Home Hikmah Muslim Tangguh Zaman Now

Muslim Tangguh Zaman Now

507
0
SHARE
Kang Rasyied

Oleh : Kang Rashied

Bismillaahirrahmaanirrahiim.

Muslim itu memiliki akar kata yang sama dengan salam yang artinya damai. Juga memiliki akar kata yang sama dengan Islam yang artinya kedamaian. Dan, Muslim berarti orang yang sangat mencintai kedamaian.

Oleh karenanya, ada sebuah doa yang berbunyi, “Allahumma antas salam wa minkas salam wa ilaika ya’udus salam fahayyina rabbana bis salam wa adkhilnal jannata daarassalam.”

Yang artinya, “Ya Allah, Engkau adalah sumber kedamaian, dan dari-Mu-lah kedamaian ini, dan kepada-Mu akan kembali lagi segala kedamaian itu. Ya Tuhan kami, hidupkanlah kami dengan kedamaian. Dan, masukkanlah kami ke dalam surga negeri yang penuh kedamaian.”

Masih dari akar kata yang sama pula ada kalimat taslim yang artinya pasrah dan patuh terhadap perintah Allah Nya. Mematuhi dengan penuh kepasrahan. Saat ada larangan mendekati zina, maka patuh saja tanpa bertanya mengapa, karena pasti larangan tersebut mengandung kebaikan. Saat ada perintah shalat, maka patuh saja tanpa bertanya untuk apa, karena tentu di balik perintah tersebut ada kebaikan. Begitu juga pada perintah-perintah lainnya dari Allah Swt.

Kemudian, seorang muslim harus memiliki karakter istislam, yang berarti ucapan dan perbuatannya harus memancarkan kedamaian. Dengan begitu orang-orang di sekitar dia, lingkungan di sekitar dia mendapatkan manfaat kedamaian dari dirinya, selamat dari kejahatan lisan dan perbuatannya. Jika ia sudah berumahtangga, maka ia mampu menjadi jalan bagi kedamaian untuk hadir di tengah keluarganya. Jika ia seorang yang diamanahi kepemimpinan di tengah umat, maka ia mampun menjadi pemimpin yang menghadirkan rasa damai di tengah rakyatnya.

Saudaraku, mari kita berkaca diri, sudahkah kita selaku muslim memiliki karakter istislam? Sudahkah kita sebagai muslim menebarkan rasa damai terhadap saudara-saudara kita baik melalui lisan kita, perbuatan kita, atau melalui tulisan-tulisan kita di media sosial misalnya, sudahkah demikian?

Karena, jangan-jangan kita sudah menunaikan shalat lima waktu, sudah berzakat, bahkan sudah umrah dan haji, namun lisan dan perbuatan kita belum bisa menjadi jalan kedamaian bagi orang-orang di sekitar kita. Tidak sedikit orang yang mengaku dirinya muslim, namun begitu sering orang lain terzhalimi oleh ucapan dan tindakannya. Apakah kita termasuk orang yang demikian? Semoga tidak.

Padahal baginda Rasulullah Saw. pernah berpesan untuk kita, “Yang disebut dengan muslim sejati adalah orang yang orang lain merasa aman dari lisan dan perbuatannya..(HR. Bukhari dan Muslim)

Di dalam Al Quran, Allah Swt. juga berfirman, “Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah. Sekiranya ahli Kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka, di antara mereka ada yang beriman, dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang fasik.” (QS. Ali Imran [3] : 110)

Para ahli tafsir menjelaskan bahwa melalui ayat ini Allah Swt. menerangkan kepada kita selaku kaum muslimin bahwasanya kehadiran kita saat ini di tengah umat manusia yang sekian milliar jumlahnya ini di dunia, adalah hadir dengan membawa suatu misi tertentu yaitu sebagai khairu ummah, umat terbaik.

Nah, seperti apakah umat terbaik itu? Masih pada ayat tersebut di atas Allah Swt. memberikan semacam kisi-kisi bahwa umat terbaik itu adalah pertama, yang mengajak manusia kepada kebaikan. Seorang muslim tentu tahu bahwa lebih baik memilih taat kepada Allah daripada maksiat, maka diapun mengajak manusia untuk mentaati Allah Swt. Dengan cara apa? Bisa dengan cara apa saja sesuai dengan kapasitas dan kemampuan dirinya.

Berdakwah itu banyak sekali metodenya, apalagi di zaman yang sudah serba canggih seperti sekarang ini. Berdakwah mengajak manusia kepada kebaikan tidak hanya bisa dilakukan pada mimbar-mimbar saja, tidak hanya melalui forum-forum pengajian saja, namun bisa juga melalui kegiatan-kegiatan positif lain seperti olahraga, kita bisa sisipkan materi dakwah di dalamnya. Kita juga bisa memanfaatkan media sosial, kemampuan menggambar animasi, video kreatif dan sejenisnya, untuk mengkampanyekan kebaikan, sehingga semakin banyak dan semakin cepat pula orang lain memperoleh inspirasi kebaikan darinya.

