Home Hikmah Pentingnya Penafsiran Al Quran

Pentingnya Penafsiran Al Quran [1]

849
0
SHARE
Dr. Muchlis M. Hanafi

Oleh : Muchlis M. Hanafi

Bismillaahirrahmaanirrahiim.

Allah Swt. menurunkan Al Quran sebagai pedoman. Bukan hanya bagi manusia, tapi juga bagi makhluk yang lain, jin misalnya. Al Quran sebagai sebuah pedoman tentu harus bisa dipahami. Sebab kalau ada tanda atau rambu lalu lintas yang kita temukan di pinggir jalan dan kita tidak memahami itu, maka kita bisa tersesat. Oleh karena dia sebagai sebuah petunjuk, maka di harus dipahami. Itulah gambaran bagi Al Quran sebagai sebuah pedoman dalam hidup kita.

Upaya-upaya untuk memahami maksud-maksud Allah Swt. yang terdapat di dalam Al Quran, itulah yang disebut dengan tafsir. Jadi, tafsir itu adalah upaya untuk memahami kalam Allah yang ada di dalam Al Quran. Karena manusia itu pengetahuannya terbatas, sementara Allah itu pengetahuannya tidak terbatas, maka yang namanya tafsir itu selalu sesuai dengan kemampuan manusia.

Akal manusia itu terbatas, kemampuan manusia untuk memahami pun terbatas, belum lagi satu orang dengan orang yang lain tentu pikirannya berbeda. Oleh karena itu, tidak heran kalau kita menemukan perbedaan dalam menafsirkan Al Quran.

Lalu, bagaimana dengan terjemah Al Quran? Terjemah itu adalah upaya mengalihbahasakan dari bahasa sumber kepada bahasa kita. Al Quran sebagai sumber menggunakan bahasa Arab, sedangkan kita menggunakan bahasa Indonesia, maka dialihbahasakanlah Al Quran itu ke dalam bahasa kita. Namun, terjemah itu tetap bukanlah Al Quran. Terjemah itu adalah hasil pemahaman manusia juga terkait Al Quran. Maka, perbedaan terjemahan juga wajar terjadi sebagaimana perbedaan dalam penafsiran.

Mengapa Al Quran perlu ditafsirkan? Kita tahu bahwa Al Quran sebagai petunjuk itu tidak hanya berlaku untuk satu wilayah tertentu saja, tidak hanya untuk penduduk di Arab saja. Al Quran sebagai petunjuk juga bukan hanya diperuntukkan bagi manusia pada kurun waktu tertentu saja. Melainkan Al Quran sebagai petunjuk bagi seluruh manusia dari manapun dia berasal dan di waktu kapanpun dia hidup, baik di masa lalu, masa sekarang maupun masa yang akan datang sampai hari kiamat tiba.

Kemudian, mari kita lihat jumlah ayat Al Quran hanya 6.236 ayat saja. Al Quran pun tidak begitu tebal. Padahal persoalan manusia sangat banyak bahkan terus berkembang. Sedangkan di dalam Al Quran itu ada penjelasan bahwa ia adalah tibyaanan li kullai syai atau petunjuk bagi segala sesuatu. Tapi, apakah mungkin Al Quran sampai menjelaskan yang detail-detail? Tidak. Sebab kalau Al Quran itu diperuntukkan bagi seluruh manusia sepanjang zaman, sedangkan persoalan manusia itu sangat banyak dan terus berkembang dan yang detail-detail harus dijelaskan, maka tentu Al Quran akan berjilid-jilid.

Al Quran itu isinya ada sebagian yang rinci, dan ada sebagian besar berupa petunjuk-petunjuk umum saja. Agar bisa dijadikan sebagai petunjuk maka dia perlu dijelaskan, nah penjelasan itulah yang dinamakan tafsir. Jadi, tafsir itu adalah al ibaanatu wal kasyfu, menjelaskan dan mengungkapkan tabir rahasia di balik kalam Allah Swt.

