Home Hikmah Mencintai dan Dicintai Allah

Mencintai dan Dicintai Allah

766
0
SHARE
Ust. Fahmi Salim, MA.

Oleh : Fahmi Salim

Bismillaahirrahmaanirrahiim.

Di dalam Al Quran banyak sekali istilah cinta. Cinta yang ditunjukan oleh Allah Swt. kepada makhluk-Nya, cinta yang pertama kali diwahyukan oleh Allah Swt. kepada Rasulullah Saw. untuk memperkenalkan jatidiri, tauhiid kepada Al Khaliq Swt., terhadap umat manusia di mana umat manusia ketika itu hidup bergelimang dalam kemusyrikan.

Ketika Allah Swt. mewahyukan kepada sang nabi Saw., “Bacalah dengan (menyebut) nama Rabb-mu Yang Menciptakan. Dia yang menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Rabb-mulah Yang paling Pemurah. Yang mengajar manusia dengan perantaraan kalam (wahyu). Dia mengajarkan kepada manusia apa yang tidak diketahuinya.” (QS. Alaq [96] : 1-5)

Ayat ini menjadi tanda cinta Allah Swt. kepada makhluk-Nya. Allah sangat cinta kepada kita selaku hamba-hamba-Nya. Oleh karena itu, Allah Azza wa Jalla tidak hanya membekali kepada kita dengan akal pikiran semata, Allah juga tidak hanya melimpahi kita dengan berbagai sarana yang terhampar luas di alam semesta ini. Tetapi Allah Swt. karena luapan cinta-Nya kepada makhluk-Nya, Allah juga memberikan petunjuk kepada kita tentang agama, tentang sistem kehidupan yang harus kita tempuh agar kita beribadah kepada Allah Swt. sesuai dengan apa yang dikehendaki-Nya.

Allah Swt. menghendaki supaya kita ini memakmurkan alam semesta ini, yang mana manusia diamanahi oleh Allah Swt. sebagai khalifah. Allah Swt. mengamanahi kita sebagai pemimpin, sebagai pengelola alam ini sebagai bentuk ibadah kita kepada Allah Swt.

Oleh sebab itu, Allah Swt. berkali-kali di dalam Al Quran memulai beberapa surat Al Quran dengan ungkapan “Alhamdulillah”, segala puji bagi Allah Swt. Seperti dalam surat Al Fatihah, atau juga seperti dalam surat Al Kahfi dimana Allah Swt. berfirman, “Segala puji bagi Allah yang telah menurunkan kepada hamba-Nya Al Kitab (Al-Quran) dan Dia tidak mengadakan kebengkokan di dalamnya.” (QS. Al Kahfi [18] : 1)

Kalimat Alhamdulillah  ini merupakan pujian kepada Allah Swt. yang kit abaca sebagai tanda kecintaan kita kepada-Nya. Atas apa? Yang pertama adalah atas penciptaan alam semesta ini. Yang kedua adalah atas penciptaan makhluk-makhluk-Nya, para malaikat, manusia, jin dan lainnya. Yang ketiga Allah Swt. berhak dipuji atas kitab-kitab yang Dia turunkan sebagai petunjuk bagi manusia agar menjalani kehidupan ini dengan keselamatan. Inilah tanda cinta Allah Swt. kepada kita semua.

Maka, menjadi kewajiban kita untuk membalas kecintaan Allah Swt. terhadap kita meski tentu kecintaan kita tidak akan pernah bisa menandingi besarnya kecintaan Allah terhadap kita. Bagaimana cara mencintai Allah Swt.? Yaitu dengan mentaati semua petunjuk Allah Swt. dan rasul-Nya sehingga hidup kita senantiasa ada di atas jalan yang lurus. Sebagai mana permohonan yang berulang kali kita panjatkan kepada Allah Swt. dalam shalat kita, “Tunjukilah kami ke jalan yang lurus.” (QS. Al Fatihah [1] : 6)

Imam Ibnu Qayyim Al Jauziyah ra. menuliskan di dalam karyanya yang berjudul Madaarijus Saalikin Fii Manazili Iyyaakana’budu Wa Iyyaakanasta’iin. Beliau menyebutkan beberapa sebab yang akan mendatangkan nikmat dari kecintaan kita terhadap Allah Swt. Beliau menerangkan ada sepuluh sebab yang akan menyuburkan kenikmatan di dalam hati kita sebagai buah dari kecintaan kita terhadap Allah Swt.

Pertama, membaca Al Quran dengan mentadaburi makna-maknanya. Karena Al Quran ini adalah kalamullah, karena Al Quran ini adalah dzikir kita kepada Allah Swt., karena Al Quran ini adalah surat-surat cinta dari Allah Swt. kepada kita, maka Allah sangat senang kalau kita membaca surat-surat cinta yang Dia turunkan kepada Rasulullah Saw. Dan, tidak sekedar membaca, namun juga mendalami makna-maknanya sehingga kita benar-benar bisa merasakan betapa besarnya cinta Allah Swt. kepada kita.