Kedua, umat terbaik itu memiliki ciri mencegah terjadinya keburukan. Sebelum keburukan terjadi, seorang muslim mengantisipasinya agar tidak terjadi. Termasuk mencegah keburukan yang mungkin terjadi dari ucapan dan perbuatannya. Oleh karena itu, seorang muslim yang sejati tidak akan sembarang mengirimkan informasi yang tidak jelas kebenarannya. Kenapa? Karena perbuatan seperti itu sangat mungkin menimbulkan keburukan di tengah masyarakat. Kebohongan dan fitnah yang dibiarka merebak di tengah masyarakat bisa memicu timbulnya rasa saling curiga, saling tidak percaya hingga konflik sosial. Semoga Allah Swt. melindungi kita.

Saudaraku, jika di zaman dahulu informasi yang masuk kepada kita itu sudah melalui proses filter yang cukup ketat, maka berbeda dengan zaman now ini. Di zaman now, informasi begitu deras datang langsung di tangan kita, sampai-sampai kita tidak sempat menimbangnya apakah informasi itu benar atau salah, karena saking derasnya informasi. Oleh karenanya, proses filter informasi itu ada di tangan kita sendiri.

Untuk mencegah keburukan kita perlu memiliki kemampuan dan kemauan memfilter berita yang datang. Jangan sampai kita menerima begitu saja sebuah berita kemudian menyebarkannya sebelum memastikan bahwa berita tersebut benar. Bagaimana cara memastikannya? Ya dengan mencari berita pembanding, lihat kredibelitas kantor beritanya, kemudian jika sudah dipastikan benar, pertimbangkan juga apakah baik jika berita tersebut kita sebarkan.

Di dalam tubuh kita ini ada tiga unsur yang penting kita jaga. Pertama, unsur akal. Kedua, unsur badan. Ketiga, unsur hati. Ketiga unsur ini harus kita rawat sebagai wujud rasa syukur kepada Allah Swt.

Bagaimana cara merawatnya? Akal kita rawat dengan rajin membaca, rajin belajar tanpa mengenal usia. Dengan rajin membaca maka akal kita akan terus terlatih, akan terus aktif. Semakin rajin membaca, semakin banyak ilmu yang kita serap, kemudian ilmu tersebut akan terpancar juga dari diri kita. Akal yang sehat adalah akal yang rajin disuplay dengan ilmu pengetahuan. Nah, inilah akal yang mampu menghadapi segala tantangan kehidupan di zaman sekarang. Inilah akal yang mampu memfilter informasi yang berseliweran di sekeliling kita.

Kemudian, merawat unsur badan adalah dengan cara mengkonsumsi makanan dan minuman yang halal dan thayyib. Di samping itu, kesehatan badan juga didukung dengan olahraga yang teratur. Kesehatan badan menjadi penting karena akal yang sehat hadir karena ditopang badan yang juga sehat.

Adapun kesehatan hati dirawat dengan mendawamkan dzikir kepada Allah Swt. Dzikir adalah makanan bagi hati. Allah Swt. berfirman, “Hai orang-orang yang beriman, berdzikirlah (dengan menyebut nama) Allah, dzikir yang sebanyak-banyaknya.” (QS. Al Ahzab [33] : 41)

Imam Ibnu Qayyim ra. menerangkan bahwa dzikir ibarat makanan bergizi bagi tubuh dan ruh. Anda dapat bayangkan, badan saja bisa menjadi lemah jika tidak mendapat asupan makanan bergizi, maka demikian juga dengan hati kita jika tidak mendapat asupan makanan bergizi yaitu dzikir.

Hati yang mendapat asupan makanan bergizi maka ia akan sehat, kuat menghadapi berbagai penyakir hati seperti iri, dengki, sombong, pesimis dan putus asa. Ia akan kuat menepis bisikan-bisikan syaitan yang selalu berupaya menyeret kita pada keterpurukan.

Saudaraku, menjadi muslim yang tangguh jalannya adalah dengan menjaga ketiga unsur ini, akal, badan dan hati. Jika ketiga unsur ini terjaga kesehatannya maka kita akan menjadi muslim yang tangguh yang mampu menghadapi tantangan kehidupan zaman now dan mewujudkan kita sebagai khairu ummah di tengah kehidupan masyarakat dunia. Umat yang menjadi rahmat bagi seluruh alam. Wallaahua’lambishawab.[]

 

*Disarikan dari https://www.youtube.com/watch?v=P9ROVOg0up0

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

four × 5 =

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.