Home Hikmah Waktu dan Perencanaan Dalam Hidup

Waktu dan Perencanaan Dalam Hidup

441
0
SHARE
Dr. Muchlis M. Hanafi, MA.

Oleh : Muchlis M. Hanafi

Bismillaahirrahmaanirrahiim.

Salah seorang cendekiawan muslim asal Al Jazair, Malik bin Nabi pernah merumuskan dalam satu bukunya tentang syuruut an nahdlah atau syarat-syarat kebangkitan suatu peradaban. Malik bin Nabi mengatakan, “Kebangkitan dan kejayaan suatu komunitas itu sangat ditentukan oleh tiga hal. Yang pertama, manusia atau sumber daya insani. Yang kedua, waktu. Dan yang ketiga adalah alam atau sumber daya alam.”

Peradaban terbangun berdasarkan hasil interaksi manusia dengan waktu yang digunakan secara baik dalam hidupnya. Dan, peradaban juga dapat terbangun melalui interaksi manusia dengan alam yang menjadi sumber kehidupan. Atau, keterkaitan di antara ketiganya.    

Di dalam Al Quran Allah Swt. berfirman, “Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat); dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS. Al Hasyr [59] : 18)

Pada ayat ini terdapat kalimat “li ghad” yang berarti “untuk hari esok”. Kalimat ini berbentuk Nakirah yang dalam bahasa Arab menunjukkan sesuatu yang belum diketahui, masih menjadi misteri. Ini menurut banyak ahli tafsir sesungguhnya menggambarkan kedahsyatan dan keagungan hari tersebut. Oleh karena itu, para ulama tafsir memahami kata ‘hari esok’ dalam ayat tersebut sebagai hari kiamat.

Tetapi ‘hari esok’ dalam ayat ini juga bisa bermakna hari setelah hari ini. Maka dengan begitu setiap waktu dalam kehidupan kita hendaknya dilalui dengan perencanaan yang cermat.

Waktu di dalam Al Quran diungkapkan dengan kata Al Ashr, sebagaimana terdapat surat Al Ashr, surat ke 103 di dalam Al Quran. Nama Al Ashr ini berasal dari akar kata yang sama dengan kata Ashiir yang berarti perasan buah atau jus buah. Ini memberi kesan bahwa waktu adalah sesuatu yang harus diperas agar menghasilkan kehidupan yang berkualitas.

Pentingnya perencanaan dalam hidup juga disampaikan di dalam Al Quran melalui kisah nabi Yusuf as. ketika beliau menta’wil mimpi seorang raja. Dalam mimpinya itu disebutkan bahwa sang raja melihat tujuh ekor sapi gemuk yang dimakan oleh tujuh ekor sapi yang kurus. Dia juga melihat dalam mimpinya itu tujuh tangkai gandum hijau dan yang kering.

Dalam ta’wilnya itu nabi Yusuf menjelaskan bahwa tujuh tahun masa kejayaan yang digambarkan dengan tujuh ekor sapi gemuk, itu harus disertai dengan persiapan dan perhitungan ketika akan memasuki tujuh tahun masa sulit akibat paceklik. Kesenangan tidak boleh membuat kita terlena sehingga lupa bahwa suatu saat akan datang masa kesulitan. Hendaknya ada yang disisihkan dari perolehan di masa jaya sebagai bekal. Sebab boleh jadi ia akan mengalami kesulitan di masa yang akan datang.

Dari ta’wil mimpi oleh nabi Yusuf as. ini, Mesir ternyata benar-benar mengalami masa paceklik yang berkepanjangan selama tujuh tahun. Akantetapi, karena semua sudah diprediksi dan direncanakan, maka paceklik panjang itu tidak sampai menyengsarakan masyarakat Mesir karena logistik sudah dipersiapkan untuk persediaan di masa-masa sulit. Maasyaa Allah!

Ada pelajaran penting dari ta’wil mimpi ini, bahwa kualitas hidup itu sangat ditentukan oleh perencanaan yang matang dengan memperhitungkan setiap waktu yang dilaluinya. Waktu adalah sesuatu yang harus diperas seperti halnya anggur yang jika diperas maka akan menghasilkan minuman yang lezat. Hidup harus diisi dengan hal-hal yang produktif, hal-hal yang bermanfaat, bukan sekedar konsumtif apalagi bermalas-malasan.

Dalam sebuah hadits Rasulullah Saw. yang diriwayatkan Imam Tirmidzi disebutkan bahwa sesungguhnya orang yang beruntung itu, orang yang bijak itu adalah orang yang selalu melakukan perhitungan-perhitungan atau perencanaan-perencanaan dalam hidupnya. “Orang yang paling banyak mengingat mati dan paling siap menghadapinya. Merekalah orang paling cerdas. Mereka pergi dengan membawa kemuliaan di dunia dan kehormatan di akhirat.” (HR. Tirmidzi)

Saudaraku, hari esok yang lebih baik, hari esok yang lebih berkualitas, tidak akan diperoleh tanpa usaha yang keras. Tokoh sufi terkemuka Imam Ibnu Athaillah Assakandari dalam kitab Al Hikam beliau pernah berpesan, “Akhir perjalanan yang cerah hanya akan diperoleh dengan usaha keras pada langkah pertama. Siapa yang tidak bekerja keras, ‘membakar diri’ di awal perjalanannya maka ia tidak akan pernah memperoleh masa depan yang gemilang dan cemerlang.”

Oleh karenanya, marilah kita gunakan waktu yang Allah karuniakan kepada kita ini dengan amal-amal berkualitas, produktif dan penuh manfaat. Sehingga detik demi detik yang kita lalui menjadi bernilai ibadah di hadapan Allah Swt. dan menjadi berkah dalam kehidupan kita di dunia. Wallaahua’lambishawab.[]

 

*Disarikan dari ceramah Dr. Muchlis M. Hanafi di Masjid Istiqlal Jakarta pada Jumat, 29 Desember 2018.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

four × 4 =

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.