan jabatan karena prestasi yang telah dicapainya. Kajian fiqih atas persoalan terakhir ini disandarkan pada perlakuan Abu Bakar terhadap Muawiah bin Abi Sufyan atas prestasi yang dicapainya di Syam. Begitu juga hak-hak lain yang tidak bisa disebut satu persatu di sini.

Akan tetapi, selain memiliki hak, dia juga memiliki kewajiban atas profesinya. Di antara kewajiban profesi itu adalah tanggung jawab, amanah, profesionalisme, dan lain-lain. Penting digaris-bawahi, dia berkewajiban untuk tidak mempergunakan jabatannya demi kepentingan peribadi, keluarga, atau rekanan secara tidak sah. Penyalah-gunaan itu merupakan tindak kejahatan yang sering disebut KKN (korupsi, kolusi dan nepotisme).

Oleh karena itu, di antara konsekwensi seseorang mendapatkan upah yang memadai menurut Islam adalah dia tidak boleh mengambil penghasilan tambahan, selain yang telah disepakati antara pekerja dengan pemilik kerja. Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan Abu Daud dari Buraidah, Rasulullah Saw. bersabda, “Orang yang kami pekerjakan untuk melakukan pekerjaan tertentu, kemudian kami gaji, apa yang dia ambil setelah itu adalah khianat (ghulūl, korupsi).” (HR. Abu Daud 3/2943, bab fī arzāqil ummāl).[]

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

nine − five =

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.