Kedua, mendekatkan diri kita kepada Allah Swt. dengan amalan-amalan sunnah. Setelah kita melaksanakan amalan-amalan yang diwajibkan oleh Allah Swt. seperti shalat lima waktu, shaum Ramadhan, zakat dan haji, maka kita melanjutkan kepada amalan-amalan sunnah. Inilah yang akan menyirami terus-menerus kecintaan kita kepada Allah sehingga rasa cinta itu tumbuh subur di hati kita.

Dalam sebuah hadits qudsi Allah Swt. berfirman, “Hamba-ku senantiasa mendekatkan diri kepada-Ku dengan amalan-amalan sunnah sehingga Aku mencintainya..” (HR. Bukhari)

Ketiga, senantiasa mengingat Allah Swt., merutinkan dzikir dalam setiap keadaan, baik melalui lantunan lisan ataupun dengan bisikan di daam hati kita. Atau bahkan dengan dzikir yang kita ejawantahkan dalam amal perbuatan kita sehri-hari.

Saudaraku, kalau kita mencintai seseorang atau sesuatu benda, maka biasanya kita akan banyak mengingatnya, kita akan sering menyebut namanya, kita pun rajin menceritakan tentangnya. Maka, apalagi jika yang kita cintai ini adalah Allah Swt., Dzat Yang Maha Menciptakan segala sesuatu di duna ini. Dialah Allah yang telah memberikan nikmat kepada kita berupa akal pikiran, perasaan dan segala potensi yang ada pada diri kita. Dan, nikmat Allah yang paling besar adalah ketika Dia mengutus para nabi dan rasul yang menjadi penunjuk jalan bagi kita agar hidup kita di dunia ini tidak tersesat, agar kita selamat di dunia dan di akhirat.

Keempat, mendahulukan apa saja yang dicintai oleh Allah Swt. di atas apa yang kita cintai sebagai makhluk. Ketika terjadi konflik batin mana yang harus kita dahulukan antara apa yang Allah cintai dan apa yang kita cintai, maka dahulukanlah apa yang Allah cintai. Sebagai manusia, tentu kita mencintai pekerjaan kita mencari penghidupan, akan tetapi Allah mencintai yang halal, maka kita memilih bekerja pada urusan yang halal serta menjauhi perkara haram dan syubhat.

Kita tahu bahwa yang haram sebenarnya bisa saja kita dapatkan dengan mudah bahkan banyak dan memuaskan. Akantetapi kita pun tahu bahwa Allah tidak mencintai perbuatan tersebut, maka kita memilih untuk menghindarinya dan memilih apa yang Allah halalkan bagi kita.

Allah Swt. berfirman, “Katakanlah: ‘Jika bapak-bapak, anak-anak, saudara-saudara, istri-istri, kaum keluarga, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu kuatirkan kerugiannya, dan rumah-rumah tempat tinggal yang kamu sukai, adalah lebih kamu cintai, lebih daripada Allah dan Rasul-Nya, dan (dari) berjihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya’. Dan Allah tidak memberi petunjuk, kepada orang-orang yang fasik.”  (QS. At Taubah [9]:24)

Kelima, mengenal dan mengerti hakikat Asma Allah dan sifat-sifat-Nya.  Rasulullah Saw. bersabda, “Sesungguhnya Allah memiliki 99 nama, seratus kurang satu. Siapa yang menghapalnya maka ia akan masuk surga.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Jadikanlah Asmaul Husna ini sebagai bagian dari dzikir harian kita. Namun, jangan merasa cukup dengan hapal saja, harus lebih dari itu yaitu dengan cara meneladaninya. Saat kita membaca Ar Rahman dan Ar Rahiim, maka kita meneladaninya dengan cara mengamalkan rasa sayang terhadap sesama muslim, terhadap sesama manusia dan terhadap sesama makhluk Allah Swt.

Keenam, menyadari dan menjadi saksi mata atas kebaikan-kebaikan Allah Swt. di muka bumi. Ketika kita benar-benar menyadari betapa besarnya kebaikan Allah Swt. terhadap kita, maka hati kita akan tunduk kepada-Nya. Hati kita akan larut dalam rasa cinta kepada Allah yang mana hal itu akan menimbulkan rasa tenang dan memancarkan kedamaian.

Oleh karenanya, setiap kali kita merasa hidup ini berat, atau setiap kali kita mendapati musibah datang menghampiri, maka penting bagi kita mengingat-ingat kebaikan Allah Swt. terhadap kita. Karena hal ini akan membuat kita jauh jadi lebih kuat menghadapi segala ujian. Sehingga setiap ujian yang datang bisa menjadi jalan untuk semakin tingginya kualitas kita di hadapan Allah Swt.