Kemudian, Al Quran itu dalam bahasa Arab. Dan, bahasa Arabnya pun kelas tinggi. Sangat puitis, bernilai sastra tinggi, bahkan orang Arab pun tidak sedikit yang salah memahami Al Quran. Ketika Al Quran diturunkan pada zaman nabi Muhammad Saw., banyak sahabat yang salah paham.

Misalnya pada ayat yang berbunyi, “Kulluu wasyrabuu hattaa yatabayyana lakum al khaitul abyadl minal khaitil aswad minal fajr”. Yang diterjemahkan, “Makan dan minumlah (di malam hari kalian berpuasa), hingga jelas benang putih dari benang hitamnya fajar.” (QS. Al Baqarah [2] : 187)

Banyak sahabat yang salah memahami kata al khaitul abyadl dan al khaitul aswad. Salah  satunya adalah ‘Adi bin Haatim, beliau menyimpan benang putih dan benang hitam di bawah bantalnya sebelum malam tiba. Maksudnya beliau menjadikan dua benang itu sebagai penanda kapan memulai shaum dan kapan berbuka. Demikian juga beberapa sahabat yang lain ada yang pada malam yang sama mengikatkan benang putih dan benang hitam pada kakinya dan tetap makan sampai mereka bisa membedakan warna dari kedua benang itu.

Tentu maksud dari ayat Al Quran tadi bukanlah demikian. Lantas para sahabat inipun diluruskan oleh Rasulullah Saw. bahwa yang dimaksud dengan al khaitul abyadl dan al khaitul aswad itu adalah gelapnya malam dan terangnya siang. Itulah yang dimaksud, dan bukanlah benang dalam arti secara harfiahnya.

Kisah ini menjadi salah satu bukti tentang betapa Al Quran mengandung nilai sastra yang sangat tinggi. Dan, hal-hal seperti ini tidak mungkin kita pahami kecuali dengan penjelasan. Al Quran di dalamnya terdapat ayat-ayat kiasan, metafora, yang tidak bisa kita pahami maksudnya jika hanya melihat pada apa yang terbaca dari teks Al Quran itu. Oleh karenanya, memahami Al Quran itu tidak cukup hanya mengandalkan terjemahan, namun perlu tafsir.

Al Quran menggunakan bahasa Arab dengan nilai sastra tinggi, maka tidak semua orang bisa memahaminya. Disinilah tugas seorang ahli tafsir. Abdullah ibn Mas’ud ra., salah seorang sahabat Rasulullah Saw., menerangkan bahwa Al Quran itu adalah ma’dubatulah atau jamuan Allah Swt. Kita memahami bahwa jamuan itu biasanya dihidangkan, dipersiapkan dengan baik dan rapi untuk dinikmati oleh orang lain, nah tugas menghidangkan inilah tugasnya para ahli tafsir. Para ahli tafsir bekerja menghidangkan jamuan Allah Swt. dalam bentuk kitab-kitab tafsir.

Para ahli tafsir menghidangkan jamuan Allah itu dengan cara berbeda-beda. Sehingga kita bisa melihat ada kitab tafsir yang tebal-tebal, di mana pada tafsir itu ada penjelasan secara terperinci segala sesuatu yang berkaitan dengan satu ayat, sehingga penjelasannya menjadi sangat detail dan panjang. Kalau dalam hidangan yang kita biasa temukan barangkali ini termasuk hidangan prasmanan.

Namun, ada juga yang menyajikannya secara tematik, misalnya tafsir yang menjelaskan bagaimana Al Quran berbicara tentang alam dan sains. Ada juga tafsir yang menjelaskan bagaimana Al Quran berbicara tentang hukum-hukum. Atau ada tafsir yang menjelaskan bagaimana Al Quran berbicara mengenai perempuan. Kalau dalam hidangan yang biasa kita temukan barangkali ini seperti hidangan nasi kotak, yang sudah satu jenis makanan dan kita tinggal menikmati saja.[]

 

*Disarikan dari rekaman ceramah Dr. Muchlis M. Hanafi pada chanel Youtube yang dipublikasikan oleh Aishaderm Cosmetics pada 8 Juni 2018.

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

seven + twelve =

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.