Home Hikmah Ciri Komunitas Orang Beriman  

Ciri Komunitas Orang Beriman  

315
0
SHARE
KH. Ahmad Mustofa Bisri

Oleh : Ahmad Mustofa Bisri

Bismillaahirrahmaanirrahiim.

Orang Islam itu ada dua. Yaitu orang Islam yang beriman luar dalam, lahir batin, dan dinamakan mukminin atau orang beriman. Kedua, orang Islam yang beriman hanya lisannya saja sedangkan dalamnya tidak, disebut sebagai orang munafik. Keterangan mengenai hal ini disampaikan oleh Allah Swt. di dalam Al Quran.

Mengenai orang-orang yang beriman, Allah Swt. berfirman, “Dan orang-orang yang beriman, lelaki dan perempuan, sebagian mereka (adalah) menjadi auliyaa sebagian yang lain. Mereka menyuruh (mengerjakan) yang ma’ruf, mencegah dari yang mungkar, mendirikan shalat, menunaikan zakat dan mereka taat kepada Allah dan rasul-Nya. Mereka itu akan diberi rahmat oleh Allah. Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (QS. At Taubah [9] : 71)

Ini ciri yang paling utama dari komunitas orang-orang yang beriman. Yaitu bahwa orang-orang mukmin laki-laki dan orang-orang mukmin perempuan, satu sama lain di antara mereka itu menjadi auliyaa. Auliyaa ini adalah kata bentuk jamak dari wali. Kata auliyaa di dalam Al Quran digunakan pada banyak ayat dan dalam berbagai makna, tidak bermakna tunggal.

Adapun auliyaa dalam ayat ini lebih kami maknai sebagai satu kubu atau dua pihak atau lebih yang menyatu satu sama lain saling melengkapi dan saling menguatkan. Saling menolong, saling membutuhkan. Saling mengoreksi, saling mengingatkan. Kalau satu pihak salah maka pihak yang lain mengingatkan. Kalau satu pihak lemah maka pihak yang lain menguatkan. Inilah ciri utama dari komunitas orang-orang yang beriman kepada Allah Swt.   

Disebutkan dalam ayat di atas bahwa komunitas orang-orang beriman itu di dalamnya terdapat ciri yang sangat mulia yaitu amar ma’ruf nahi munkar, saling mengajak kepada kebaikan dan saling mencegah dari kemungkaran. Kalau ada saudara sesama mukmin keliru, maka diluruskan, dibenarkan. Kalau ada yang lupa, maka diingatkan. Dan, kalau ada yang mau terseret pada kemungkaran maka dicegah atau diselamatkan. Kenapa? Karena orang beriman dengan orang beriman lainnya itu telah menyatu menjadi bagian yang tak terpisahkan. Oleh karenanya, jika ada satu orang yang terjerumus pada kemungkaran maka yang lainpun bisa terbawa pada kemungkaran itu. Tidak boleh seorang yang beriman membiarkan saudaranya terjerumus pada perbuatan mungkar.

Seperti layaknya sepasang kekasih atau sepasang manusia yang sudah terikat pada janji suci pernikahan untuk saling mengasihi, saling mencintai, saling menjaga, saling merawat, saling menyelamatkan, maka ketika pasangannya akan terjerumus pada kecelakaan tentu pasangannya sekuat tenaga menyelamatkannya. Demikianlah gambaran orang-orang beriman yang satu dengan yang lainnya.

Kita tentu setiap hari setiap waktu berusaha terus meningkatkan kualitas diri kita di hadapan Allah Swt. Dari sekedar menjadi seorang muslim yang biasa saja, menjadi muslim yang memiliki kualitas keimanan yang baik terhadap Allah Swt. Oleh karenanya, salah satu ikhtiar kita menjangkau derajat tersebut adalah dengan merefleksikan rasa cinta, kasih sayang, empati terhadap sesama mukmin. Mengedepankan persaudaraan di atas segala potensi perbedaan yang pasti ada di antara sesama mukmin.

Semoga Allah Swt. menggolongkan kita sebagai orang-orang yang beriman kepada-Nya. Dan, mengumpulkan kita kembali di surga-Nya bersama orang-orang beriman yang sudah mendahului kita. Semoga kita mendapatkan syafaat dari baginda nabi Muhammad Saw. Aamiin yaa Rabbal’aalamiin.[]

 

*Disarikan dari rekaman ceramah KH. Ahmad Mustofa Bisri pada chanel Youtube yang dipublikasikan oleh GusMus Channel pada 19 Januari 2017.  

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

two × four =

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.