“Dan jika kamu menghitung-hitung nikmat Allah, niscaya kamu tak dapat menentukan jumlahnya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. An Nahl [16] : 18)

Ketujuh, bermunajat, berdoa, dan memohon ampun kepada Allah Swt. di sepertiga malam terakhir. Rasulullah Saw. bersabda, ”Rabb kita turun ke langit dunia pada setiap malam yaitu ketika sepertiga malam terakhir. Allah berfirman, ’Barangsiapa yang berdoa kepada-Ku, niscaya Aku kabulkan. Barangsiapa yang meminta kepada-Ku, niscaya Aku penuhi. Dan barangsiapa yang memohon ampun kepada-Ku, niscaya Aku ampuni.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Inilah waktu-waktu istimewa yang Allah Swt. hamparkan untuk kita, sebagai fasilitas istimewa bagi kita untuk mendekatkan diri kepada-Nya. Inilah waktu-waktu luar biasa untuk mengokohkan rasa cinta kepada Allah sehingga kita bisa merasakan nikmatnya limpahan cinta dari Allah Swt.

Kedelapan, tunduk dan khusyu dalam shalat dan dalam segala urusan hidup. Rasa cinta kepada Allah akan semakin kuat manakala khusyu tidak hanya kita amalkan di dalam shalat semata, namun juga pada kegiatan kita sehari-hari, pada tugas-tugas kita di kantor. Khusyu berarti tunduk kepada Allah secara lahir dan batin. Kekhusyuan yang senantiasa hadir sepanjang hari pada diri kita akan semakin membuat kita nikmat dalam cinta-Nya dan kita pun semakin terpelihara dari perbuatan-perbuatan dosa.

Kesembilan, bergaul dengan orang-orang yang mencintai Allah Swt. Rasulullah Saw. bersabda, “Permisalan teman yang baik dan teman yang buruk ibarat seorang penjual minyak wangi dan seorang pandai besi. Penjual minyak wangi mungkin akan memberimu minyak wangi, atau engkau bisa membeli minyak wangi darinya, dan kalaupun tidak, engkau tetap mendapatkan bau harum darinya. Sedangkan pandai besi, bisa jadi (percikan apinya) mengenai pakaianmu, dan kalaupun tidak engkau tetap mendapatkan bau asapnya yang tak sedap.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Pergaulan itu sangatlah berpengaruh pada diri kita. Cepat atau lambat lingkungan tempat kita bergaul akan turut mewarnai seperti apa diri kita ini. Bukan berarti kita membatasi diri dalam pergaulan, karena sesungguhnya dakwah itu tidaklah memilih-milih objeknya. Akantetapi, bersahabatlah dengan orang-orang yang dalam pandangan kita lebih tinggi ilmunya, lebih dalam pemahamannya pada urusan agama, sehingga kita pun bisa belajar kepadanya. Setiap kali kita berada di dekatnya atau berbicang dengannya, maka hati kita senantiasa diingatkan kembali tentang kebesaran Allah Swt.

Kesepuluh, jauhi urusan-urusan yang membuat hati kita menjauh dari mengingat Allah Swt. Rasa cinta kepada Allah adalah hal yang sangat berharga. Betapa banyak orang yang kering hatinya karena jauh dari Allah, padahal kondisi hati ini berpengaruh besar pada diri kita secara keseluruhan. Oleh karenanya, peliharalah, jagalah hati yang diliputi rasa cinta kepada Allah dengan cara menjauhi sumber-sumber kemaksiatan.

Rasulullah Saw. beliau bersabda, “Seorang hamba apabila melakukan suatu kesalahan, maka dititikkan dalam hatinya sebuah titik hitam. Apabila ia meninggalkannya dan meminta ampun serta bertaubat, hatinya dibersihkan. Apabila ia kembali (berbuat maksiat), maka ditambahkan titik hitam tersebut hingga menutupi hatinya. Itulah yang diistilahkan “ar raan” yang Allah sebutkan dalam firman-Nya (yang artinya), ‘Sekali-kali tidak (demikian), sebenarnya apa yang selalu mereka usahakan itu menutupi hati mereka’.”  (HR. Tirmidzi, Ibn majah, Ibn Hibban, Ahmad)

Saudaraku, berbahagialah yang hatinya senantiasa rindu kepada Allah, rindu bersujud kepada-Nya, rindu sehingga senantiasa mengingat-Nya kapanpun dan dimanapun. Kerinduan yang menjadi tanda cinta. Semoga kita termasuk hamba-hamba Allah yang mencintai-Nya dan Allah pun mencintai kita. Aamiin yaa Rabbal’aalamiin.

 

*Disarikan dari https://www.youtube.com/watch?v=6KLvqAiR0fE.

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.